IDENTIFIKASI JENIS-JENIS HAMA DAN PENYAKIT
PADA MERANTI MERAH (Shorea Leprosula Miq)
DI PULAU LAUT KALIMANTAN SELATAN

Oleh : Acep Akbar

ABSTRAK

Salah satu faktor penghambat keberhasilan  pembangunan hutan tanaman  adalah adanya  gangguan hama dan penyakit, terlebih lagi pola tanam monokultur sangat mendukung  perkembangan organisme pengganggu  tersebut. Disisi  lain kelebihan  tegakan  monokultur  adalah  pengelolaan  tegakan  yang mudah  dan pertimbanggan nilai ekonomi  yang tinggi.  Pada kasus tertentu,  akibat gangguan  hama dan penyakit,  tanaman  hutan  sering mengalami  kematian  dan gangguan  fisiologis  sehingga sangat merugikan  pengelola.  Pada tahap gangguan  awal biasanya  bersifat  sporadis dan kecil-kecil,  namun setelah terjadi pelimpahan  populasi hama maka intensitas dan persentase  serangan terhadap tanaman semakin  tinggi.  Upaya  pembangunan  hutan  tanaman  khususnya  untuk kayu  pertukangan   sudah menjadi  keharusan   sesuai  salah  satu  target  pembangunan  kehutanan   yaitu revitalisasi   industri kehutanan.   Untuk  menghindari   adanya  gangguan   pertumbuhan  hutan  tanaman   dari hama  dan penyakit  khususnya   Shorea  leprosula,  maka  penelitian   identifikasi  hama  terhadap  jenis  tersebut telah dilakukan.  Hasil penelitian  di Pulau Laut,Kalimantan  Selatan menunjukan bahwa tapaman  S. leprosula umur  2,3,4,5  dan 7 tahun terserang  hama  daun berupa  ulat kantung  (Acanthopsiche  sp) bangsa  Lepidoptera dengan  persentase  serangan  masing  masing  88,0%,  86,4%,  96,4%  98,8%  dan 93,2%,  dan Intensitas  Serangan masing-masing 32,0%,  32,6%,  54,8%,  52,8%  dan 38,2%.  Gejala yang  timbul  berupa  daun  bolong-bolong  dan sebagian menggulung.  Tanda  yang  nampak  adalah adanya ulat(larva).  Penyembuhan dapat terjadi secara alami dengan cara regenerasi  daun atau dapat diberantas menggunakan insektisida Marshal 200 SC “sistemik”, Sevin 85 S “kontak”, Diazinon 60 EC “kontak”  disemprotkan. Gejala penyakit ditemukan  dalam skala tidak berati.

Download

Written by : and