Loksado merupakan suatu kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang masuk dalam kawasan Kesatuan Pengusahaan Hutan Lindung (KPHP) Model Hulu Sungai Selatan (HSS).  Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ir. Dian Lazuardi, M.Si dan tim di kampung-kampung adat Dayak Loksado masih ditemukan kearifan lokal dalam hal pengelolaan lahan. Salah satunya yaitu system perladangan gilir balik.,
“Sistem ini adalah sebuah sistem perladangan yang menggunakan pola gilir balik dalam pemilihan lokasi ladang” kata Dian menjelaskan arti dari perladangan gilir balik.  Petani berladang di suatu lokasi selama satu musim, selanjutnya meninggalkan lahan tersebut minimal selama 7 tahun. “Selama lahan tersebut ditinggalkan, atau yang biasa disebut masa “bera”, petani berladang di tempat yang lain” lanjut Dian. Lahan untuk perladangan yang digunakan petani biasanya merupakan ladang warisan leluhur mereka. Petani  ladang gilir  pada umumnya memiliki 7 sampai 10 lokasi lahan perladangan. “Pada system ini petani hanya membuka hutan yang merupakan bekas pehumaan yang mereka tinggalkan sekitar 7 tahun yang lalu” tandas Dian
Petani melakukan kegiatan bahuma melalui tahapan-tahapan yang teratur dan terencana. Setiap tahapan dilakukan melalui ritual-ritual keagamaan untuk kemudahan dan keberhasilan dalam kegiatan behuma mereka. “ Batanung, Batabas/Manabas, Batabang, Manyalukut, Mamanduk,  Menugal/bemata umang, mamanduk, Marumput, Aruh Basambu, Manyambut, 1 Maampatungi banih/maambil banih, dan  Mangatam/memanen merupakan tahapan-tahapan dalam peladangan gilir balik “ ungkap  Dian.

Ucapan syukur atas kegiatan behuma dilakukan dalam sebuah acara aruh.   Pesta Aruh Ganal disebut juga Bawanang Banih Halin atau upacara Mahanyari Banih Barat, dilakukan sesudah panen, sekitar  Juli dan Agustus  “Upacara tersebut dilaksanakan karena mendapat hasil panen padi yang banyak dan selama bahuma tidak mendapat musibah” jelas Dian. Aruh Ganal diadakan setahun sekali di dalam Balai Adat. Tetapi jika berdasarkan musyawarah adat  hasil panen penduduk dianggap kurang memuaskan (sedikit), maka Aruh Ganal ditiadakan pada tahun itu. Aruh Ganal diadakan  bervariasi selama bisa lima sampai dua belas hari, tergantung pada banyak tidaknya hasil panen masyarakat.

Penelitian yang dilakukan oleh Dian Lazuardi  dan tim ini merupakan salah satu aspek dari kegiatan penelitian yang berjudul Pengelolaan dan Pengusahaan Berbasis Ekosistem (Studi Kasus di Hulu Sungai Selatan). Tujuan akhir dari kegiatan penelitian tersebut yaitu memberikan alternatif-alternatif pengelolaan dan pengusahaan KPHL berbasis jasa lingkungan dengan tetap mempertahankan keanekaragaman hayati dan kearifan lokal yang ada. Penelitian tentang kearifan local masyarat dayak Loksado yang dilakukan di tahun 2015 ini  menggunakan metode wawancara dan survey untuk mendapatkan data-data dan informasi. Data tersebut, baik primer maupun sekunder, digunakan sebagai bahan atau dasar melakukan identifikasi, mengkaji, menganalisis kearifan lokal masyarakat di KPHL HSS

Written by :