BP2LHK_Banjarbaru (Banjarbaru_24032018).  Jika kita jalan-jalan di pertokoan cinderamata di berbagai daerah, khususnya Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, kita akan banyak melihat hasil kerajinan ayaman purun. Ya, kerajinan purun saat ini mulai kembali bergeliat seiring meningkatnya trend “back to nature”.

Padahal selama ini, banyak yang menganggap purun hanya sebagai gulma yang keberadaannnya kadang dianggap menggangu tanaman pertanian. Purun sendiri sebenarnya termasuk sejenis rumput teki-tekian (family Cyperaceae). Purun memiliki  batang lurus berongga dan tidak berdaun. Terdapat beberapa jenis purun, antara lain : purun tikus  (Eleocharis dulcis), purun danau  (Lepironia articulata  Retz.) dan purun bajang.  Jenis ini banyak dijumpai di wilayah rawa tergenang, di tepi sungai, gambut dangkal dan tanah masam.

Masyarakat di lahan gambut Kalimantan  Tengah dan Kalimantan Selatan telah menggunakan purun sebagai  bahan baku untuk kerajinan tangan.  Produk yang dihasilkan antara lain : tikar, topi, keranjang, tas, bakul, dan lain-lain. Dibandingkan purun tikus, purun danau paling banyak digunakan sebagai bahan baku anyaman karena lebih kuat dan tidak mudah putus. Berdasarkan hasil penelitian, purun memiliki kemampuan digunakan sebagai bahan kerajinan karena sifatnya yang awet dengan kandungan lignin sebanyak 26.4% dan kandungan selulosa sebanyak 32.62%. Beberapa daerah penghasil ayaman purun adalah Desa Sungai Kali, Kec. Barambai, Kab. Barito Kuala; Kec. Anjir Serapat, Kab. Kapuas, dan kampung purun, kota Banjarbaru.

Dengan adanya inisiatif dari masyarakat dan dukungan pemerintah setempat, pemanfaatan purun untuk kerajinan terus berkembang.  Produk-produk yang dihasilkan sekarang lebih indah, kaya warna, banyak variasi model dan ukuran, dan harga yang lebih bersaing. Bahkan produksi kerajinan di Kampung Purun, kota Banjarbaru, salah satu sentra kerajinan purun sudah mulai menarik parawisatawan pecinta produk kreatif untuk berkunjung ketempat ini. Kerajinan purun yang  dinilai ecofriendly juga telah mulai dilirik wisatawan mancanegara dan bahkan ekspor akan produk ini terus meningkat tiap tahunnya.

Selain bermanfaat secara langsung, purun juga memiliki berbagai manfaat ekologis antara lain sebagai penyerap limbah beracun, pupuk organik, perangkap hama padi dan juga biofilter. Purun juga termasuk jenis asli lahan rawa gambut, sehingga dengan adanya budidaya jenis ini mampu memelihara kondisi asli dari hutan rawa gambut. Kondisi lahan gambut yang terjaga akan mampu menjalankan fungsi hidrologis gambut tetap terjaga sehingga kelestarian floram fauna, juga mikroba yang ada di habitat tersebut juga lestari *** (JND).

Written by :