BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru, Agustus 2018). BP2LHK Banjarbaru ikut berpartisipasi pada Seminar Nasional Silvikultur VI dan Kongres Masyarakat Silvikultur Indonesia V yang diselenggarakan oleh Fakultas Kehutanan, Universitas Halu Oleo. Acara diselenggarakan  di Kendari, 08 – 09 Agustus 2018 dengan mengangkat tema “Penerapan Silvikultur untuk Pangelolaan Hutan dan Pengentasan Kemiskinan”. Acara dibuka oleh Dirjen PHPL KLHK, Dr. Hilman Nugroho dan dalam sambutannya beliau menegaskan bahwa Seminar Nasional Silvikultur VI merupakan forum ilmiah tahunan yang diselenggarakan oleh Masyarakat Silvikultur Indonesia (MASSI). Acara ini merupakan wadah komunikasi ilmiah tentang perkembangan riset dan aplikasi teknik-teknik silvikultur dalam rangka pengelolaan hutan dan pemulihan ekosistem hutan dan lahan.

Perhelatan ini dihadiri oleh sejumlah peneliti BP2LHK Banjarbaru sebagai wujud tanggung jawab ilmiah risetnya. Wawan Halwany, S. Hut, M.Sc, salah satu Peneliti Muda BP2LHK Banjarbaru yang hadir dalam seminar memaparkan hasil penelitian yang berjudul “Survey Lapangan Tanaman Penghasil Gaharu di Kalimantan Selatan” yang masuk dalam Komisi C : Silvikultur Jenis-jenis Unggulan Ekonomi Indonesia. Dalam presentasinya ini Wawan menjelaskan bahwa budidaya gaharu jenis Aquilaria microcarpa di Kalimantan Selatan cukup menjanjikan dengan riap diameter 0,5 – 1,4 cm/tahun dan riap tinggi 53,6 – 103 cm/tahun. Adapun kendala yang dihadapi dalam upaya pengembangan gaharu di Kalimantan Selatan, antara lain tidak terkontrolnya peredaran jenis inokulan yang ada di pasaran. “Banyaknya inokulan gaharu secara bebas tentunya menimbulkan keraguan masyarakat petani gaharu dalam menentukan inokulan yang terstandar” papar Wawan.

“Uji Jenis Tanaman di Lahan Kritis Pasca Tambang Batu Bara di Site Paringin, PT. Adaro Indonesia” merupakan salah satu judul makalah yang dibawakan oleh Rusmana, S. Hut, Peneliti Muda BP2LHK Banjarbaru. Judul makalah ini masuk dalam Komisi D yang fokus pada Silvikultur untuk Restorasi Hutan dan Mitigasi Perubahan Iklim. Rusmana memaparkan bahwa uji jenis (species trial) bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis yang paling sesuai ditanam pada suatu lokasi atau areal tertentu yang direncanakan sebelum melakukan penanaman dalan skala yang luas. Dari uji jenis ini diketahui bahwa pertumbuhan 11 jenis tanaman, yaitu jati, kayu kuku, jabon merah, kayu putih, kemiri, dan karet umur 5 bulan memiliki daya hidup lebih dari 60%.

Sementara itu, Beny Rahmanto, S. Hut, Peneliti Pertama, BP2LHK Banjarbaru dalam seminar ini mempresentasikan makalah dengan judul “Karakteristik Kerusakan Serangan Hama Gigantothrips elegans Pada Tanaman Nyawai (Ficus variegata)” yang masuk dalam Komisi B : Perlindungan Hutan. Dalam presentasinya Beny mengungkapkan bahwa serangan hama penggerek daun pada tanaman Nyawai baik di persemaian dan di lapangan belum mendapat perhatian. Dari hasil riset terungkap bahwa Gigantothrips elegans dari famili Phlaeothripidae teridentifikasi sebagai hama yang potensial menyerang daun tanaman nyawai. Beny memaparkan bahwa di persemaian hama menyerang epidermis daun dan selanjutnya daun akan menguning hingga lama kelamaan daun mengering membentuk titik-titik serangan dengan pola tidak beraturan. Presentase serangan hama thrips ini pada tanaman nyawai sebesar 98,4% dengan intensitas serangan 39,6%. Oleh karena itu, pengendalian serangan hama pada tingkat persemaian perlu segera dilakukan.

Acara yang merupakan wadah komunikasi ilmiah tentang perkembangan riset dan aplikasi teknik-teknik silvikultur dalam rangka pengelolaan hutan dan pemulihan ekosistem hutan dan lahan didukung dan disponsori oleh berbagai pihak.

Selain BP2LHK Banjarbaru, seminar nasional ini juga dihadiri oleh berbagai civitas academika dari berbagai perguruan tinggi yakni Universitas Lampung, IPB, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Sumatera Utara, Universitas Palangkaraya Universitas Mulawarman dan lainnya. Sejumlah instansi pemerintah turut serta dalam seminar ini antara lain Balai Litbang Teknologi KSDA Samboja, Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta, Balai Perbenihan Tanaman Hutan Wilayah II Makasar, BP2LHK Manado, BP2LHK Palembang, Puslitbang Hutan Bogor dan Balai Litbang Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan. DA

Written by :