BP2LHKBJB 25/06/18. Bagaimana Purun dapat melestarikan gambut ? Safinah S. Hakim peneliti pertama Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Banjarbaru menjelaskan  ada 3 fungsi pemanfaatan purun di lahan gambut, yakni dari segi ekologis, sosial ekonomi serta budaya. Dari segi ekologis, adanya budidaya purun ini dapat memelihara kondisi asli dari hutan rawa gambut sehingga fungsi hidrologis gambut tetap terjaga sehingga kelestarian flora fauna, juga mikroba yang ada di habitat tersebut juga lestari.

Untuk fungsi sosial ekonomi, dengan adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat yang melakukan usaha kerajinan purun ini, maka masyarakat mendapatkan pekerjaan yang berkelanjutan. Hal ini tentu saja berdampak positif untuk mengurangi resiko pembukaan lahan gambut yang seringkali menjadi penyebab utama kebakaran gambut. Dari segi budaya, pemanfaatan purun berarti juga melestarikan budaya turun menurun leluhur dalam kerajinan mengayam yang nilai budayanya cukup tinggi.

Pemanfaatan purun sebagai bahan kerajinan sudah diwariskan secara turun-temurun di beberapa daerah. Berdasarkan hasil penelitian, purun memiliki kemampuan digunakan sebagai bahan kerajinan karena sifatnya yang awet dengan kandungan lignin sebanyak 26,4% dan kandungan selulosa sebanyak 32,62%. Selain sebagai bahan baku kerajinan anyaman, purun digunakan oleh masyarakat China sebagai bahan pangan antara lain untuk omelet, sayur berkuah, salad, masakan yang dicampur dengan daging atau ikan dan juga kue. Selain bermanfaat secara langsung, ternyata Purun juga memiliki berbagai manfaat ekologis antara lain sebagai penyerap limbah beracun, pupuk organik, perangkap hama padi dan juga biofilter, lanjut Safinah.

Meskipun pemanfaatan purun sudah diketahui sejak dulu, namun hingga saat ini belum banyak yang menanam tanaman ini secara intensif. Untuk memperbanyak purun, masyarakat masih melakukannya secara alami dan tradisional  yakni dengan  meninggalkan sedikit rumpun sehingga rimpangnya dapat tumbuh kembali. Untuk menanam purun di tempat lain, dilakukan dengan menancapkan rimpang atau umbinya. Sebagai contoh, masyarakat Dayak Ngaju di tepi Sungai Kahayan memanen purun secara berkala, pada saat purun telah mencapai tinggi tidak kurang dari 1,5 m, ungkap Gravi Margasetha , Teknisi Litkayasa BP2LHK Banjarbaru.

Salah satu wilayah yang mengolah purun menjadi barang kerajinan bernilai tambah adalah Kampung Purun di Kelurahan Palam, Cempaka, Kota Banjarbaru. Manfaat purun dalam menyejahterakan masyarakat semakin dirasakan setelah dikukuhkannya Kampung Purun sebagai salah satu destinasi wisata di Kota Banjarbaru oleh Walikota Banjarbaru yang diwakili oleh Camat Cempaka pada tanggal 22 Januari 2016.

Dengan adanya inisiatif masyarakat dan dukungan pemerintah, melalui berbagai pelatihan, pengrajin purun semakin semangat dalam berinovasi sehingga produk yang dihasilkan sekarang lebih kreatif, beragam, serta dapat memenuhi keinginan pasar. Masyarakat Kampung Purun bahu-membahu membuat alat penumbuk otomatis sehingga produksi purun yang dihasilkan dapat lebih baik dari segi kuantitas dan kualitas. Beberapa produk yang dihasilkan oleh masyarakat Kampung Purun Palam antara lain tikar, topi, tas (bakul, kampil, anjat), alas meja, alas piring makan, map kertas, pot, dll.

Beberapa kerajinan juga semakin menarik dengan sentuhan warna juga dipadu dengan kerajinan decoupage. Kondisi ini tentu saja berbeda dengan pengrajin purun dulu yang hanya dapat membuat bakul dan tikar dengan motif yang monoton.

Saat ini, masyarakat kampung purun yang kian inovatif dan berkembang sudah mulai menarik para wisatawan pecinta produk kreatif untuk berkunjung ke tempat ini. Kerajinan purun yang dinilai ecofriendly  juga telah mulai dilirik wisatawan manca negara dan bahkan ekspor akan produk ini terus meningkat tiap tahunnya.

Written by :