BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru, 11/7/2018)_ “Riset-riset yang sedang berkembang saat ini adalah riset multidisiplin. Penelitian kedepan juga harus mampu menjawab permasalahan secara komperehensif. Jawabannya tidak hanya dari satu bidang ilmu saja melainkan dari pendekatan berbagai disiplin ilmu, dari latar belakang keahlian dan fungsi yang berbeda. Pendekatan tersebut bisa dari satu institusi bahkan bisa berasal dari berbagai institusi atau bahkan berbeda negara”. Demikian laporan yang disampaikan oleh  Dr. Dony Rachmanadi S.Hut, MSi peneliti Balai Litbang LHK Banjarbaru setelah  mengikuti Diklat Jabatan Fungsional Peneliti (DJFP)  Tingkat Lanjutan yang diselenggarakan tanggal     1-10 Juli 2018    di Pusat Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan Peneliti (Pusbindiklat) LIPI, Cibinong.

 

“Bahkan pendanaan riset-riset sudah mengarah pada riset multidisipilin. Sebagai contoh adalah Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia  (DIPI) yang bertujuan meningkatkan kualitas penelitian di Indonesia dan membangun daya saing bangsa secara global, memberikan kesempatan penelitian yang diajukan dapat bersifat multidisiplin” tambah Dony. “Selain itu tawaran pendanaan multidisplin juga dapat diperoleh dari RISPRO (Riset Inovatif-Produktif) LPDP, Kemenristekdikti, Riset Bisnis Multidisiplin FEUI, Direktorat Penelitian UGM RCOPPINET, ITB (Research Consortium Optimization of Pipeline Network), ITTO (International Tropical Timber Organization) dan lain-lain.”

 

Selanjutnya dalam laporannya Dony menambahkan bahwa pentingnya riset multidisiplin antara lain: pertama, yaitu dapat melihat dari berbagai sudut pandang sehingga lebih luas analisis dan telaahannya. Kedua yaitu lebih banyak  kreativitas dan inovasi muncul dari kegiatan interaksi berbagai bidang ilmu (Creativity and innovation) . Ketiga yaitu umumnya kegiatan riset multidisiplin umumnya lebih cepat masuk ke pasar (Speed to market). Keempat,  kegiatan multidisiplin mendorong untuk mencurahkan perhatian  dan mempermudah mencari jawaban kepentingan konsumen (Costumer focus). Kelima, mendorong team learning and organizational learning yang akan memperkuat organisasi dan kemampuan personil peneliti. Keenam, yaitu hasil riset multidisiplin lebih tinggi, teknologi terlindungi berupa paten. Paten yang dihasilkan dari riset multidisiplin diberi indeks value lebih tinggi.

 

Sebagaimana diketahui, Diklat Jabatan Fungsional Peneliti (DJFP) ini diikuti oleh 31 peserta dari berbagai peneliti dari berbagai instansi yaitu peneliti-peneliti dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Agama, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Mahkamah Konsituti.  Dalam  DJFP Tingkat Lanjutan  gelombang III selama 8 hari  tersebut Dr. Dony Rachmanadi, MSi,  peneliti dari Balai Litbang LHK Banjarbaru (BP2LHK) Banjarbaru mendapat penghargaan sebagai peserta terbaik  ke 2.

Written by :