Banjarbaru (Banjarbaru, 20012015)  Kolaborasi antara pemerintah dengan masyarakat sekitar hutan terutama dengan petani ladang dan penangkap ikan berpotensi menurunkan frekuensi terjadinya kebakaran.  Ini adalah bentuk strategi yang cukup efektif dalam mengendalikan kebakaran hutan rawa gambut. Demikian disampaikan Acep Akbar, Sumardi, Ris Hadi Purwanto dan M. Sambas Sabarnurdin  dalam Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 8 No.5 Desember 2011 hal :287-300.

 

Kebakaran hutan selama ini telah menjadi permasalahan rutin yang dihadapi setiap tahun. Upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah belum mampu mengendalikan kebakaran pada hutan rawa gambut secara maksimal.

 

Salah satu kunci utama dalam meningkatkan keberhasilan pencegahan kebakaran adalah pengetahuan yang cukup tentang sumber api papar Suratmo seperti yang dikutip oleh Akbar dalam jurnal penelitiannya. Pengetahuan sumber api mempunyai kaitan yang erat dengan kondisi dan persepsi masyarakat yang menggunakan api untuk pembukaan lahan.

 

“Pengetahuan tersebut berguna untuk mengarahkan pembinaan pencegahan kebakaran yang dilakukan oleh pemerintah sehingga tepat sasaran,” papar Akbar. Lebih lanjut, Akbar memaparkan bahwa respon masyarakat terhadap jenis-jenis inovasi pencegahan kebakaran yang diterapkan perlu digali agar tercipta peluang kolaborasi antara pihak pemerintah atau pengelola dengan masyarakat target sehingga proses peningkatan kesadaran, kesiagaan dan difusi inovasi dapat berjalan secara cepat.

 

Penggalian informasi sumber penyebab terjadinya kebakaran dan pengendalian kebakaran berkolaborasi dengan pengetahuan dan pendapat masyarakat dilakukan Akbar melalui penelitiannya yang berlokasi di daerah hutan Konservasi Mawas, Kalimantan Tengah.  Desa-desa yang dijadikan sebagai lokasi penelitian adalah Mantangai Hilir, Katunjung, Lawang Kajang, Madara, dan  Batampang yang banyak dihuni oleh penduduk dari suku Dayak Ngaju, Dayak Kapuas, Ma’anyan, dan Bakumpay.

 

Ternyata, sumber api yang bersifat rutin di daerah kawasan hutan rawa gambut Mawas berasal dari petani ladang dan penangkap ikan, sedangkan pengguna api lain yang bersifat bersifat tidak rutin yaitu petani rotan, pencari rotan, pencari kulit gemor, dan pencari madu, pengayu, penambang emas, dan pengrajin perahu klotok. “Sumber-sumber api utama lahan di masyarakat yang tertinggi adalah bersumber dari kegiatan petani  ladang dan penangkap ikan,” papar Akbar.

 

Masyarakat sekitar hutan memiliki peran yang sangat sangat penting dalam pengelolaan kebakaran karena selain mereka dapat berperan sebagai penyebab juga dapat berperan sebagai pencegah dan pemadam api awal sebelum api besar, demikian disampaikan Marbyanto seperti dikutip Akbar dalam jurnal penelitiannya.

 

Beberapa kegiatan pencegahan kebakaran dari pemerintah yang mendapat respon positif dari masyarakat antara lain  melalui pola pendidikan dan penerapan rekayasa teknologi pencegahan kebakaran berupa peringatan dini dan bantuan alat pemadam sederhana (kisaran jumlah responden 42 – 48 orang per desa). “Regu Pengendali Kebakaran (RPK) yang telah terbentuk di desa telah diakui keberadaannya oleh sebagian besar masyarakat sehingga jika difungsikan sebagai lembaga kontrol kebakaran di tingkat desa tingkat keberhasilannya cukup tinggi,” papar Akbar.

 

Aktivitas pencegahan kebakaran jika dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah dengan masyarakat sekitar hutan terutama dengan petani ladang dan penangkap ikan berpotensi menurunkan frekuensi terjadinya kebakaran. Dengan adanya informasi ini, diharapkan kebakaran hutan rawa gambut yang sering menjadi “momok” pada musim kemarau  akan berkurang, bahkan menghilang. (JND)***.

 

Hubungi lebih lanjut :

Acep Akbar

Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Banjarbaru

URL  : http:// foreibanjarbaru.or.id

Jl.  A. Yani  km. 28,7 Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Telp /Fax : (0511) 4707872 / (0511) 4707872

Written by :