Hutan Untuk Ketahanan Pangan

 Oleh:

Marinus Kristiadi Harun, S.Hut., M.Si.

Peneliti Muda Pada Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru

E-mail: marinuskh@yahoo.co.id atau mkristiadih@Gmail.com

 

 

Pendahuluan

 Krisis pangan telah menjadi kekuatiran banyak pihak saat ini. Kemarau panjang dan banjir telah menyebabkan kegagalan panen di beberapa tempat. Langkah darurat jangka pendek untuk mencegah kelaparan dan langkah jangka panjang untuk meningkatkan produksi bahan pangan perlu segera dilakukan. Krisis pangan yang terjadi saat ini memerlukan adanya solusi. Tulisan ini bermaksud untuk membahas mengenai krisis pangan dan solusinya.

 

Penyebab Krisis Pangan dan Solusinya

Krisis ekonomi yang terjadi bersamaan dengan penurunan produksi pangan akibat dari perubahan iklim, telah menyebabkan terbatasnya ketersediaan bahan pangan yang disertai dengan melemahnya daya beli masyarakat. Hal ini semakin diperburuk oleh semakin menurunnya minat petani untuk membudidayakan tanaman pangan (khususnya padi), akibat meningkatnya harga input (pupuk, bibit, dll.). Hal tersebut jika dibiarkan saja dapat memperlemah sistem ketahanan pangan.

Ketahanan pangan sangat perlu untuk diwujudkan, sebab hal ini berkaitan dengan kemampuan untuk memenuhi kecukupan pangan masyarakat dari waktu ke waktu baik dari kuantitas maupun kualitas. Hal ini dilakukan dengan cara memproduksi sendiri maupun mengimpor. Terwujudnya sistem ketahanan pangan akan tercermin dari ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup dan harga yang terjangkau oleh daya beli masyarakat, serta adanya diversifikasi pangan baik dari sisi produksi maupun dari sisi konsumsi. Oleh karena itu, pembangunan di bidang pangan diarahkan pada peningkatan swasembada pangan, yang tidak hanya berorientasi pada beras, namun  juga jenis-jenis komoditas strategis lainnya, misalnya palawija, sebagai bahan pangan utama (Suhardi et.al 2002).

 

Peningkatan swasembada pangan, yang tidak hanya berorientasi pada beras perlu untuk dilakukan. Pengembangan bahan pangan alternatif selain beras akan mendorong pemanfaatan lahan-lahan tidur dan optimalisasi pemanfaatan lahan. Selama ini kita kurang menyadari bahwa di bawah keteduhan hutan dan kebun tersembunyi potensi sumber pangan yang melimpah, sebagai pengganti beras, dengan nilai gizi yang sepadan. Hal ini seperti diungkapkan oleh Kuswiyati et.al 1999 yang mengatakan bahwa hutan Indonesia seluas 143 juta hektar di dalamnya terkandung 77 jenis bahan pangan sumber karbohidrat, 26 jenis kacang-kacangan, 75 jenis minyak dan lemak, 389 jenis biji-bijian dan buah-buahan, 228 jenis sayur-sayuran, 110 jenis rempah-rempah dan bumbu-bumbuan, 40 jenis bahan minuman dan 1.260 jenis tanaman obat.

Berdasarkan potensi tersebut di atas, maka perlu dilakukan usaha peningkatan produksi pangan inkonvensional (di luar lahan budidaya tanaman pertanian) yang lebih luas, dengan cara memanfaatkan lahan hutan dan kebun. Lahan hutan dan kebun mampu menyumbang kebutuhan pangan nasional dengan jumlah yang sangat besar, sehingga dapat mengatasi krisis pangan. Selain itu, juga bisa untuk mengganti kebutuhan impor gandum, beras, gula dan bahkan dapat mengekspor pangan yang berasal dari potensi lahan hutan dan kebun. Dengan dikembangkannya tanaman pangan pada lahan hutan dan kebun tanpa mengubah fungsi utama lahan tersebut, maka diharapkan lapangan kerja di sektor tanaman pangan akan terbuka, sehingga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan petani di sekitar hutan dan kebun.

Sumber karbohidrat pengganti beras dari dalam lahan hutan dapat dibagi secara berlapis-lapis dari dalam tanah sampai ke atas tanah. Orang Jawa sering menyebutnya sebagai pala kependhem, jika buahnya terdapat di dalam tanah, seperti: ketela pohon (Manihot utilissima), garut/arairut (Maranta arundinaceae), ganyong/lembong (Canna edulis), ubi jalar (Ipomoea batatas), kacang tanah (Arachis hypogea), kedelai (Glycine max), talas (Colocasia esculenta), ubi gembili (Dioscorea aculcata), suweg (Amorphophallus campanulatus), gadung (Dioscorea hispida), huwi sawu (Dioscorea alata), kimpul (Hanthosoma violaceum), kentang (Solanum tuberosum), kentang jawa (Soleus tuberosum), dan pala gembandhul, jika buahnya terdapat di atas tanah, seperti: sukun (Artocarpus communis), jagung (Zea mays), nenas (Ananas comosus), pisang (Musa paradisiaca), melinjo (Gnetum gnemon), nangka (Artocarpus integra), cempedak (Artocarpus champeden), avokad (Persea gratissima), sagu (Metroxylon sp.), rambutan (Nephelium lapnaceum), durian (Durio zibethinus), cantel/sorghum (Syricum granum).

Potensi pangan dari dalam hutan dan kebun dapat dihasilkan tidak saja pada awal musim tanam (tumpangsari), tetapi dapat selama daur karena banyak tanaman pangan yang mampu hidup di bawah naungan dengan hasil yang tinggi. Hal ini seperti dikemukakan oleh Suhardi et.al 2002 yang mengatakan bahwa tanaman ketela pohon yang ditanam di lahan hutan mampu berproduksi sebesar 30–60 ton/ha. Pada tegakan tanaman kehutanan atau perkebunan yang sudah dewasa, tanaman penghasil karbohidrat masih dapat ditanam, diantaranya yaitu: ganyong dan garut. Kedua komoditi ini memiliki manfaat yang besar dalam industri farmasi dan memiliki fungsi kesehatan. Menurut data dari Binhut Perum Perhutani (1999) ganyong yang ditanam di bawah tegakan jati mampu berproduksi 30 ton/ha, sehingga mampu menghasilkan 15.744.000 ton/tahun dan garut mencapai 19.320.000 ton/tahun. Produksi sebesar itu diperoleh dengan menggunakan hanya 25% dari seluruh luas kawasan produksi, dan areal tersebut sampai sekarang belum dimanfaatkan.

 

Potensi Lahan Hutan dan Kebun sebagai Sumber Pangan     

Data dari Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) menyatakan bahwa luas areal hutan produksi yang dapat dikonversi di seluruh Indonesia mencapai 30.718.000 ha (Suhardi et.al 2002), jika 10% dari luasan tersebut dimanfaatkan, maka terdapat 3.071.800 ha lahan yang dapat digunakan untuk menanam berbagai jenis tanaman pangan. Areal hutan tanaman industri (HTI) dapat ditanami dengan berbagai jenis tanaman pangan. Hal ini seperti yang telah dilakukan oleh PT. Inhutani V Cabang Kotabumi, yang telah menanam ketela pohon di antara larikan pohon jati, mahoni dan sungkai, seluas 10.000 ha. Hasil produksi ketela tersebut dapat mencapai 300.000–600.000 ton/tahun (Suhardi et.al 2002). Bahkan penanaman tanaman pangan pada areal HTI mampu menekan biaya penanaman tanaman pohon. Tanpa penanaman ketela pohon, biaya penanaman tanaman kehutanan mencapai Rp 2.000.000,00/ha, sedangkan dengan penanaman ketela pohon, biaya penanaman tanaman kehutanan hanya sebesar Rp 400.000,00/ha. Lahan hutan rakyat (hutan milik) yang dapat ditanami diperkirakan seluas 42.965.521,83 ha. Diperkirakan, jika kemampuan berproduksi pala kependhem 10 ton/ha, maka akan dihasilkan sebanyak 429.655.218 ton/tahun (Suhardi et.al 2002).

Areal perkebunan (meliputi perkebunan rakyat, perkebunan besar negara dan perkebunan swasta) mencapai luasan 14.239.207 ha. Andaikan 10% dari total luas tersebut ditanami komoditas bahan pangan dengan produktivitas sebesar misalnya 10 ton/ha, maka setiap tahun akan dihasilkan bahan pangan sebanyak 14.239.207 ton (Suhardi et.al 2002).

 

Penutup

Pemanfaatan lahan hutan dan kebun haruslah dioptimalkan dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan yang beranekaragam jenis yang disesuaikan dengan jumlah dan mutunya. Oleh karena itu, hutan dan kebun sebagai sumber pangan harus diolah agar dapat menghasilkan pangan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi, baik pada waktu produksi maupun pada masa pasca panennya sehingga hasil pangan yang diperoleh dari hutan dan kebun memiliki nilai tambah baik untuk kebutuhan pangan sehari-hari maupun untuk diperdagangkan di dalam negeri dan ekspor. Sungguh ironis jika negara kita yang ”gemah ripah loh jinawi” dan ”tongkat kayu dan batu jadi tanaman” mengalami krisis pangan. Pemanfaatan lahan kehutanan dan perkebunan untuk memproduksi berbagai tanaman penghasil pangan diharapkan dapat mengatasi krisis pangan. Semoga!

 

Written by :