DSC_7932BPK Banjarbaru (Banjarbaru 2/03/2016). “Aeroseeding tidak cocok untuk lahan rawa gambut,” ujar Dewi. Selain secara teknis keberhasilan rendah, kegiatan aeroseeding tidak efisien karena memerlukan biaya operasional yang besar.

Permasalahan rehabilitasi kerusakan hutan  rawa gambut merupakan prioritas yang  harus segera dilakukan, seiring dengan dampak yang ditimbulkan dari kebakaran tahun 2015 kemarin.  Sayangnya, praktik rehabilitasi lahan rawa gambut dengan penanaman  terkadang tidak dapat dilakukan secara konvensional, karena kondisi lahan yang susah dijangkau (remote area). Salah satu alternatif yang dilakukan  untuk merehabilitasi lahan dengan kondisi medan yang sulit dijangkau adalah dengan metode aeroseeding. Aeroseeding merupakan metode penaburan benih yang  dikemas bersama media berbentuk bola-bola dan ditabur dari udara menggunakan pesawat udara. Penaburan benih dari udara (Aeroseeding) sudah lama dikembangkan di Amerika sejak 1987, sedangkan untuk di lahan gambut di Indonesia telah dicoba di hutan kota Palangkaraya tahun 2011.

Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru telah melakukan ujicoba di persemaian terhadap media pembungkus benih (seedball) aerosseding. Media yang digunakan yaitu campuran media gambut, tanah liat, talk powder dengan kompos dengan perbandingan masing-masing 1:1. Diameter seedball masing-masing adalah 1 cm, 2 cm dan 3 cm.  Pencampuran dengan kompos bertujuan untuk  memberikan kebutuhan nutrisi benih berkecambah dan memberikan kondisi yang mendukung perkecambahan. Jenis yang diuji adalah benih Pulai rawa (Alstonia penumatophora) dan Randu (Ceiba petandra).Hasil percobaan formula pembungkus benih dan diameter seed ball  menunjukkan bahwa media campuran  tanah liat dan kompos dan diameter seedball 1 cm menunjukkan hasil daya kecambah hanya 6% dan kecepatan berkecambah 10 hari.

“Semakin lebar diameter seedball, daya kecambah semakin berkurang dan kecepatan berkecambah juga semakin menurun”, kata Dewi Alimah, peneliti aerooseeding di BPK Banjarbaru.

Pada jenis Randu, daya kecambah tertinggi hanya 38% dengan waktu kecambah 10 hari.  “ Benih–benih sulit berkecambah,  pada sebagian yang berkecambah tidak mampu menembus seedball, hipokotil dan kotiledon tidak dapat berkembang,” ungkap Dewi.

Untuk mengkonfirmasi, ujicoba lapangan di areal rawa gambut  di desa Tumbang Nusa, Kalimatan Tengah. Benih yang digunakan dalam aeoroseeding adalah jenis Randu (Ceiba petandra), Jelutung (Dyrea polyphylla), Geronggang (Cratoxylon sp),dan Tanah-tanah (Combretocarpus rotundatus).Evaluasi yang kami lakukan, tidak terdapat benih yang tumbuh setelah dilakukan ditabur di lapangan.Kondisi lingkungan tidak mendukung pertumbuhan benih. Benih di lapangan dalam kondisi terendam air dan dimakan hama, meski media pembungkus sudah dicampur dengan insektisida. Ketika bola-bola benih aeroseeding dilempar dari udara, media pembungkus bola pecah. Demikian disampaikan Dewi Alimah.(Pbs)

Written by :