Salah satu target sasaran dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional untuk lima tahun ke depan yaitu meningkatnya kayu bulat dari hutan tanaman menjadi 160 juta m 3 . Terkait sasaran tersebut, implementasi pembangunan hutan tanaman di wilayah KPHP pada areal yang tidak produktif, merupakan rencana strategis untuk meningkatkan daya saing dan produk kayu sektor kehutanan. Untuk merealisasikan hal tersebut maka dilakukan rapat dan diskusi teknis serta konsep kegiatan kerjasama antar Dirjen BUK dan Badan Litbang. Hasil dari rapat tersebut dituangkan dalam Nota Kesepahaman antara Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan (Badan Litbang Kehutanan) dengan Direktorat Jenderal Bina Usaha Hutan (Dirjen BUK) tentang Implementasi IPTEK Tanaman Unggulan Hasil Litbang untuk Pembangunan Hutan Tanaman pada Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Nomor NK.2/VIII-SET/2015 dan NK.1/VI-BUHT/2015 tanggal 6 Februari 2015.

Menindaklanjuti Nota Kesepahaman ini, Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi Wilayah XI Banjarbaru menggandeng Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru bekerjasama membangun demplot hutan tanaman sengon (Paraserienthes moluccana) di wilayah KPHP Tanah Laut. Pelaksana kegiatan kerjasama ini diketuai oleh Rusmana, S.Hut, salah satu peneliti BP2LHK Banjarbaru.

“Sengon di Kalimantan Selatan sejak dua tahun terakhir ini mulai banyak diminati masyarakat” Kata Rusmana. Kegunaannya untuk kayu pertukangan pasar domestik dan pasokan industri kehutanan seperti kayu lapis. Dengan pertimbangan itulah maka pembangunan hutan tanaman dengan jenis cepat tumbuh seperti sengon dikembangkan di kawasan KHPH maupun pada lahan kosong atau lahan yang tidak produktif.

“Implementasi hasil-hasil penelitan silvikultur dan pengelolaan hutan tanaman dalam bentuk demontrasi plot (demplot) merupakan salah satu upaya untuk mendukug pembangunan hutan tanaman dalam skema KPH” jelas Rusmana. Demplot tersebut nantinya menjadi model untuk dikembangkan lebih lanjut dengan konsep hasil hutan kayu.

Rusmana dan tim memulai kegiatan pembangunan demplot ini pada bulan Juni. Survey lokasi dilakukan bersama dengan tim dari BP2HP dan KHPH Tanah Laut. Berdasarkan hasil survey maka ditetapkanlah lokasi demplot hutan tanaman yaitu di Lok Bungur atau sekitar Sungai Kematian, Desa
Damit Hulu, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Tanah Laut.

Produksi bibit menggunakan empat sumber benih sengon, yaitu provenan Solomon (F1), Morotai, Sumedang dan Wamena. Produksi bibit dilakukan di persemaian ex ATA 276 Banjarbaru. Persiapan lahan sebagian dilakukan dengan dozer, sebagian lagi dilakukan secara manual dengan cara tebas, tebang dan bakar. Total luas demplot yang dibangun 22, 6 ha.

Sengon ditaman secara monokultur dan tumpang sari. Bersamaan dengan pembangunan demplot dibangun juga plot pengamatan uji provenan dengan desain rancangan acak kelompok (6 blok @ 10 tanaman). Plot ini sebagai plot ukur permanen untuk setiap provenan dalam skala eksperimen dengan tujuan untuk mengtehaui provenan bibit yang cocok untuk dikembangkan pada kondisi iklim di wilayah KPHP Tanah laut.

“Pemeliharaan tanaman perlu dilakukan secara rutin setiap tahun sampai tanaman masak tebang” jelas Rusmana. Untuk pemeliharaan tahun berjalan (tahun pertama) meliputi beberapa tahapan kegiatan yaitu penyulaman tanaman setelah tanaman berumur 2- 4 minggu, dan pemberantasan gulma dengan herbisida dengan dosis 5-6 liter/hektar dan dengan konsentrasi sekitar 10-15 cc/liter air.

Untuk pengendalian kebakaran di musim kemarau, telah dilakukan pembuatan sekat bakar berupa jalur kuning dan jalur hijau alami.

“Keberhasilan pembangunan hutan tanaman dalam kawasan hutan produksi memerlukan kerjasama dengan masyarakat sekitar dan pengawasan intensif terhadap aktivitas penebangan pohon tanpa ijin, karena cukup terbukanya lokasi demplot.” Jelas Rusmana, seraya menutup pembicaraan.

Written by :