BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru, 21/04/2017). Demplot seluas 4 hektar dibangun di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Kegiatan ini diinisasi oleh ASEAN-ROK Forest Cooperation (AFoCo), Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Balai Litbang dan Inovasi, serta Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru. Penanaman demplot yang  dilakukan pada akhir tahun 2016 ini mendukung program Badan Restorasi Gambut (BRG) untuk restorasi kawasan gambut di Kabupaten Pulang Pisau, Sub Kesatuan Hidrologi Gambut (KHG) 4.

Demplot ini dibangun di atas lahan KHDTK yang terbakar pada tahun 2015 lalu, dengan tujuan menjadi percontohan restorasi lahan gambut. Empat jenis tanaman rawa gambut yakni Jelutung (Dyera polyphylla), Balangeran (Shorea balangeran), Ramin (Gonystylus bancanus), dan Gemor (Notaphoebe coriacea) ditanam pada kegiatan ini. Tidak hanya itu, ditanam pula tanaman nanas yang berfungsi sebagai tanaman sela. Jenis-jenis tanaman ini dipilih karena dapat mendukung penyediaan hasil hutan kayu serta hasil hutan non-kayu di wilayah gambut. Sebagai contoh, pohon Jelutung dibudidayakan untuk diambil getahnya, dan Gemor dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat diabetes

“Pada tahap ini, penanaman nanas selain berfungsi sebagai tanaman pertanian juga difungsikan untuk membantu memperbaiki kondisi tanah yang kritis akibat kebakaran,” jelas Purwanto Budi Santosa, S.Hut, M.Sc selaku koordinator kegiatan.

“Total tanaman yang ditanam pada demplot ini adalah sebanyak 5246 tanaman dengan rincian Gemor sebanyak 1666 buah, Jelutung sebanyak 666 buah, Ramin sebanyak 666 buah, Balangeran sebanyak 666 buah, serta Nanas sebanyak 1600 buah,” tambah Purwanto Budi Santosa, S.Hut, M.Sc. Adapun jarak tanam yang digunakan pada demplot ini adalah 5 x 3 meter. Sedangkan pada nanas, jarak tanam yang digunakan adalah 1 x 1 meter.

Pada demplot ini,  dibangun pula tabat serta sumur bor. Tabat difungsikan agar lokasi penanaman yang kritis ini tetap tergenangi air dan air tidak mengalir ke sungai, terutama saat musim kering. Hal ini juga berarti, dengan adanya tabat kondisi tinggi muka air gambut diusahakan  seperti sebelum terbakar (Re-wetting). Ke depannya, tabat ini akan difungsikan untuk kegiatan budidaya ikan sehingga pada demplot ini nantinya bisa memiliki banyak fungsi baik secara ekologis maupun sosial. Sumur bor pada demplot ini dibuat di tengah demplot serta disamping jalan akses, ini berfungsi untuk mengurangi resiko kebakaran serta menjamin ketersediaan air saat musim kering. Sebagai informasi tambahan, demplot ini telah dikunjungi oleh Kepala Pusat Litbang Hutan BLI Dr. Kirsfianti L. Ginoga pada bulan Februari 2016.

Written by :