BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru, Agustus 2018)_ Dalam rangka membuat produk suplemen kesehatan dari bahan tumbuhan gemor (Notaphoebe coriaceae), peneliti BP2LHK Banjarbaru melakukan uji organoleptik.  Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat penerimaan dari responden terhadap produk minuman suplemen herbal teh gemor bagi penderita diabetes mellitus (DM).. Sebelum suplemen herbal teh gemor diproduksi dan dipasarkan ke masyarakat, terlebih dahulu perlu diketahui bagaimana respon kesukaan masyarakat  terhadap produk ini.

 

Sebelumnya telah dilakukan penelitian di laboratorium baik invivo, invitro, dan toksisitas menunjukkan gemor mengandung senyawa fitokimia yang berpotensi menurunkan resiko diabetes dan tidak bersifat toksik.” Penelitian yang kami lakukan menunjukkan  bahwa daun gemor mengandung flavonoid dan alkaloid. Dari  ujicoba secara invitro pada tikus putih (Rattus novergicus), pemberian ekstrak daun gemor menunjukkan aktivitas yang signifikan untuk menghambat metabolisme glukosa dalam homogenat hati. Gemor mengandung flavonoid untuk mencegah gangguan metabolisme glukosa, dan air ekstrak daunnya berpotensi mencegah peningkatan risiko DM dengan cara meningkatkan cadangan glikogen di hati” demikian jelas Dr. Eko Suhartono,dosen Fakultas Kedokteran Univeristas Lambung Mangkurat (ULM) yang bekerjasama dalam tim peneliti gemor

Susi Andriani,S.Hut, MSc, peneliti BP2LHK Banjarbaru salah satu tim  peneliti gemor menerangkan kegiatan uji organoleptik yang telah dilakukan.  “Dalam uji organoleptik ini kami menguji secara organoleptik tingkat  kesukaan  responden terhadap beberapa sampel teh gemor yang kami siapkan”. Dalam pengujian ini, kami siapkan beberapa varian.  Parameter yang kami uji pada responden adalah rasa, warna dan aroma seduhan herbal  dari 7 sampel sediaan teh gemor dengan berbagai variasi.

 

Pengujian organoleptik dapat dilakukan dalam berbagai cara, salah satu diantaranya adalah uji hedonik (kesukaan). Uji organoleptik yang kami lakukan adalah uji hedonik yang melibatkan 25 panelis. Dalam uji hedonik, panelis diminta untuk memberikan tanggapan pribadi tentang kesukaan atau ketidaksukaan terhadap sampel uji dalam berbagai tingkat. Tingkat-tingkat kesukaan ini disebut skala hedonik.

 

“Berdasarkan hasil uji organoleptik yang kami lakukan, telah diketahui formula sediaan suplemen herbal teh gemor yang mempunyai tingkat penerimaan yang baik. Selanjutnya dari hasil uji ini ,kami akan membuat kemasan suplemen herbal teh gemor dalam bentuk kemasan celup yang praktis cara penyajiannya.” Pungkas Susi.

Gemor (Nothapoebe coriacea) merupakan tumbuhan khas dari hutan rawa gambut yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan obat herbal untuk mengobati DM. Penelitian yang kami lakukan sejak 3 tahun lalu menunjukkan hasil yang meyakinkan bahwa gemor dapat digunakan sebagai suplemen herbal penderita DM ”. Demikian disampaikan Purwanto Budi Santosa, S.Hut, MSc, peneliti Balai Litbang LHK Banjarbaru saat ditemui di

Dr. Eko Suhartono ,menambahkan lagi  bahwa DM dapat disebabkan karena gaya hidup dan pola makan.  “ Gaya hidup yang kurang baik dan pola makan yang kurang baik menyebabkan semakin meningkatnya penderita penyakit DM karena terjadinya gangguan metabolisme karbohidrat yang ditandai dengan konsentrasi glukosa yang tinggi dalam darah diatas ambang normal (hiperglikemia).

Pengobatan DM membutuhkan biaya yang besar dan tidak terjangkau oleh kalangan masyarakat bawah. Oleh karena itu, World Health Organization (WHO) merekomendasikan alternatif menggunakan metode tradisional untuk pengobatan DM agar diteliti lebih lanjut.” Pungkas Eko.

Written by :