Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Banjarbaru merupakan salah satu institusi riset yang memiliki tugas pokok dan fungsi melakukan penelitian di bidang kehutanan di bawah naungan Badan Litbang Kehutanan. Pada awal pembentukannya tahun 1983, institusi ini telah dijadikan sebagai perakit dan pelaksana ujicoba teknik reboisasi dan rehabilitasi hutan sebagai bahan pengembangan proyek reboisasi dalam skala luas di wilayah Kalimantan melalui Keputusan Menteri Kehutanan nomor 099/Kpts-II/1984. Pada saat itu, BPK masih berfungsi sebagai unit pelaksana teknis (UPT) Dirjen Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan (Dirjen RRL) dengan nama Balai Teknologi Reboisasi (BTR) Banjarbaru. Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor 169/Kpts-II/1991 tahun 1991 telah mengalihkan BTR menjadi UPT Badan Litbang Kehutanan. Sebagai hasil penyempurnaan organisasi, melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 6185/Kpts-II/2002, BTR berganti nama menjadi Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur (BP2HTIBT). Selanjutnya  setelah terjadi reorganisasi di tingkat Badan Litbang Kehutanan pada tahun 2006, melalui Peraturan Menteri Kehutanan nomor : P.33/Menhut-II/2006, BP2HTIBT berubah nama menjadi Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Banjarbaru.

Penelitian yang dilakukan BPK Banjarbaru meliputi seluruh tipe hutan termasuk tipe hutan rawa gambut.  Penelitian pada ekosistem ini sangat penting karena besarnya potensi hutan rawa gambut tropis yang dimiliki Indonesia, peranan hutan rawa gambut dalam perubahan iklim dan isu kerusakan hutan rawa gambut tropis yang terjadi di Indonesia, khususnya di Kalimantan Tengah. Tulisan ini mencoba untuk memaparkan perjalanan penelitian pada ekosistem hutan rawa gambut dalam perjalanan Balai ini selama 30 tahun.  Diharapkan tulisan ini berkontribusi dalam iptek rehabilitasi hutan rawa gambut terdegradasi.

Pemanfaatan hutan dan lahan rawa gambut secara tidak bijaksana akan membentuk tipe-tipe lahan yang berbeda.  Tipe-tipe tersebut  secara umum terdiri dari  areal bekas tebangan (logged-over area), areal belukar rawa gambut, areal pakis-pakisan.  Pengelompokan tersebut menjadi lebih spesifik dengan terjadinya kebakaran hutan dan lahan dimana terdapat areal yang tidak terbakar, terbakar satu kali, dan terbakar beberapa kali.  Areal bekas tebangan yaitu areal bekas tebangan baik perusahaan maupun masyarakat, pada areal ini masih ditemukan vegetasi pada berbagai tingkat pertumbuhan (semai, sapling, tiang dan pohon).  Areal belukar rawa gambut, yaitu areal yang didominasi belukar dengan tinggi rata-rata 4-6 meter.  Umumnya areal ini tidak memiliki tingkat pertumbuhan vegetasi yang lengkap.  Areal pakis-pakisan, yaitu areal yang didominasi pakis-pakisan dan sudah tidak terdapat lagi vegetasi berkayu.  Pengelompokan tipe lahan tersebut merupakan salah satu bagian dari kajian pendahuluan yang dilakukan Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru dalam rangka menentukan strategi pengelolaan pada hutan dan lahan rawa gambut terdegradasi.

 

Hutan rawa gambut terdegradasi di Kalimantan Tengah memiliki ciri khas tersendiri disebabkan adanya kerusakan yang fenomenal akibat kegagalan Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektar pada tahun 1990-an. Artinya, akibat dari proyek ini, kondisi ekologis hutan rawa gambut juga berubah drastis karena pembuatan drainase berupa kanal-kanal. Hal ini menyebabkan perubahan kondisi muka air tanah menjadi sangat fluktuatif yaitu banjir di musim penghujan dan kering di musim kemarau sehingga rawan akan kebakaran. Hal ini diperparah dengan kebakaran yang berulang di musim kemarau sehingga kondisi ekologis hutan rawa gambut sulit untuk dipulihkan. Pada kondisi seperti ini, regenerasi secara alami sulit untuk dilakukan sedangkan teknologi penanaman belum dikuasai sepenuhnya. Lahan rawa gambut yang terdegradasi secara fisik (penyusutan dan sifat kering tidak balik) dan kimia (tingkat kemasaman yang tinggi dan miskin hara ) mengalami perubahan yang dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit di lapangan. 

 

Untuk menjawab berbagai permasalahan di atas, BPK Banjarbaru telah melakukan berbagai penelitian yang meliputi beberapa aspek, yaitu: karakteristik jenis hutan rawa gambut (teknik propagasi, kondisi lingkungan pertumbuhan dan fenologi), uji jenis pada hutan rawa gambut terdegradasi untuk mendapatkan jenis yang potensial, dan penelitian untuk meningkatkan produktivitas tanaman (teknik persiapan lahan, pemupukan, pemanfaatan bioagen dan pemeliharaan tanaman).  Selain itu juga dilakukan beberapa penelitian lainnya seperti biometrika hutan, perhitungan karbon dan makrofauna tanah.