Budidaya Ikan dalam Karamba dan Pengolahan  Produk Aloe vera, Program Pemberdayaan Masyarakat Favorit Desa Penyangga Taman Nasional Sebangau

 

Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desa penyangga Taman Nasional Sebangau (TNS), Balai Taman Nasional Sebangau (BTNS) maupaun LSM yang berkecimpung di TNS melaksanakan beberapa program pemberdayaan masyarakat. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Triwira Yuwati, ternyata program budidaya ikan dalam karamba disukai oleh sebagian masyarakat desa Baun Bango dan Tumbang Ronen, sedangkan pengolahan produk Aloe vera (lidah buaya) disukai oleh masyarakat desa Sebangau Permai. Demikian hasil penelitian Triwira yang diterbitkan dalam Majalah Galam, volume VII No. 2, Desember 2014.

Penelitian yang bertujuan untuk  mengetahui persepsi masyarakat desa penyangga terhadap program pemberdayaan masyarakat yang ada di desanya ini dilakukan dengan pendekatan studi kasus pada tiga penyangga TNS yaitu Desa Baun Bango dan Tumbang Ronen di Kecamatan Kamipang Kabupaten Katingan dan desa Sebangau Permai,  Kecamatan Sebangau Kuala Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.  Data primer diperoleh melalui pengisian kuisioner oleh beberapa responden  masyarakat ketiga desa tersebut.. Data sekunder diperoleh melalui pustaka, laporan tertulis dan dokumen-dokumen. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu memilih informan, wawancara, PRA, observasi dan studi dokumen. Metoda analisa data yang diadopsi yaitu deskriptif, eksplanasi, tabulasi data kualitatif, dan intepretasi. Jumlah responden yang diwawancara sebanyak 30 orang per desa.

Beberapa  pihak yang melaksanakan program pemberdayaan di desa penyangga tersebut  yaitu, WWF, Yayasan Cakrawala Indonesia (YCI), Pemda Katingan, BTNS, Dinas sosial Prop Kalteng, Dinas Perikanan Pemda Kab Katingan, Dinas Pertanian Prop Kalteng,  Dinas Kehutanan Kab Katingan dan BKSDA Kalteng. Program perbedayaan yang dilaksanakan sekitar 21 program  diantaranya pembuatan naget ikan, ikan kering dan abon, kerajinan tangan dari rotan, budidaya ikan dalam karamba, pembangunan demplot agroforestry, penanaman dan pengolahan produk Aloe vera, pendidikan lingkungan untuk anak-anak, pembagian benih padi, pembagian benih sapi dan lain sebagainya.

Persepsi masyarakat ketiga desa tersebut terhadap pemberdayaan masyarakat yang dilakukan dijelaskan oleh Triwira sebagai berikut.  Masyarakat desa Baun Bango menganggap pelatihan-pelatihan yang diberikan bermanfaat, terutama budidaya ikan. Akan tetapi belum ada pemerataan ke seluruh penduduk desa. Mayoritas masyarakat Tumbang Ronen yang berprofesi nelayan, menyatakan bahwa program pemberdayaan masyarakat khususnya budidaya ikan bermanfaat. Bahkan sudah ada kelompok tani nelayan yang panen dari hasil ikan karamba. Kesulitan ditemui dalam hal pemasarannya.  Sedangkan untuk masyarakat desa Sebangau, program yang dimininati tentang Aloe vera.  Mayoritas masyarakat desa Sebangau menyatakan bahwa program tersebut bermanfaat.

Lebih lanjut Triwira menyatakan bahwa menurut masyarakat desa Tumbang Ronen program pemberdayaan sudah tepat sasaran, sedangkan mayoritas masyarakat di kedua desa lainnya berpendapat sebaliknya. Hal ini dikarenakan, di desa Baun Bango dan Sebangau Permai,  masyarakat yang terlibat di program tersebut tidak terdistribusi merata. Kebanyakan peserta adalah saudara atau kerabat dekat kepala desa atau ketua forum. Sedangkan di desa Tumbang Ronen, seluruh kepala keluarga dibagi rata dalam kelompok-kelompok tani yang masing-masing ikut berpartisipasi dalam program pemberdayaan. Masyarakat di ketiga desa penyangga pada umumnya menginginkan adanya keberlanjutan dari program pemberdayaan yang telah dilaksankan di desa mereka. Menutup pembicaraan, Triwira menambahkan bahwa memanfaatkan potensi sumberdaya lokal adalah salah satu kunci sukses programpemberdayaan di TNS.

 

 

 

 

 

Written by :