BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru, 19082016)_ Keberhasilan pencegahan kebakaran hutan dan lahan rawa gambut ditentukan oleh sejauh mana keseriusan dalam membina dan mendidik masyarakat pengguna api lahan, penegakan hukum dan teknik-teknik pencegahan yang diterapkan. Demikian disampaikan Acep Akbar, salah satu peneliti  Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru dalam salah satu karya tulisnya.

Acep Akbar adalah peneliti utama yang telah cukup lama meneliti masalah kebakaran hutan dan lahan. Beliau mengemukakan berdasarkan hasil penelitian dan pengalamannya meneliti tentang kebakaran bahwa pemicu api awal berhubungan erat dengan pengguna api untuk pembakaran vegetasi, pembakaran dalam pemanfaatan sumber daya alam dan pembakaran lahan tidur serta penguasaan lahan. Faktor pendukung terjadinya kebakaran hutan dan lahan rawa gambut adalah bahan bakar berlimpah tanah gambut, gejala alam El-Nino, penguasaan lahan terlalu luas, alokasi penggunaan lahan yang tidak tepat, degaradasi hutan dan perubahan karakteristik kependudukan.

Alternative pencegahan yang bisa dilakukan adalah memberdayakan masyarakat sekitar hutan dan pembangunan hutan/kebun di lahan gambut harus beresiko kecil kebakaran. Pengembangan jenis pohon dengan sistem agroforestri  di lahan gambut adalah salah satu cara dalam membangun kebun/hutan tanaman beresiko kecil kebakaran. Jenis tanaman yang secara ekologis dianggap cocok di rawa gambut, secara sosial telah cukup banyak dikembangkan dam secara ekonomi telah banyak menguntungkan masyarakat adalah jenis pantung atau jelutung rawa (Dyera polyphylla).

Lebih lanjut, Acep Akbar mengungkapkan bahwa penerapan teknik agroforestri pada pengembangan jenis jelutung rawa dimaksudkan untuk diversifikasi komoditi, usaha dan pendapatan sehingga akan dapat meningkatkan minat petani untuk membudidayakan jelutung rawa yang berjangka panjang dan mencegah terjadinya kebakaran.  “Pengembangan jelutung tawa dengan sistem agroforestri harus melalui suatu kegiatan diagnosis untuk melihat kebutuhan masyarakat dan designing untuk memolakan pertanamannya melalui partisipasi aktif agar bisa dipraktikkan oleh petani setempat”, papar Acep Akbar, mengutip pernyataan rekannya Marinus Kristiadi Harun, salah satu peneliti BP2LHK Banjarbaru yang banyak melakukan penelitian tentang agroforestri.

Jenis lainnya yang juga cukup potensial dikembangkan adalah belangeran (Shorea belangeran), gemor (Nothaphoebe coriacea),  punak (Tetrameristra glabra), meranti rawa (Shorea teysmaniana), Nyatoh (Palaquium cochleria) dan ramin (Gonystilus bacanus).  Selain pengembangan jenis, tahapan penting lainnya dalam pengembangan kebun /hutan tanaman beresiko kecil kebakaran adalah pembentukan regu pengendali kebakaran desa/kampong, fasilitasi peralatan pemadam sederhana dan melakukan pelatihan pengendalian kebakaran, menanam jenis pohon yang tepat dengan sistem agroforestri, persiapan lahan dengan penggunaan api minimal dan terkendali, pengaturan jarak tanam, pembersihan cabang dan ranting bawah, minimasi bahan bakar gulma, penanaman rumput pendek pakan ternak, pembuatan sekata bakar, pembuatan sumur air, pengadaan alat pemadam sederhana dan pembuatan tower pengamat asap untuk unit pengelolaan berskala luas.

Upaya pemberdayaan masyarakat melalui pengendalian kebakaran berbasis masyarakat I sekitar hutan dan lahan merupakan pola alternative pengelolaan kebakaran yang menjanjikan karena kejadian kebakaran selama ini banyak dipicu oleh kebiasaan pembakaran lahan masyarakat berskala kecil tetapi banyak yang dilakukan setiap tahun di desa-desa dan ladang sekitar hutan.

Kerjasama yang sinergis antara para pihak merupakan dukungan terbesar dalam mencegah terjadinya kebakaran. Dengan adanya strategi yang tepat dan kerjasama semua pihak,  diharapkan dapat mencegah dan mengurangi  resiko lahan terbakar. Sungguhpun, keberhasilan dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang luas merupakan keberhasilan mengatasi dampak negatif kebakaran terhadap lingkungan, tanah, air dan udara serta   sosial ekonomi masyarakat (JND)***.



Sumber : Akbar, A. 2016. Strategi Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan Rawa Gambut. Galam Volume 2 Nomor 1 Juni 2016.

Written by :