Tumbuhan Obat di KHDTK Rantau Kalimatan Selatan adalah judul buku yang ditulis oleh Edi Suryanto, S.Hut dan Syaifuddin, S.Hut. Edi adalah teknisi penelitian dan perekayasaan (Litkayasa) Penyelia dan Syaifuddin adalah peneliti pertama dengan bidang kepakaran konservasi dan pengaruh hutan pada Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK)Banjarbaru.

Buku tersebut berisi 41 jenis tumbuhan berkhasiat obat yang tumbuh di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Rantau, Desa Baramban Kecamatan Piani, Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan. Setiap jenis diuraikan nama daerah,nama ilmiah, habitus, deskripsi terkait daun,bunga/buah, batang, tempat tumbuh, khasiat/kegunaan, bagian dari tumbuhan yang digunakan, cara penggunaannya serta kandungan kimianya, jelas Edi.

Sebagai contoh tumbuhan akar kuning (Fibraurea tinctoria  Lour) famili Menispermaceae. Habitusnya liana berkayu. Deskripsi daun tunggal, bentuk oval, panjang 19 – 21 cm, lebar 10 – 11 cm, kedudukan daun tersebar, pangkal daun membulat, ujung daun meruncing, tepi daun rata, permukaan atas dan bawah daun licin, tulang daun primer  three nerves based , tulang daun tersier bentuk tangga dan jala, tangkai daun bulat menebal di bagian pangkal dan ujungnya. Batangnya bagian luar berwarna abu-abu sampai coklat dan bagian dalamnya berwarna kuning serta rasanya pahit.

Jenis ini tumbuh di bawah tegakan hutan sekunder dan hutan tanaman dan sering dijumpai didekat sumber air seperti alur atau sungai. Kegunaan atau khasiatnya sebagai obat liver dan malaria, bagian yang digunakan adalah akar dan batangnya dengan cara direbus atau direndam dalam air mineral, kemudian airnya diminum 3 x sehari. Menurut Utami, et al., 2017 Batang dan akar tumbuhan ini mengandung Alkaloid, Flavonoid, Steroid, Triterpenoid, Tanin, glikosida, berberin dan Saponin.

Selain contoh diatas masih banyak lagi khasiat tumbuhan di KHDTK Rantau, diantaranya Akar Tatau  (Derris Sp) sebagai obat KB (mengatur kehamilan).Ada juga yang berkhasiat sebagai pelindung kulit dari sinar ultra violet yaitu jenis Bangkal Gunung (Nauclea subdita [Korth] Steud). Bagi anda yang menderita kencing manis, disentri, demam dan reumatik bisa mencoba rebusan seluruh bagian taumbuhan ambin-ambin buah (Phyllanthus niruri L). Banyak lagi khasiat tumbuhan  yang lain dalam buku ini, papar Edi lebih lanjut .

Semua data dan informasi tersebut dihimpun dari berbagai referensi dan hasil kegiatan etnobotani kerjasama antara BP2LHK Banjarbaru dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Kalimantan Selatan dan Kebun Raya Banua. Sebagai salah satu editornya adalah Liling Triyasmono dari Fakultas Farmasi Universitas Lambung Mangkurat,ujar Syaifuddin

Kami berharap dengan adanya buku ini dapat membantu menyebarluasan ilmu pengetahuan mengenai tumbuhan berkhasiat obat, sekaligus menyadarkan semua pihak betapa pentingnya melestarikan hutan karena potensi yang terkandung didalamnya, lanjut syaifuddin.

Sebagai informasi Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Rantau merupakan lokasi penelitian yang telah dirintis oleh Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru (BPK Banjarbaru), yang pada waktu itu bernama Balai Teknologi Reboisasi (BTR), sejak tahun 1985. Lokasi ini merupakan lokasi kegiatan Inpres Reboisasi Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Kayutangi. Pada lokasi ini dilakukan penanaman dalam rangka ujicoba hasil pembuatan bibit proyek persemaian modern kerjasama pemerintah Indonesia dan Finlandia (Proyek ATA-267). Bibit hasil produksi persemaian modern ini untuk memenuhi kebutuhan bibit kegiatan Inpres antara lain meliputi jenis Acacia mangium, Eucalyptus pellita dan Eucalyptus urophylla.

Secara geografis KHDTK Rantau terletak pada 02057′ – 02059′ LS dan 155013′ – 155015′ BT berada dalam kawasan hutan produksi tetap sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.247/KPTS-II/1984 dan Secara administratif pemerintahan terletak di Desa Baramban Kecamatan Piani, Desa Bitahan Baru, Kecamatan Lokpaikat dan Desa Kelumpang ,Kecamatan Bungur, Kabupaten Tapin. Jarak KHDTK Rantau dari Kantor BP2LHK Banjarbaru  ± 104 K .

KHDTK Rantau berada pada ketinggian 100-400 meter dari permukaan laut dengan topografi datar sampai bergelombang sedang (8%-30%) dan jenis tanah pada umumnya podsolik merah kuning dan laterik. Menurut klasifikasi Schmit dan ferguson termasuk dalam tipe iklim B dengan curah hujan rata-rata tahunan 1.000-4.000 mm/tahun.

Berdasarkan SK Menhut No. 177/Menhut-II/2005 areal ini ditunjuk sebagai KHDTK dengan luas ± 180 Ha. Kondisi tutupan lahan di KHDTK rantau terfragmentasi menjadi 6  yaitu : 1. Alang-alang, 2. Belukar, 3. Danau atau bekas galian, 4. Hutan sekunder, 5. Tanaman dan 6. Areal terbuka. Di areal alang-alang dan belukar, vegetasi berkayu yang mendominasi adalah jenis laban (Vitex spp.) sedangkan di areal hutan sekunder yang merupakan zona penelitian suksesi alam vegetasi berkayu yang paling dominan adalah jenis puspa (Schima wallichii).

Unduh Tumbuhan Obat di KHDTK Rantau Kalimatan Selatan

Written by :