Banjarbaru, 15 September 2016. Hari kedua dalam rangkaian kunjungan kerjanya di BP2LHK Banjarbaru, Sekbadan Litbangnov, Ir. Tri Joko Mulyono MM mengunjungi Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Riam Kiwa. Kunjungan kerja Sekabdan Ke Riam Kiwa ini menindaklanjuti laporan yang disampaikan oleh Kabalai, Ir. Tjuk Sasmito Hadi, M.Sc, terkait dengan permasalahan pengrusakan sarana penelitian oleh oknum pada bulan Agustus 2016 dan penebangan liar. Akibat dari pengrusakan tersebut, suasana KHDTK menjadi kurang kondusif. Kabalai mengambil langkah dengan menugaskan pegawai balai untuk piket di KHDTK Riamg Kiwa secara bergilir selama sekitar satu setengah bulan. Pihak Balai juga berkoordinir dengan Polsek Pengaron dan Polres Banjar untuk masalah ini. Hal ini disambut baik oleh pihak polisi dengan mengirimkan tenaganya untuk piket di Riam Kiwa selama 30 hari.

Sekitar pukul 09.30 wita Sekbadan Litbangnov, Kepala BP2LHK Banjarbaru dan tim tiba di KHDTK Riam Kiwa. Beliau langsung meninjau posko /rumah jaga beton yang dibakar oleh oknum masyarakat. Di lokasi hadir pula Wakapolsek Pengaron Ipda Endro BS dan tim sebanyak 7 orang. “Perkembangan kasus ini sudah dilimpahkan ke Polres Banjar, dan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) sudah disampaikan Polres Banjar ke BP2LHK Banjarbaru”, ungkap Endro.

“ Saya berharap kejadian serupa tidak terulang lagi, dan terimakasih atas kerjasama yang baik dari Polres Pengaron, ujar Tri Joko. “ Saat ini kondusinya sudah kondusif dan intensitas piket dari BP2LHK Banjarbaru sudah bisa dikurangi, ujar Tjuk S H.

Masih di KHDTK Riam Kiwa beliau juga meninjau lokasi penebangan liar seluas 1,2 Ha dengan jumlah pohon yang ditebang 120 pohon. Tri Joko juga menyarankan agar kayu-kayu hasil litbang ikutan bisa dimanfaatkan atau dijual dengan menyiapkan dokumen angkutnya. Namun kendalanya saat ini tarif PNBP litbang masih tinggi disbanding dengan harga pasar.

Untuk permasalahan perladanan, Sekbadaan menyarakan agar peladang yang saat ini membuka lahan diKHDTK agar cukup dintensifkan di guntung-guntung saja dan tidak memperluas lahannya. Selain itu untuk menjaga keamanan KHDTK, maka kegiatan penelitian seyogyanya dilaksanakan di KHDTK agar masyarakat melihat bahwa ada aktivitas balai disana.

Setelah dari KHDTK Riam Kiwa perjalanan dilanjutkan ke Mapolres Kab. Banjar dan langsung bertemu dengan Kapolres Banjar AKBP Kukuh Prabowo S.IK,MM. Tri joko berterimakasih atas dukungan Kapolres. Kapolres mengungkapkan bahwa pelaku utama masih dalam pengejaran. Komuniksi intensif terus dijalin agar kejadian ini tidak berkembang menjadi masalah besar. “Jadi masalah ini harus ditangani dengan tepat,” ungkap Tri joko.

KHDTK Riam Kiwa merupakan kawasan hutan yang ditetapkan menjadi KHDTK berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.SK.163/Menhut- II/2010 tanggal 31 Maret 2010. KHDTK seluas 1.550 ha ini secara administratif terletak di Desa Lubang Baru Kecamatan Pengaron dan Desa Jati Kecamatan Matraman, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. KHDTK RIam Kiwa merupakan hutan penelitian tipologi lahan kering dengan penutupan lahan berupa alang-alang. Beberapa penelitian yang dilakukan di KHDTK Riam Kiwa ditujukan untuk mendukung rehabilitasi hutan dan lahan kering.

KHDTK Riam Kiwa mulai dibangun tahun 1986, merupakan areal uji coba teknologi reboisasi lahan alang-alang (Imperata cilindrica) kerjasama anatara pemerintah Indonesia-Finlandia (Reforestation and Tropical Forest Management Project/ATA-267). Pelaksana kegiatan proyek ini adalah DInas Kehutanan Provinsi Kalimantan Se atan, Balai Teknologi Reboisasi Banjarbaru dan Enso Forest Development Ltd Setalah proyek ATA berakhir pada tahun 1997, pengelolaan areal Riam Kiwa sepenuhnya dilakukan oleh BP2LHK Banjarbaru. Kegiatan yang dilakukan di KHDTK Riam Kiwa antara lain introduksi jenis (species trial), percobaan provenansi (Provenance trial), uji coba teknik silvikultur hutan tanaman (Pegolahan lahan,pemupukan, jarak tanam), uji coba tanaman campuran agroforestry, penanaman pilot (pilot plantation), pemuliaan pohon dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Written by :