BP2LHK_Banjarbaru (Banjarbaru_10122018) Peneliti senior BP2LHK Banjarbaru, Prof. Acep Akbar kembali menunjukkan eksistensi keilmuannya di kancah internasional. Pada acara “Tropical Peat Ecosystem and Restoration Conference” yang diadakan pada tanggal 21 – 22 November lalu itu, Prof. Acep menyampaikan karya tulis ilmiahnya dengan judul “The Potential for Peatland Villages to Prevent Fire : Case Study of Tumbang Nusa Village Central Kalimantan”.

Dalam presentasinya, Prof. Acep menyampaikan bahwa penelitian tersebut fokus pada aspek pencegahan dengan membangun demplot pemberdayaan berupa pohon balangeran (Shorea balangeran (Korth.) Burck.), gemor (Nothaphoebe coriacea Kosterm.) dicampur nanas (Ananas comosus (L.) Merr.) menjadi sangat potensial untuk meningkatkan produktivitas lahan tidur dengan cara membangun tanaman tanpa membakar atau dikenal dengan istilah persiapan lahan tanpa bakar (PLTB).

Peneliti ahli utama bidang kepakaran Kebakaran Hutan ini menyebutkan bahwa Tumbang Nusa terkenal sebagai desa yang sering terkena bencana kebakaran bahkan sering kali disebut sebagai desa tahan bencana. Sebagian besar penyulut kebakaran hutan yang terjadi di Tumbang Nusa sebagai akibat pembakaran lahan yang tidak terkendali, terutama pembakaran lahan tidur dan pembakaran yang dilakukan oleh pencari ikan.

“Pemberdayaan masyarakat untuk mencegah pembakaran menjadi sangat penting sehingga perlu pengamatan sumber daya desa agar menjadi dasar pemberdayaan masyarakat desa”, kata Acep.

“Sumber daya desa itu sendiri terdiri atas sumber daya alam (SDA) sebagai pendukung sosial di lahan gambut, sumber daya manusia (SDM) sebagai modal sosial, dan sarana prasarana sebagai pendukung kegiatan sosial”, lanjutnya.

Prof. Acep menegaskan bahwa ada 3 poin penting terkait dengan judul penelitiannya yang perlu digarisbawahi oleh pemerintah, yaitu Pertama, Terdapat potensi SDA, SDM, beberapa infrastruktur yang dapat dikembangkan di Desa Tumbang Nusa dalam upaya pemberdayaan masyarakat terutama di bidang perikanan, pengembangan purun (Eleocharis dulcis), berkebun karet, dan agroforestri antara jenis balangeran, jelutung, dan gemor dengan nanas dengan kompensasi masyarakat menjadi pencegah kebakaran hutan dan desanya.

Kedua, Sosialisasi aturan pencegahan yang meliputi aspek sanksi hukum mengenai pelanggaran pembakaran hutan, pelatihan pertanian seperti budidaya jamur merang, beternak lebah kelulut, pembuatan pupuk dari hasil tebasan, pembuatan arang briket dan wood pellet, dan pelatihan pengendalian kebakaran perlu ditingkatkan.

Ketiga, Upaya fasilitasi dari pemerintah diperlukan untuk beberapa bidang usaha masyarakat, meliputi pembentukan kelompok tani purun, budidaya tanaman purun, budidaya ikan lokal dalam kolam beje dan keramba, pengembangan tanaman karet dan jenis agroforestri jelutung dengan nanas atau balangeran dengan nanas dicampur gemor.

“Jadi, dengan adanya kompensasi  yang diberikan, masyarakat diharapkan tidak menyulut api pada kegiatan persiapan lahannya dan yang terpenting masyarakat mampu mematikan api liar secara dini”, tukasnya.

 

Selain Prof. Acep Akbar, peneliti BP2LHK Banjarbaru, Dr. Dony Rachmanadi juga ikut serta berpatisipasi dalam seminar ini dengan membawakan karya ilmiahnya yang berjudul “Planting on Degraded Tropical Peat Swamp Forest at Central Kalimantan: Effects of Inundation, Plant-Shrubs Competition and Light Intensity Level”.

Seminar ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-25 Fakultas Pertanian, Universitas Palangkaraya. Seminar yang bertempat di Hotel Luwansa, Palangkaraya ini mengangkat tema “Understanding the Characteristics of the Tropical Peat Ecosystem and the Effort of Degraded Peat Restoration”. Dalam acara ini telah dipresentasikan sekitar 54 judul makalah dan dihadiri sekitar 100 orang peserta.

Panitia menghadirkan 5 orang keynote speaker, yaitu Ir. Nazir Foead (Kepala Badan Restorasi Gambut), Prof. Dr. Supiandi Sabiham, M. Agr (Ketua Himpunan Gambut Indonesia/IPB), Prof. Susan Page (Universitas Leicester, Inggris), Prof. Mitsuru Osaki (Ketua Himpunan Gambut Jepang), dan Prof. Dr. J. O. Rieley (International Peat Society). *DA

Written by :