Hutan mangrove merupakan  sebutan untuk sekelompok  tumbuhan   hidup pada habitat yang dipengaruhi oleh kondisi pasang surut.  Fungsi dan manfaat mangrove bagi kehidupan manusia khususnya bagi masyarakat sekitar pesisir sangat besar diantaranya adalah sebagai pelindung dari terjangan angin  dan gelombang, penstabil garis pantai, dan mendukung kegiatan perikanan (Lewis III, 2005).  Luas hutan mangrove di dunia sekitar 16,5 juta -18,1 juta ha.  Hutan mangrove yang ada di Indonesia sekitar 2,5 juta – 4,25 juta ha (merupakan kawasan hutan mangrove  terluas di dunia) dan luas hutan mangrove di Kalimantan Selatan sekitar 116,824 ha.  

Hutan mangrove di beberapa negara  banyak mengalami  degradasi  untuk peruntukkan lainnya.  Begitu juga yang terjadi  di Indonesia.   Konversi hutan mangrove di Kalimantan Selatan banyak dijadikan lahan tambak, pemukiman, pelabuhan dan peruntukkan lainnya.  Berdasarkan data hasil interprestasi citra satelit 2006 dalam  BPDAS Barito  (2006)  kondisi hutan mangrove yang rusak sudah mencapai 90% lebih.   Kegiatan restorasi/rehabilitasi  hutan mangrove merupakan kegiatan yang penting untuk dilakukan.  

Sudah banyak kegiatan rehabilitasi  dan ujicoba penanaman yang dilakukan di Kalimantan Selatan.  Begitu juga yang dilakukan oleh Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru.   Namun kegiatan rehabilitasi yang dilakukan belum banyak memberikan  hasil yang menggembirakan (daya hidup masih di bawah 50%).    Kegiatan penanaman pada pinggir pantai banyak mengalami kendala atau hambatan diantaranya kondisi gelombang pasang yang tidak mendukung pertumbuhan mangrove.   Kegiatan penanaman pada dataran lumpur pinggir pantai  harus dikaji ulang.     Hutan mangrove merupakan hutan yang unik dan khas.  Masing-masing jenis mempunyai kekhasan tempat tumbuhnya.  Contohnya Rhizophora mucronata  pertumbuhannya dipengaruhi oleh pasokan air tawar.   Berdasarkan ujicoba penanaman yang dilakukan oleh Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru tahun 2007 di desa Sungai Bakau Kurau Kabupaten Tanah Laut,  R.mucronata  yang ditanam di pinggir  sungai  pertumbuhannya di atas 90%. 

Kegiatan rehabilitasi  hutan mangrove sebenarnya tidak harus  selalu dilakukan dengan kegiatan penanaman.  Sebab setiap tahunnya hutan mangrove  menghasilkan buah yang berlimpah untuk setiap pohonnya.  Berdasarkan kegiatan survey yang pernah dilakukan oleh BPK Banjarbaru bersama tim dari KSDA (2006), pada kawasan cagar alam di Selat Sebuku    banyak ditemukan anakan alam pada sekitar tambak yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya.  Buah/biji tersebut  tidak masuk pada lahan-lahan tambak dikarenakan terhalang oleh tanggul-tanggul yang dibuat untuk tambak.  Kegiatan restorasi dapat dilakukan dengan membuat prakondisi  agar biji/buah mangrove dapat tumbuh secara alami pada lahan tambak dengan  cara membuat disain program restorasi hidrologi, yang  memungkinkan pertumbuhan mangrove secara alami (Mangrove Action Project, 2006).  

Dalam kegiatan restorasi mangrove peran  masyarakat sekitar  perlu dilibatkan,  mulai dari awal kegiatan rehabilitasi sampai kegiatan pemeliharaan.  Masyarakat sekitar hutan banyak  mendapatkan manfaat langsung dari keberadaan mangrove.  Oleh karena itu pelibatan masyarakat dalam restorasi mangrove menjadi poin penting sehingga keberhasilan kegiatan dapat tercapai.  Mari kita jaga hutan mangrove dengan cara menghentikan konversi hutan mangrove untuk kehidupan yang lebih baik.

 

Written by :