Abstrak

Perhutanan sosial di areal Perum Perhutani dikenal cukup berhasil memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Melalui program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM), Perhutani memberikan ruang untuk petani pesanggem dapat menanam tanaman semusim di bawah tanaman pokok dengan pola agroforestri. Jenis tanaman agroforestri di beberapa wilayah berbeda dan dipengaruhi beberapa faktor seperti: jenis kelas perusahaan (KP), kesuburan tanah dan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi bagaimana perhutanan sosial di bawah tegakan jati dan kayu rimba di KPH Bojonegoro, Situbondo dan Bondowoso, Propinsi Jawa Timur. Penelitian menggunakan metode non eksperimental dengan mengumpulkan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan narasumber pelaksana PHBM dan data sekunder dikumpulkan dari literatur yang terkait. Perhutanan sosial di bawah tegakan jati ada 3 bentuk yaitu: 1) masyarakat dilibatkan dalam kegiatan pembangunan tanaman jati, 2) masyarakat diberikan ijin menggarap lahan (andil) di bawah tegakan dan 3) sistem sharing atau bagi hasil. Sedangkan perhutanan sosial di bawah tegakan kayu rimba sama seperti pada kelas perusahaan kayu jati, tetapi masyarakat masih dilibatkan dalam pemanenan HHBK. Tumpangsari umumnya dilakukan di bawah tanaman umur 1 sampai 3 tahun, walaupun pada beberapa kasus bisa diperpanjang sampai tahun kelima.

 

Kata kunci : sosial forestri, jati, kayu rimba,agroforestri.

 

Media Publikasi :

Galam Volume 3 No. 1 , Mei 2017.

Penulis :

Reni Setyo Wahyuningtyas