Oleh : Safinah S. Hakim, S.Hut

gbDi dunia kehutanan, kata lahan gambut tentu bukan menjadi barang asing. Terlebih lagi, setiap tahun ada saja berita tentang kebakaran lahan gambut terutama di pulau sumatera dan Kalimantan. Gambut merupakan ekosistem yang unik, karena terbentuk dari bahan organik yang belum terurai sempurna sejak ribuan tahun yang lalu.
Secara ekologis, fungsi gambut tidak bisa diremehkan. Gambut sangat penting dalam pengatur tata air, cadangan karbon, serta menyimpan banyak keanekaragaman baik flora maupun faunanya. Sebagai contoh, di wilayah gambut Sumatra, terdapat 300 jenis tumbuhan yang berhasil diidentifikasi di lahan gambut. Selain itu, diketahui juga dari survey yang dilakukan di lahan gambut Taman Nasional Berbak, diketahui terdapat 160 jenis tumbuhan. Dalam hal keanekaragamn fauna, lahan gambut juga merupakan habitat bagi beberapa jenis fauna diantaranya buaya, labi-labi, biawak, beruang. Orangutan, kijang, pelanduk, kucing hutan, dan lain-lain.
Selain flora dan fauna, mikroba hutan di rawa gambut juga ditaksir banyak jumlahnya. Banyak peneliti memperkirakan, bahwa pada lahan gambut yang cenderung tergenang oleh air, peran dari jamur lebih dominan dibandingkan bakteri. Keberadaan fungi di lahan gambut ini dibuktikan dengan hasil-hasil penelitian. Data penelitian dengan studi kasus lahan gambut teluk meranti kab. Riau menunjukkan pada satu gram tanah gambut, jumlah funginya berkisar 0,4 x 10 – 1,0 x 10 koloni (CFU/ Colony Form Unit). Meskipun kelimpahan fungi di lahan gambut ini relatif besar, jenis fungi yang dipelajari secara khusus masih sangat sedikit.
BPK Banjarbaru sebagai institusi penelitian,, sudah lama meneliti kekayaan mikroorganisme di lahan gambut. Dari hasil eksplorasi yang dilakukan, tim peneliti BPK banjarbaru menemukan beberapa jenis jamur di lahan rawa gambut diantaranya Glomus clarum dan Gigaspora decipiens. Lebih lanjut, diketahui bahwa jenis jamur yang diambil dari lahan rawa gambut tersebut diketahui ternyata dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis tanaman. Uniknya sifat ekosistem lahan gambut ini, serta banyaknya wilayah yang belum dieksplor dan dipelajari tentu saja menjadikan penelitian tentang biodiversitas lahan gambut menjadi tantangan dan kesempatan yang tidak boleh dilewatkan.
Menjawab tantangan dan kesempatan tersebut, tahun 2015 ini, BPK Banjarbaru mencoba mengeksplor lebih dalam lagi tentang kekayaan mikroorganisme di lahan gambut melalui penelitian “Bioprospeksi Mikroba Hutan Rawa Gambut”. Penelitian ini dilakukan di KHDTK Tumbang Nusa, yang merupakan kawasan hutan penelitian dengan fokus penelitian di hutan rawa gambut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengungkap kekayaan gambut dari segi mikroorganisme yang terdapat di Indonesia, khususnya di Kalimantan tengah.  **(saf).

Written by :