“Besarnya simpanan karbon pada lahan gambut lebih dari 2.000 ton/ha untuk keseluruhan tipologi yang diukur. Potensi tersebut lebih 5 kali lipat daripada tipe hutan sekunder di lahan kering. Besarnya potensi tersebut sangat diperngaruhi oleh karbon yang tersimpan pada tanah gambut”, ungkap Muhammad Abdul Qirom, Peneliti Muda Balai Litbang LHK Banjarbaru dalam Jurnal Ilmu Kehutanan 12 (2018) 196-211.

Pada tanah gambut, karbon yang tersimpan mencapai 95% dari seluruh gudang karbon yang diukur. sehingga pengelolaan lahan gambut harus memperhatikan gudang karbon tanah.  Hal  ini  di lakukan untuk menghindari emisi karbon yang besar karena kerusakan karbon tanah gambut akibat kebakaran atau dekomposisi tanah gambut, jelas Qirom lebih lanjut.

Balai Litbang LHK Banjarbaru memulai pengukuran simpanan karbon tersebut melalui kerjasama dengan Forest Carbon Partnership Facility dan Pusat Litbang Sosial Kebijakan dan Perubahan Iklim. Pengukuran tersebut menggunakan SNI 7724:2011 tentang Pengukuran dan penghitungan cadangan  karbon – Pengukuran lapangan untuk penaksiran cadangan karbon hutan mensyaratkan lima carbon pool yang diukur yakni biomassa atas dan bawah permukaan, biomassa serasah, biomassa tumbuhan bawah, nekromassa, dan bahan organik tanah.

Mengingat peran utama Lahan gambut dalam penjerapan karbon di hutan tropis. Pengukuran potensi karbon secara langsung diperlukan untuk mendapatkan gambaran besarnya karbon yang tersimpan di lahan gambut pada lokasi tertentu.

“Focus utama  kami melakukan kajian ini yakni mendapatkan kandungan karbon dari beberapa carbon pool (Gudang Karbon) yang digunakan dalam menentukan besarnya simpanan karbon. Selain itu, kajian ini juga akan mengetahui carbon pool yang mempengaruhi besarnya simpanan karbon pada Lahan Gambut, jelas Qirom ketika ditanya tujuan dari penelitian yang dilakukan.

Lebih lanjut Qirom menjelaskan bahwa besarnya kandungan karbon tersebut sangat bervariasi antara gudang karbon. Pada tanah gambut, kandungan karbon tersebut menurun pada lapisan yang mendekati lapisan tanah mineral sehingga faktor konversi yang digunakan harus memperhatikan letak/posisi lapisan gambut yang akan diduga. Hal ini berimplikasi dalam pemilihan faktor konversi biomassa menjadi simpanan karbon.

Qirom juga  mengingatkan bahwa penggunaan faktor konversi yang tidak tepat akan menyebabkan hasil dugaan yang over/underestimate sehingga hasil pendugaan potensi karbon tersebut diragukan ketelitian dan ketepatannya.

Written by :