BP2LHK_Banjarbaru (Banjarbaru_28012019). BP2LHK Banjarbaru memainkan perannya  dalam pengembangan bandara Syamsudin Noor khususnya terkait manajemen lingkungan. Hal tersebut dilakukan dengan berperan aktif dalam Focus Group Discusion (FGD) dengan tema “Manajemen habitat di Bandara Syamsudin Noor-Banjarmasin . Rabu, 2 Januari 2019 bertempat di Hotel Aston Banua, Banjarmasin.

“Dalam manajemen habitat satwa di bandara, keseimbangan ekosistem tetap harus dijaga. Pemilihan tanaman untuk wilayah sekitar bandara harus memperhatikan jenis-jenis lokal setempat dan juga manfaatnya  yang bukan pakan satwa liar atau burung, “ ungkap Prof. Acep Akbar menanggapi pemaparan Prof. Dr. EKS Harini Muntasib, Guru Besar Fakultas kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor.

Prof. EKS. Harini menyatakan bahwa Pengembangan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin menjadi bandara internasional perlu lebih memperhatikan dan mengantisipasi ancaman gangguan keselamatan penerbangan, diantaranya bird strike dan gangguan satwa liar lainnya. Untuk itu perlu adanya manajemen habitat sehingga satwa liar tidak terkonsentrasi di sekitar bandar udara.

Pengembangan bandara Syamsudin Noor otomatis sedikit banyak memang akan merubah ekosistem sekitar bandara. Kondisi Bandara Syamsudin Noor dan sekitarnya, seperti keberadaan vegetasi alami sisa hutan rawa gambut, vegetasi kebun-pekarangan, sisa-sisa daerah rawa sangat memungkinkan sebagai habitat berbagai jenis satwa.

Dalam rangka mencegah gangguan satwa liar terhadap aktivitas di bandara, maka perlu pembinaan kantong-kantong habitat satwa liar atau ekosistem yang berada di sekitar bandara. Pembuatan ruang terbuka hijau (RTH) dan kolam-kolam sebagai habitat beberapa jenis satwa di wilayah sekitar bandara pada radius tertentu akan mampu mendukung keseimbangan ekosistem dengan tidak menggangu keselamatan penerbangan.

Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan adalah menguatkan sumber daya manusia pengelola, menciptakan kondisi yang tidak disukai oleh satwa liar di dalam bandara dan menciptakan areal habitat baru dalam bentuk hutan kota di di luar bandara.  Kemudian mengintegrasian pengelolaan satwa liar di dalam dan di luar bandara ,kerjasama serta kolaborasi dengan pihak-pihak lain terkait pembinaan habitat di luar bandara

Sebagai informasi FGD ini merupakan kerjasama antara PT  Angkasa Pura I (Persero) dan  Tim Fakultas Kehutanan IPB  sebagai bagian dari kegiatan “Eco-airport”.  Tujuan dari kegiatan adalah menyusun manajemen habitat Bandara Syamsudin Noor-Banjarmasin dengan luaran berupa dokumen manajemen habitat, burung, heterofauna dan mamalia. Hasil dari studi ini diharapkan dapat digunakan sebagai panduan dalam pengelolaan habitat di Bandar Udara Syamsudin Noor-Banjarmasin sehingga dapat mengendalikan terjadinya gangguan satwa liar terhadap aktivitas penerbangan maupun aktivitas lainnya. Acara ini dihadiri oleh beberapa pihak terkait, yaitu  BAPPEDA Kalimantan Selatan, Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel, Dinas kehutanan Provinsi Kalsel, BP2LHK Banjarbaru, TNI Angkatan Udara Syamsudin Noor, Kementerian PUPR Balai wilayah Sungai Kalimantan II, Fakultas MIPA Biologi Univeritas Lambung Mangkurat dan lain-lain.. *** (JND).

Written by :