Oleh : Fajar Lestari, S.Hut

            Upaya pengendalian hama maupun penyakit biasanya berupa pencegahan dan pemberantasan.  Pencegahan  (preventive) artinya suatu tindakan yang dilakukan agar tanaman yang masih sehat terhindar dari penyakit, sedangkan pengendalian (control) artinya kita mengusahakan atau melakukan tindakan – tindakan terhadap tanaman yang sudah terserang hama /penyakit, dengan harapan agar tanaman akan sembuh dan tumbuh normal kembali (Anggraeni dan Lelana, 2011).  Dalam prakteknya tindakan pengendalian  lebih sering dilakukan daripada pencegahan,  karena upaya tersebut harus dilakukan untuk mencegah kerugian secara ekonomis.

Pengendalianan serangan hama/penyakit biasa dilakukan dengan menggunakan pestisida kimia sintetik. Hal ini karena pestisida ini mempunyai cara kerja yang relatif cepat dalam menekan populasi hama sehingga dapat menekan kerugian hasil akibat serangan hama, lebih efektif dalam memberantas hama dan mudah didapatkan di pasaran (dijual bebas). Namun, penggunaan pestisida kimia secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan seperti : merusak ekosistem, menimbulkan keracunan pada manusia, membunuh musuh alaminya dan lain sebagainya.

Banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan akibat penggunaan pestisida kimia, maka telah dibuat kesepakatan internasional untuk memberlakukan pembatasan penggunaan bahan-bahan kimia pada proses produksi pestisida kimia sintetik. Berdasarkan kebijakan internasioanl, pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan ditingkat nasional dalam perlindungan tanaman dengan menggalakkan program Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Peraturan Pemerintah No. 6 tahun 1995 menyatakan bahwa pemanfaatan agens pengendali hayati atau biopestisida termasuk pestisida nabati sebagai komponen utama dalam sistem PHT. Tindakan lainnya tertera dalam Keputusan Menteri Pertanian No. 473/Kpts/Tp.270/06/1996 yaitu dengan mengurangi peredaran beberapa jenis pestisida dengan bahan aktif yang dianggap persisten (Asmaliyah et al, 2010). Salah satu bentuk  dukungan terhadap kebijakan tersebut,  penggunaan pestisida nabati dalam kegiatan perlindungan tanaman perlu disosialisasikan dan dipromosikan kepada masyarakat.

Pestisida nabati merupakan pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Tumbuhan banyak mengandung bahan kimia yang digunakan sebagai alat pertahanan dari serangan organisme pengganggu. Bahan kimia yang terkandung biasa disebut sebagai metabolit sekunder yang berupa flavonoid, alkaloid, saponin, tanin dan lain-lain. Metabolit sekunder adalah senyawa metabolit yang tidak essensial bagi pertumbuhan organisme, yang ditemukan dalam bentuk unik atau berbeda-beda antara spesies satu dengan spesies lainnya. Berbagai senyawa metabolit sekunder telah digunakan sebagai obat atau bahan untuk membuat obat, pestisida dan insektisida (Zuraida et al, 2010).  Metabolit sekunder tidak mempunyai peranan yang terlalu penting pada proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan, namun pada jumlah yang sangat besar mampu melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit (Dadang dan Prijono, 2008).

Grainge et al, (1984) dalam Sastrosiswojo (2002), melaporkan ada 1800 jenis tanaman yang mengandung pestisida nabati yang dapat digunakan untuk pengendalian hama. Beberapa keuntungan/ kelebihan penggunaan pestisida nabati (Gerrits dan Van Latum, 1988 dalam Sastrosiswojo (2002) :

  1. Mempunyai cara kerja yang unik, yaitu tidak meracuni.
  2. Mudah teruarai di alam dan residunya mudah hilang, sehingga tidak mencemari lingkungan serta relative aman bagi manusia dan hewan peliharaan.
  3. Penggunaannya dalam jumlah (dosis) yang kecil atau rendah.
  4. Mudah diperoleh di alam.
  5. Pembutaannya relatif mudah dan secara sosial – ekonomi penggunaannya menguntungkan bagi petani kecil.

Saat ini penelitian – penelitian tentang pestisida nabati terus dilakukan dan digali, meskipun pada skala laboratorium maupun persemaian. Beberapa hasil penelitian menunjukkan jenis – jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai pestisida nabati diantaranya mimba, suren, tembakau, sirsak, tuba, serai, cengkeh, mindi, mengkudu dan lain sebagainya. Peluang dan prospek pemanfaatan pestisida nabati dalam pengendalian hama dan penyakit cukup tinggi sehingga perlu terus menerus digali, sehingga pestisida nabati dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti pestisida kimia sintetik dengan berbagai macam keunggulannya.

Written by :