BP2LHK_Banjarbaru(Banjarbaru_13072018). Pola agroforestri merupakan pola budidaya lahan yang bisa diterapkan dalam pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan.  Masyarakat Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan telah menggunakan pola agroforestri dalam mengelola lahan gambut, baik gambut tipis, gambut menengah dan gambut dalam. Komposisi jenis tanaman terdiri dari tanaman berkayu, tanaman semusim, ternak dan ikan.

Tim peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru bekerjasama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) melakukan survei  kajian budidaya komoditi unggulan di lahan gambut, salah satunya adalah jenis-jenis yang dibudidayakan menggunakan pola agroforestri.

“Dari hasil survey jenis-jenis tanaman yang telah dibudidayakan dengan pola agroforestri di lahan gambut dan memiliki produktifitas cukup baik antara lain :  tanaman penghasil buah (rambutan dan jeruk)  tanaman penghasil kayu (sengon), tanaman penghasil getah (jelutung rawa dan karet), nenas dan sayur-sayuran (daun bawang, cabe dan jagung), ungkap Tri Wira Yuwati, S.Hut, MSc Peneliti Madya BP2LHK Banjarbaru sekaligus ketua tim survey.

Untuk nenas banyak dibudidayakan masyarakat di  Kec. Mekarsari,  Kab. Barito Kuala (Kal-Sel),  Kab. Kapuas dan Kab. Pulang Pisau (Kal-Teng). Pola tanam budidaya nenas adalah monokultur dan agroforestry. Pola agroforestry yang ditemukan di lapangan adalah alley cropping (nenas ditanam bersama dengan tanaman karet menggunakan sistem lorong), trees along border (tanaman nenas dikelilingi tanaman berkayu dan palawija seperti karet, ubi kayu dan pisang) dan mix  (tanaman nenas bercampur dengan tanaman berkayu seperti karet, tanaman buah dan tanaman palawija.  Nenas banyak dibudidayakan masyarakat karena nilai ekonomis yang cukup tinggi, lanjut Tri menjelaskan.

Teknik budidaya yang dilakukan oleh masyarakat cukup bervariasi, dari yang bersifat tradisional hingga menggunakan teknologi yang lebih moderen. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam budidaya tanaman di lahan gambut antara lain : pembuatan saluran drainase, ameliorasi lahan dan pemberian jenis pupuk yang tepat. Umumnya masyarakat menggunakan sistem surjan dan sistem gundukan dengan pengaturan saluran drainase. Walaupun belum banyak, namun sudah ada masyarakat yang menggunakan metode pengelolaan lahan tanpa bakar, pungkas Tri.  ***(JND).

Written by :