BP2LHKBJB 16/04/18. Jumat (14/04/2018)Bertempat di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat di Banjarmasin, tim peneliti gaharu melakukan ethical clearance. ethical clearance atau kelayakan etik adalah keterangan tertulis yang diberikan oleh komisi etik penelitian untuk riset yang melibatkan mahluk hidup (manusia, hewan dan tumbuhan) yang menyatakan bahwa suatu proposal riset layak dilaksanakan setelah memenuhi persyaratan tertentu.

 

Tim penilai etik yang terdiri dari Dr. Rosaliana P, SSi,M.Biomed.,  Dr.dr. Ahmad Rafi,Sp.THT-KL dan bapak Suud melakukan pembahasan pada proposal penelitian (ROP) Gaharu yang berjudul “ Pengembangan Tanaman Penghasil Gaharu Sebagai Obat Herbal Terstandar”.  Tim peneliti BP2LHK Banjarbaru yang dipimpin Wawan Halwany, S. Hut, MSc, didampingi Beni Rahmanto, S.Hut, dan Susi Andriani, S. Hut, MSc memaparkan dihadapan Komisi Etika  Penelitian Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

 

Pada tahun 2018 ini, kegiatan penelitian Gaharu  difokuskan pada tahapan penelitian uji toksisitas.  “Penelitian tahun ini bertujuan untuk  mengetahui ketoksikan akut, sub akut dan sub kronis pada hewan coba yang diberi ekstrak daun gaharu (Aquilara microcarpa). Intinya yang ingin diketahui apakah pemberian ekstrak daun gaharu menimbulkan dampak toksik/beracun pada organisme. Pada tahun ini kita mengujinya pada hewan coba yaitu tikus putih (Rattus norvegicus)”  demikian Wawan Halwany memberikan paparan di hadapan  Komisi Etik.

 

Selanjutnyanya setelah dilakukan paparan rencana penelitian dan prosedur perlakuan terhadap hewan coba yang dilakukan, diperoleh beberapa masukan.

“Dalam penelitian yang menggunakan hewan coba ada prinsip 3R yaitu Refinement  yaitu  memperbaiki metodenya. Mencari metode yang paling manusiawi bagi subyek penelitian. Misalkan dengan menggunakan hewan coba , maka perlu dicari metode yang paling tidak menyakiti hewan dan memperlakukan hewan coba secara baik, baik sebelum perlakuan, saat perlakuan dan setelah perlakuan.

Repalcement yaitu jika menggunakan hewan coba, kita perlu banyak membaca literatur terlebih dahulu. Hal ini perlu dilakukan agar penelitian kita valid dan tepat sasaran. Misal dari pustaka diketahui untuk menguji sel kanker tidak perlu menggunakan hewan coba secara utuh karena sudah terdapat produsen sel kanker yang diinginkan, maka kita dapat mengganti hewan coba tersebut dengan hanya sel kanker tersebut. Perlu dicari yang lebih efektif dalam menggunakan hewan coba.

Reduce  yaitu mengurangi jumlahnya. Misalkan dalam penelitian kita merencanakan menggunakan 40 hewan coba, namun ternyata 12-20  ekor saja sudah cukup untuk mendapatkan data  secara valid, maka sebaiknya gunakan yang lebih sedikit”. Demikian dr. Ahmad Rafi  memberikan penejelasannya

 

Pada hewan coba, perlu diperlakuan secara baik, sebelum, saat perlakuan dan pasca perlakuan. “ Hewan coba perlu ditempatkan dengan layak, kebersihan kandang harus terjaga, pemberian pakan dan kesehatan hewan coba perlu diperhatikan. Sampel darah yang diambil pada hewan coba sebaiknya tidak lebih dari 5 ml, dan penanganan hewan coba pasca pembedahan organ juga harus baik.” demikian dr.Rosalina menambahkan.

Dari ethical clearance tersebut, proposal penelitian tim penelti gaharu mendapatkan penilaian layak uji dengan beberapa perbaikan.