BP2LHKBJB (Banjarbaru 12/06/18)_Banjarbaru, Jumat 08/06/18 Dr. Dony Rachmanadi selaku ketua tim kegiatan kerjasama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) memaparkan rencana kegiatan untuk tahun 2018.  Judul Kegiatan yang akan dilaksanakan adalah Implementasi 3R dalam mendukung Keberhasilan Restorasi Gambut di Kalimantan Selatan dan Tengah. Dalam pelaksanaannya dibantu oleh Purwanto B Santosa, Tri Wira Yuwati dan M. Abdul Qirom.

“Kebakaran  2015 berdampak signifikan terhadap kerusakan hutan rawa gambut (HRG). Banyaknya material yang terbakar merubah sifat fisika tanah, yang akhirya terjadi perubahan dan proses regenerasi pun ikut terpengaruh “Dony menjelaskan.

Kegiatan tahun ini adalah lanjutan, sehingga focus pada pemeliharaan dan tidak ada pembangunan fisik. Akan ada evaluasi terhadap kegiatan kanalisasi sebagai bentuk rewetting.  Untuk revegetation akan diamati juga bioindikator yang mempercepat restorasi HRG. Dan Revitalization  akan dicoba budidaya Jamur yang dapat dikonsumsi dan bernilai jual tinggi, jelas Dony lebih lanjut.

Selain itu kami berharap ada masukan dari kawan-kawan terkait inovasi yang dapat dilakukan dalam kegiatan ini, ujar Dony mengakhiri paparannya.

Diskusi yang dipandu oleh Ibu Kepala Seksi Data Informasi dan Kerjasama, Dra. Lilis Kurniati berjalan dengan baik. Para peneliti dan teknisi serta pejabat struktural yang hadir memberikan masukan untuk rencana kegiatan ini.

Ir.Tjuk Sasmito Hadi, MSc, Kepala Balai Litbang LHK Banjarbaru, mengawali memberikan komentar “ Kita ketahui bahwa HRG rusak karena adanya kanalisasi dan kebakaran yang berulang, maka hilanglah mikrotopografi dan terjadi sifat kering tidak balik  gambut.  Solusinya dengan 3R, di masing-masing R harusnya ada inovasi. Contoh rewetting bagaimana inovasinya dengan pompa seperti di Malaysia, tapi agak mahal. Atau dengan Sekat beje , apakah bisa  kita coba dari sisi jumlah,  atau apakah dengan membuat tanggul dan sebagainya”.

Untuk Revegetasi ada yang menarik , dengan melihat kondisi shorea balangeran yang mengalami perlambatan pertumbuhan. Problemnya  apa ? kenapa tanaman yang adaptif terhadap genangan juga sulit tumbuh. Hal tersebut harus bisa kita temuan jawabannya, Tjuk menjelaskan

Revitalisasi bila arahnya ke budidaya pertanian akan terjadi subsiden dan emisi karbon . Maka disarankan   basisnya bukan dengan pertanian.  Salah satunya  bisa dengan melibatkan masyarakat dalam kegiatan restorasi dengan kegiatan produktif, contoh dilibatkan dalam pembuatan bibit. Untuk di Liang Anggang bisa di pakai model  yang basisnya pengaturan penanaman galam,pungkas Tjuk.

“ Masyarakat Tumbang Nusa mempunyai kearifan lokal memanfaatkan beje (cekungan) alami untuk mendapatkan ikan. Kita mungin bisa cari info  terkait beje alami di masyarakat Desa Tanjung Taruna.  Bagaimana secara alami masyarakat mengelola air gambut”, ujar Dr. Akbar memberikan masukan.

Kepala Seksi Sarana Penelitian , Iskandar, S.Hut, MIL menanyakan terkait istilah 3R yang sama dengan pengelolaan sampah di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, saran mungkin bisa diganti dengan R3.

“Semua masukan dari kawan-kawan akan kami bahas dengan tim, ujar Dony. Pembahasan rencana kegiatan kerjasama dengan BGR ini mengakhiri kegiatan kerja di Bulan Ramadan. “Selamat berlibur, dan Selamat Hari Raya Idul Fitri, dan jangan lupa untuk masuk kerja tanggal 21 Juni 2018”, ujar Tjuk mengingatkan.

 

Written by :