BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru, 15/08/2018). Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Kintap, Surganya para Birdwatcher. LPPM Universitas Lambung Mangkurat dan Komunitas fotografi South Borneo Biodiversity telah membuktikannya melalui  kegiatan  ekspedisi bersama yang digagas Tim BP2LHK Banjarbaru, mendokumentasikan jenis-jenis burung yang ada di KHDTK Kintap.

Kegiatan ekspedisi ini dilakukan selama satu minggu, tanggal 24 Juli hingga 30 Juli 2018. Selama kegiatan dilakukan, berhasil didokumentasikan 78 jenis burung. Beberapa jenis burung langka berhasil didokumentasikan antara lain Seriwang Asia (Terpsiphone paradise), Luntur Putri (Harpactes duvaucelii),  Paok Hijau (Pitta sordida), dan Kangkareng Hitam (Anthracoceros malayanus).

“KHDTK Kintap ini surganya para birdwatcher, banyak sekali jenis burung yang susah didokumentasikan oleh para birdwatcher di tempat lain ternyata dengan mudahnya bisa didapatkan di sini,” ucap Maulana Khalid Rifani, dosen sekaligus fotografer yang tergabung dalam komunitas fotografi South Borneo Biodiversity.

Selain burung, Tim ekspedisi juga berhasil menjumpai beberapa jenis primata antara lain Owa Kelawat (Hylobates muelleri) dan juga tarsius.

“Hasil-hasil yang diperoleh selama ekspedisi ini akan dibukukan menjadi buku panduan lapangan jenis-jenis burung  di KHDTK Kintap,” ujar Muhammad Abdul Qirom, peneliti sekaligus manajer KHDTK Kintap. Ditambahkan oleh Qirom, adanya buku panduan lapangan ini diharapkan bisa mempermudah peneliti, birdwatcher, wisatawan, ataupun mahasiswa dan pelajar yang mengunjungi KHDTK Kintap.

Sebagai informasi, KHDTK Kintap merupakan KHDTK yang dikelola oleh Balai Litbang LHK Banjarbaru dengan luas areal sekitar 1000 hektar didominasi oleh jenis-jenis Dipterocarpaceae (Meranti) campuran.  KHDTK ini memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang tinggi.  Terletak di Desa Riam Adungan, Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan dengan ketinggian antara 100-300 mdpl. Jarak dari Banjarbaru ± 205 km ( jalan aspal 181 km dan 24 km jalan tanah). Perlu waktu kurang lebih empat jam untuk menjangkau stasiun riset KHDTK Kintap.

Selain menginventarisir keanekaragaman burung, tim peneliti dan teknisi BP2LHK Banjarbaru  sudah mendokumentasikan berbagai jenis anggrek juga tumbuhan obat yang ada di Kintap. Hasil inventarisasi flora dan fauna yang ada di KHDTK Kintap ini diharapkan bisa menjadi salah satu usaha BP2LHK Banjarbaru dalam melestarikan keanakeragaman hayati yang ada di hutan Kalimantan Selatan. (saf)***

Written by :