Kondisi tegakan tinggal di KHDTK Tumbang Nusa pasca kebakaran 2015 harus diperkaya dengan jenis-jenis penyusun klimaks hutan rawa gambut. Selain itu pemeliharaan permudaan yang tumbuh sangat penting untuk dapat memperbaiki kondisi keanekaragaman, komposisi dan strukturnya, ungkap Dr.Dony Rachmanadi Peneliti dari Balai Litbang Lingkungan Hidup (BP2LHK )Banjarbaru.

Kebakaran hutan pada bulan September tahun 2015 di KHDTK  ini menyebabkan kerusakan sebagian besar vegetasi dan menyisakan tegakan tinggal. Informasi terkait tegakan tinggal tersebut penting karena dapat menjadi sumber regenerasi atau pemulihan vegetasi secara alami, lanjut Dony.

Rudy Supriadi , teknisi litkayasa dari  BP2LHK Banjarbaru  menjelaskan data yang didapatkan terkait kondisi vegetasi tegaan tinggal di KHDTK Tumbang Nusa “ setelah dilakukan analisa vegetasi diketahui bahwa keanekaragaman tegakan tinggal tergolong rendah pada tingkat tiang dan pohon sebagai sumber utama penghasil biji untuk regenerasi alam”. Keanekaragaman tingkat semai dan pancang tergolong tinggi tetapi hanya didominasi oleh jenis tumbuhan bawah seperti pakis dan tumbuhan menjalar.

Untuk komposisi jenis ditunjukkan dengan indeks nilai penting (INP), dimana pada tingkat pohon didominasi jenis Cratoxylum glaucum (134,68), Combretocarpus rotundatus (89,34) dan Dactylocladus stenostachys (24,72). INP pada tingkat tiang  didominasi jenis Combretocarpus rotundatus (162,88), Cratoxylum glaucum (36,11) dan Syzygium zeylanicum (16,26). Komposisi jenis penyusun utama hutan rawa gambut pada tahap klimaks ditemukan sangat rendah nilai pentingnya seperti Koompassia malaccensis (2,66) dan Tetramerista glabra (8,44), bahkan jenis ramin (Gonystylus bancanus) tidak ditemukan, lanjut Rudy menjelaskan.

Sedangkan untuk struktur vegetasi yang digambarkan dari sebaran kelas diameter menunjukkan dominansi vegetasi pada kelas diameter 0-10 cm yaitu sebesar 46,6% sedangkan kelas diameter tertinggi (30-40 cm) hanya 1,1% dan diameter pohon terbesar hanya 34,5 cm. Sebaran kelas diameter ini tidak lagi membentuk kurva J terbalik secara proporsional, jelas Dony.

Informasi terkait keanekaragaman, komposisi jenis dan struktur  vegetasi tegakan tinggal di KHDTK Tumbang Nusa ini  dapat menjadi dasar pertimbangan dalam menentukan pilihan tindakan untuk mendukung kegiatan restorasi hutan rawa gambut.

Sebagai informasi Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa merupakan ekosistem Hutan Rawa Gambut (HRG) yang dijadikan tempat untuk kegiatan penelitian dan pengembangan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Banjarbaru.

KHDTK ini merupakan satu-satunya hutan penelitian pada ekosistem hutan rawa gambut diantara 33 KHDTK di Indonesia yang dimiliki Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, melalui penunjukan SK Menteri Kehutanan No. 76/Menhut-II/2005 tangggal 31 Maret 2005 dengan luas 5.000 ha.

Sebelum menjadi areal KHDTK, sebagian areal ini merupakan kawasan HPH PT. Arjuna Wiwaha berdasarkan SK.08/Kpts/Um/6/1978 tanggal 4 Januari 1978 seluas 92.000 ha, dan izinnya telah berakhir pada 4 Januari 1998, sehingga pada areal tersebut merupakan areal bekas tebangan (Log-over area).

Kondisi vegetasi di areal KHDTK Tumbang Nusa berdasarkan analisis peta GIS tanggal 07 Juni 2010 terdiri dari vegetasi hutan lebat seluas 4.030 ha (80,5 %), areal vegetasi sedang seluas 106 ha (2,1 %), vegetasi jarang seluas 462 ha (9,2 %), vegetasi semak kelakai seluas 180 ha (3,6 %) dan vegetasi belukar seluas 229 ha (4,6 %).

 

 

Written by :