Saat ini, kemiri tengah hangat diperbincangkan di sektor kehutanan, khususnya di Kalimantan Selatan. Dalam rangka menyukseskan program Revolusi Hijau-nya, pertengahan April lalu (18/04) Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan melaksanakan kegiatan penanaman serentak rehabilitasi DAS melalui penanaman oleh Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan di Provinsi Kalimantan Selatan dan salah satu jenis tanaman yang ditanam adalah kemiri.

Kegiatan ini berlokasi di Desa Sungai Luar Kec. Aranio Kab. Banjar yang juga termasuk dalam kawasan Tahura Sultan Adam. Seperti diungkapkan oleh Dinas Kehutanan Provinsi  Kalimantan Selatan dalam acara Konsultasi Publik Hasil Kajian dan Draft Roadmap Pengembangan Klaster IPHHK Berbasis Produk Unggulan KPH Kayu Tangi yang digelar di Grand Dafam Hotel Banjarbaru pada hari Kamis, 06 Mei 2018, sebanyak kurang lebih 11 ribu bibit kemiri telah ditanam pada kegiatan penanaman serentak rehabilitasi DAS tersebut. Dengan penuh optimis Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan yakin sekitar 5 s.d 6 tahun ke depan Kalimantan Selatan mampu mengekspor sekitar 550 kontainer kemiri per bulan sehingga nantinya dapat turut serta meningkatkan pendapatan masyarakat.

Saat ini  kemiri merupakan salah satu produk hasil hutan bukan kayu  (HHBK) unggulan di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kayu Tangi, salah satu UPT Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan di Kab. Banjar. Sebaran kemiri di KPH Kayu Tangi sebagian besar berada di Kecamatan Paramasan. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh tim KPH Kayu Tangi, ±800 KK yang berdiam di Paramasan Bawah memiliki tegakan kemiri dengan luasan yang berbeda-beda. Panen biji kemiri kupas setiap minggunya dapat mencapai 25-250 kg. Dalam sebulan Desa Paramasan Bawah dapat memanen ± 1 ton biji kemiri yang siap dikirim ke Pontianak. Harga kemiri di tingkat petani dalam kondisi masih bercangkang Rp 5.000,- per kg sedangkan kemiri yang sudah dikupas dihargai Rp 24.000,- per kg. Tidak hanya menjual dalam kondisi mentah, KPH Kayu Tangi telah berhasil memproduksi minyak kemiri dan mampu memasarkannya dengan lancar.

Selain Kab. Banjar, tegakan kemiri juga tersebar di Kab. Tabalong, Kab. Balangan, Kab. Hulu Sungai Tengah, Kab. Hulu Sungai Selatan, Kab. Tanah Laut, Kab. Kotabaru, dan Kab. Tanah Bumbu. Berdasarkan data statistik Perkebunan Kalimantan Selatan Tahun 2015 terdapat tegakan kemiri dengan luasan mencapai 3.545 ha memilki produksi dan produktivitas secara berturut-turut 1.927 ton dan 657 kg/ha. DA

Sebagai informasi kemiri tidak hanya digunakan sebagai bumbu, hampir semua bagian dari pohon kemiri seperti daun, buah, kulit, kayu, dan akar dapat digunakan sebagai obat-obatan tradisional, penerangan, bahan bangunan, bahan pewarna, dekorasi dan lain-lain. Meskipun demikian, bagian dari tanaman kemiri, khususnya bagian buah memilki sifat beracun yang disebabkan oleh toxalbumin sehingga perlu kewaspadaan bila ingin menggunakannya untuk tujuan pengobatan dan konsumsi.

Persenyawaan toxalbumin dapat dihilangkan dengan cara pemanasan dan dapat dinetralkan dengan menambahkan bumbu lainnya seperti garam, merica, dan terasi. Lebih dari itu, jenis ini mudah ditanam, cepat tumbuh, dan tidak begitu banyak menuntut persyaratan tempat tumbuh sehingga dalam perkembangannya tanaman ini sudah digolongkan sebagai tanaman penghijauan/reboisasi. (DA)

Written by :