BP2LHK Banjarbaru (04/08/2017). Rabu, 02 Agustus 2017 , Giri Suryanta dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung(BPDAS HL) Barito memfasilitasi kegiatan diskusi terkait eksplorasi tanaman Galam (Melaleuca cajuputi subs cumingiana) di wilayah BPDAS HL Barito yang akan dilakukan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang didanai oleh Andalan Pulp and Paper (APP) Riau. Kegiatan yang akan dilakukan adalah mengetahui sebaran galam dan mengumpulkan benih dari beberapa pohon plus galam serta meneliti keanekaragaman genetik pohon galam yang diketahui banyak tumbuh di wilayah Kalimantan Selatan.

Ekplorasi ini akan dilaksanakan oleh Prof.Dr. Ir. Moh. Na’iem, M.Agr.Sc, Widyanto, Ph.D beserta tim yakni 2 orang mahasiswa Fahutan UGM yaitu Marya Tiara Hapsari, S.Hut dan Andi Nugroho,S.Hut.

Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK )Banjarbaru yang diwakili oleh Ibu Winingtyas Wardani menyambut baik kegiatan yang akan dilaksanakan, dan mengkoordinir para peneliti BP2LHK Banjarbaru terkait untuk memberikan masukan dalam diskusi yang difasilitasi BPDAS HL Barito. Diskusi yang langsung dimoderatori oleh Winingtyas Wardani diawali dengan presentasi singkat dari Marya Tiara Hapsari, dan dilanjutkan dengan diskusi.

“Hampir semua kabupaten di Kalsel terdapat pohon galam, jadi harus ditentukan di awal mau diambil di wilayah mana ? yang saya ketahui Galam banyak terdapat di Kabupaten Barito Kuala, ujar Dony Rachmanadi Peneliti Muda BP2LHK Banjarbaru.

Demikian juga Rusmana menambahkan bahwa sifat tumbuh pohon galam di gambut tipis dan terbuka, jadi memang dominan di Kabupaten Tanah Laut dan Barito Kuala. Untuk kriteria pohon plus Galam apakah seperti kriteria pohon plus jenis lain ? karena di lapangan pohon Galam ada yang sudah berbuah , meskipun tinggi baru 2 meter.

Mahasiswa yang akan melakukan eksplorasi, Tiara menjelaskan bahwa kriteria pohon plus sama dengan jenis yang lain. “ Kalau memang tujuannya untuk breeding , bagusnya diambil semua, sekaligus dapat info penyebarannya”, ujar Purwanto Budi Santosa peneliti muda BP2LHK Banjarbaru memberikan masukan. “Parameter lingkungan juga harus diukur sebagai data pendukung, Tri Wira Yuwati Peneliti Madya BP2LHK Banjarbaru turut menambahkan.

Kesimpulan dari pertemuan singkat ini akan didata 300 batang pohon galam yang sesuai dengan kriteria pohon plus di kota Banjarbaru, Kabupaten Tapin, Tanah laut, Barito Kuala, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Selatan. Eksplorasi akan dilaksanakan selama 1 bulan, dan selanjutnya akan didetilkan lagi jadwa kegiatan yang akan dilakukan.

Mengakhiri diskusi Giri Suryanta berterimakasih atas sambutan hangat dari BP2LHK Banjarbaru, dan secepatnya akan menindaklanjuti dengan surat resmi untuk peneliti pendamping dari BP2LHK Banjarbaru yang membantu kegiatan eksplorasi ini. Giri juga menyarankan kepada tim agar dipertengahan eksplorasi ada ekspose sementara untuk melengkapi hasil yang telah didapatkan.

Written by :