BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru, 07/10/2016)_ Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya melakukan kunjungan untuk secara langsung melihat keberhasilan petani melakukan kegiatan Persiapan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) di desa Kelampangan Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah (8 Okt 2016). Lahan seluas 1,75 Ha yang dikelola oleh pak Ahmad Tamanuruddin (62) atau lebih dikenal Pak Taman ditanami cabai, bayam, jagung, pisang, rambutan, jeruk pola agroforestry dengan tanaman pokok Jelutung (Dyera polyphylla). Dalam kesempatan tersebut, Menteri LHK, Siti Nurbaya yang didampingi oleh Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG), Nazir Foead, beberapa pejabat Eselon I dari KLHK dan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) melihat tanaman agroforestri dan berdialog dengan Pak Taman dan petani lainnya.

“Saya melakukan penanaman dengan persiapan lahan tanpa bakar (PLTB) ini pada awal tahun 2004 “ujar pak Taman. Lebih lanjut Pak Taman menjelaskan bahwa kegiatan pembuatan tanaman tersebut dibantu oleh bapak Marinus (Peneliti BP2PLHK Banjarbaru) yang memberikan bibit Jelutung dan membuat tanaman agroforestry. “Kegiatan ini terus berlanjut sampai tahun 2014,” jelas Taman saat berdialog bersama Menteri LHK.

Untuk mengatasi lahan gambut yang asam, pada umumnya petani membakar lahan gambut, batang-batang kayu dan semak belukar seperti kelakai (Stenochlaena palustris) untuk mendapatkan abu, kemudian abunya disebarkan di lahan yang akan ditanami. Cara seperti itu hanya berpengaruh baik pada awal masa pertumbuhan tanaman. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah lama kelamaan, bahan baku untuk mendapatkan abu semakin berkurang. Selain itu akibat membakar permukaan gambut semakin turun. Untuk menyuburkan lahan gambut, digunakan tanah mineral yang diibeli dari daerah lain sebanyak 2 truk tiap tahunnya. Demikian penjelasan Taman saat menceritakan pengalamannya.

“Dalam pemahaman saya, PLTB yang saya lakukan adalah tidak melakukan pembakaran baik proses awal membangun atau membuka lahan bagi petani, saat menjelang musim tanam dan habis panen,” paparnya.

Selanjutnya dalam kesempatan tersebut pak Taman juga menceritakan hasil yang diperoleh dari lahannya. “Dari tanaman pohon jelutung ini saya sudah memperoleh hasil 5 juta rupiah, yaitu dari hasil penjualan polong-polong biji jelutung ini,” jelas Taman kepada Menteri LHK.

Secara terpisah saat ditemui di tempat yang sama Marinus menjelaskan bahwa salah satu faktor yang turut menentukan keberhasilan pengelolaan gambut secara lestari adalah pemilihan jenis yang tepat dari aspek teknis, sosial ekonomi, dan lingkungan. Jelutung (Dyera polyphylla) dipilih sebagai tanaman pokok agroforestry di lahan gambut karena jenis ini adalah jenis lokal rawa gambut sehingga mempunyai daya adaptasi yang baik dan telah teruji. “Pertumbuhan jelutung relatif cepat dan tajuknya ringan, cara budidaya mudah dan dilakukan dengan manipulasi lahan minimal.” Kata Marinus. Jelutung juga mempunyai manfaat ganda, yaitu diperoleh getah yang dapat digunakan sebagai bahan baku permen karet dan kayunya yang disukai karena mudah dikerjakan, permukaannya halus dan warnanya putih menarik.

“Untuk meningkatkan kesuburan di lahan agroforestry di areal pak Taman ini, kami berikan amelioran alternatif pengganti abu” umgkap Marinus. Abu dari hasil pembakaran gambut dan semak berdampak subsiden (penurunan permukaan gambut) karena volume gambut yang berkurang. Pembakaran yang dilakukan petani untuk persiapan lahan tanam mengurangi rata-rata 1,22 – 8,45 cm tebal gambut atau 159,15 ton / ha pada kondisi basah dan 214,8 ton/ ha pada kondisi kering. Lapisan tanah mineral yang diberikan sekitar 10-15 cm. Jagung dan kacang panjang yang ditanam lebih baik pertumbuhannya, dibanding secara tradisional. Untuk jangka pendek, pemberian amelioran memerlukan biaya yang lebih mahal, namun dalam jangka panjang secara ekonomi layak dilakukan dengan tingkat efisiensi 1 : 12 dibanding dengan cara tradisional, demikian kata Marinus menambahkan.

Oleh sebab itu, praktik membakar untuk memperoleh abu sebagai bahan amelioran sudah harus diganti dengan alternatif dengan lain seperti kompos dan memberikan tanah mineral. Marinus juga berharap, semakin banyak orang yang bisa menerapkan pengalaman yang diperoleh dari plot tanaman agroforestry di lahan pak Taman, sehinga tak lagi membuka lahan dengan cara membakar. “Harapan saya mudah-mudahan pengetahuan yang diperolah dari saya bisa diterapkan dan melahirkan Taman-Taman baru,” kata marinus seraya menutup pembicaraan.

 

Written by :