Keanekaragaman mikroorganisme tanah dan air di kawasan mangrove

Komentar Dinonaktifkan pada Keanekaragaman mikroorganisme tanah dan air di kawasan mangrove 21

BP2LHK_Banjarbaru(Banjarbaru _20032017). Anadara granosa, merupakan salah satu salah satu mikroorganisme jenis bentos yang keberadaannya melimpah di Selat Sebuku, Kalimantan Selatan. Penelitian yang dilakukan oleh Wawan Halwani dan Susi Andriyani menunjukkan bahwa kawasan mangrove di Selat Sebuku dan beberapa daerah disekitarnya kaya akan berbagai jenis mikroorganisme tanah dan air. Hasil penelitian ini dimuat dalam Indonesian Journal of Forestry Research Vol. 2, No. 2, October 2015, 131-140.

“Mangrove adalah suatu ekosistem unik yang memiliki komponen biotik dan abiotik yang komplek”, papar Wawan. Lebih lanjut wawan mengungkapkan, “Komponen mikroorganisme tanah dan air berfungsi sebagai dekomposer dalam ekosistem mangrove”. Bersama dengan rekan kerjanya, Susi Andriyani, Wawan melakukan penelitian yang bertujuan untuk mempelajari keanekaragaman mikroorganisme tanah dan air, potensi dan fungsinya dalam ekosistem, dan parameter lingkungan di kawasan mangrove Cagar Alam Teluk Kelumpang, Selat Laut, dan Selat Sebuku (Cagar Alam Kelautku), Kalimantan Selatan. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengambil contoh tanah dan air kemudian dianalisis di laboratorium sehingga diperoleh data mikroorganisme tanah dan air.

Hasil penelitian Wawan dan Susi menunjukkan bahwa Selat Sebuku memiliki indeks keanekaragaman bentos tertinggi. Salah satu kelimpahan bentos yang banyak ditemukan di Selat Sebuku adalah Anadara granosa. Berlawanan dengan kelimpahan bentos kelimpahan plankton terendah di Selat Sebuku. Hal ini diduga gelombang laut lebih besar di Selat Sebuku dan kepadatan pemukiman lebih banyak di Teluk Kelumpang dan Selat Laut yang menyebabkan adanya input limbah rumah tangga ke dalam perairan sekitarnya. Cyanophyta yang hanya ditemukan di Teluk Kelumpang dan Selat Laut dari genera Oscillatoria menunjukkan toleransi yang tinggi terhadap kondisi perairan

“Kualitas perairan mangrove, secara langsung atau tidak langsung, sebagian besar dipengaruhi oleh aktivitas manusia seperti pemukiman, konversi mangrove untuk tambak, pertanian, pelabuhan dan pertambangan”, papar Wawan. Untuk itu diperlukan adanya pengaturan pemanfaatan kawasan mangrove, mengurangi konversi lahan menjadi pemukiman, tambak, dan sebagainya serta kontrol rutin air bakau. Hal ini bisa mendukung upaya pelestarian mangrove, khususnya keberadaan mikroorganisme tanah dan air *** (JND).

admin

Share a little biographical information to fill out your profile. This may be shown publicly.

View all contributions by admin

Website: http://foreibanjarbaru.or.id