Pemadaman api sejak dini hanya dapat dilakukan oleh regu-regu pemadam yang berada dilokasi yang dekat dengan sumber api, ujar Eko Priyanto Teknisi Litkayasa Penyelia di Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru.

Regu-regu ini dapat dibentuk lewat masyarakat sekitar kawasan hutan maupun lewat kelompok-kelompok tani yang sudah ada. Selanjutnya diberikan pengetahuan teknik pengendalian kebakaran serta melengkapinya dengan peralatan tangan sederhana adalah bentuk pembinaan yang dapat dilakukan pada regu-regu pemadam ini.

Saat ini regu-regu pemadam kebakaran ini telah mulai banyak dibentuk didaerah-daerah walaupun dengan sebutan yang bermacam-macam contohnya : regu pemadam kebakaran (RPK), Tim Serbu Api (TSA), Masyarakat Peduli Api (MPA) dan lain-lain, regu-regu ini dapat dibina oleh instansi terkait seperti Dinas Kehutanan Kabupaten maupun Dinas Kehutanan Propinsi serta oleh lembaga-lembaga non pemerintah yang menaruh perhatian khusus terhadap kebakaran hutan dan lahan, papar Eko.

Dalam satu regu pemadam kebakaran  terdiri dari 11-12 orang dengan satu orang ketua.  Pada 1 desa yang berada disekitar kawasan hutan dapat dibentuk beberapa regu pemadam kebakaran dan dapat dipilih satu orang sebagai koordinator antar regu.

Tingkat keterampilan regu dalam melakukan teknik pengendalian kebakaran dapat menjadi objek pembinaan oleh instansi pembina baik ditingkat kabupaten maupun propinsi, melalui pelatihan teknik pengendalian kebakaran hutan dan lahan tingkat dasar. Guna menunjang efektifitas dalam melakukan pemadaman, regu-regu ini dapat diperlengkapi dengan peralatan tangan sederhana yang dapat digunakan dalam kegiatan pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

Regu-regu ini tidak hanya berfungsi sebagai regu pengendali/pemadaman kebakaran namun juga dapat dibekali pengetahuan tentang pencegahan kebakaran contohnya pencegahan kebakaran dengan mereduksi bahan bakar (penyiangan, pembakaran terkendali, pemblokiran dll). Selain itu regu-regu ini juga dapat membuat sekat bakar pada areal-areal tertentu yang diduga rawan kebakaran karena kondisi bahan bakar dan lokasi yang rawan. Jenis-jenis peralatan tangan sederhana yang dapat digunakan oleh regu-regu pemadam kebakaran  antara lain Pompa punggung/Sprayer 5 buah, Cangkul garu 2 buah, Cangkul api 2 buah, Parang 5 buah, Kepyok 5 buah, Garu mata panjang 1 buah, haru mata pendek 1 buah, kikir 1 buah, batu asah 1 buah.

Khusus pada suatu daerah yang kondisinya lahan gambut, regu-regu ini dapat diperlengkapi dengan mesin pompa pemadam tekanan tinggi yang tentunya dilengkapi dengan nozzle, selang hisap serta selang pompa. Karena pada kebakaran dilahan gambut dapat terjadi kebakaran api bawah yang memerlukan air dalam tindakan pemadamannya.

BP2LHK Banjarbaru sampai saat ini masih rutin menjadi pemateri dalam pelatihan pengendalian kebakaran hutan, baik tingkat provinsi maupun kabupaten. Hal tersebut terus dilakukan, paling tidak semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya mencegah lahan dari kebakaran. Mengingat upaya memadamkan kebakaran lahan itu bukan hal yang mudah.  Upaya pencegahan dan tindakan penggendalian yang telah melibatkan banyak pihak terus diupayakan dan diharapkan dimasa mendatang kejadian bencana kebakaran hutan dan lahan ini dapat diminimalisir. (FZH)

Written by :