Pertumbuhan tanaman sengon umur 6 bulan di plot Super Intensif Agroforestri (SIA) sebanding dengan sengon 12 bulan di plot Agroforestry Gunung Merati (AGM). “Tinggi sengon 6 bulan di SIA 3,54 m dan diameter batang 3,28 cm, sedangkan sengon 12 bulan di plot AGM rata-rata tinggi 3,7 m dan diameter 3,45 cm” ungkap Beny Rahmanto, peneliti Balai Litbang LHK Banjarbaru.

Demplot Super Intensive Agroforestry (SIA) merupakan demplot agroforestry yang dibangun sebagai pengembangan hasil penelitian Teknologi Pengembangan Gaharu Di Kalimantan Selatan. Demplot ini dibangun seluas 0,5 ha yang berlokasi di blok B petak 12 Kelompok Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Rantau Kalimantan Selatan.

Tanaman yang ditanam pada demplot SIA terdiri dari 3 jenis yaitu sengon (Falcataria mollucana), Gaharu (Aquilaria microcarpa) dan padi gogo sampoi. Benih tersebut berasal dari sumber benih Tegakan Benih Teridentifikasi dengan sertifikat sumber benih No. 414/BPTH.JM-2/S.SB- 1/2012 dengan alamat lokasi sumber benih di Lingkugan Burujul RT. 02/16, Kel. Kota Kulon, Kec. Sumedang Selatan, Sumedang, Jawa Barat. Benih tersebut juga telah memenuhi persyaratan berdasarkan sertifikat hasil pengujian mutu benih No. 189/BPTH.JM-3/SMBn/2014. Bibit tanaman gaharu yang digunakan dalam demplot ini berasal dari penangkar lokal. Benih padi gogo sampoi merupakan jenis padi gogo yang banyak ditanam di daerah sekitar KHDTK Rantau.

Perlakuan bibit sengon dan gaharu sebelum tanam meliputi pemupukan, penjarangan (spacing) dan aklimatisasi bibit. Pemupukan bibit selama di persemaian dilakukan sebanyak 1 kali dengan menggunakan pupuk organik mikroba RhizoPlex ® sebanyak 5 g per tanaman. Kandungan hara dan bahan aktif dalam pupuk tersebut adalah 0,51% kultur bakteria, 5,20% mikoriza, 3% N, 3% P2O5, 3% K2O, 1% Ca, 0,6% Mg.

Penanaman sengon dilakukan dengan jarak tanam 2 x 2 m dan gaharu dengan jarak tanam 3 x 3m. Tanaman gaharu ditanam menggunakan naungan buatan yang terbuat dari paranet. Perlakuan yang diberikan saat penanaman adalah pemberian pupuk kandang sebanyak 2,5kg per tanaman dan pemberian insektisida & nematisida (Furadan 3G) sebanyak 2 g per tanaman. Padi ditanam dengan cara ditugal dalam larikan di sekitar tanaman pokok (sengon dan gaharu).

Kondisi awal lokasi pembangunan demplot adalah lahan yang didominasi alang-alang. Pengolahan lahan dilakukan secara mekanis dengan menggunakan traktor berupa pembersihan lahan dan pembajakan.

Tekstur tanah pada lokasi pembangunan demplot adalah lempung liat berpasir (agak halus). Tanah mempunyai pH 4,62 yang tergolong pada kelas masam. Pada tanah masam penyerapan unsur P terhambat karena difiksasi oleh Al. Kandungan Al pada lokasi pembangunan demplot juga tinggi dan di atas ambang batas, dapat menimbulkan permasalahan.

Berdasarkan kondisi tersebut perlakuan yang dilakukan adalah penambahan kapur (CaCO3) untuk meningkatkan pH tanah. Kandungan N berdasarkan hasil analisa tanah adalah rendah. Perlakuan yang dilakukan untuk meningkatkan N adalah dengan penggunaan pupuk kandang dari kotoran unggas (burung puyuh). Pupuk kandang tersebut juga digunakan untuk meningkatkan nilai KB (Kejenuhan Basa) mengingat nilai KB sangat rendah. Selain itu, pupuk kandang memiliki keistimewaan antara lain memperbaiki permeabilitas tanah, porositas, truktur, daya menahan air dan kation-kation tanah dan apabila diberi pupuk buatan dapat menghambat pencucian oleh air hujan.

Nilai C/N rasio lokasi demplot 5,463 (rendah). Untuk mengatasi kondisi tersebut perlakuan yang digunakan adalah penggunaan pupuk organik mikroba yang memiliki kandungan 5,2% mikoriza dan 0,51% bakteri untuk meningkatkan mikroorganisme tanah. Penggunaan pupuk berbasis jamur juga sesuai untuk dilakukan mengingat jamur dapat berkembang baik pada segala tingkat kemasaman tanah.

Written by :