“Bibit gerunggang dengan ukuran tinggi 21-30 cm dan 31-40 cm menunjukkan adaptasi yang baik terhadap pertumbuhan tinggi setelah ditanam di lapangan. Akan tetapi efeknya terhadap  pertumbuhan diameter batang baru dapat menyaingi bibit berukuran >60 cm setelah 8 bulan, ”, ungkap Reny Setyo Wahyuningtyas, Peneliti Muda Balai Litbang LHK Banjarbaru. 

Lebih lanjut Reny menjelaskan bahwa bibit dengan ukuran tinggi >40 cm cenderung mudah stress yang ditunjukkan dengan tingkat mati pucuk yang lebih tinggi dan menggugurkan daun lebih banyak dibandingkan bibit ukuran yang lebih rendah.

“Walaupun ukuran bibit dengan tinggi <40 cm dianggap kurang siap dalam kondisi genangan, tetapi  hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bibit kecil lebih adaptif menghadapi kondisi ekstrim di lahan gambut”, jelas Reny

Di ruang kerjanya, Reny menjelaskan bahwa rehabilitasi lahan gambut terdegradasi dengan jenis-jenis asli sering terkendala rendahnya kemampuan adaptasi tanaman. Hal ini karena kondisi lahan gambut terdegradasi umumnya terbuka, tergenang pada musim hujan dan kesuburannya rendah.  “ Karenanya kami melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui tingkat adaptasi tanaman gerunggang pada lahan gambut terdegradasi di Kalimantan Tengah”, ungkap Reny dalam Prosiding Nasional Sewindu BPT2BK Mataram pada 1 Oktober 2015.

Hasil penelitian Reni menunjukkan bahwa daya hidup tanaman gerunggang pada umur 8 bulan berkisar 90 sampai 100%. Ukuran bibit ternyata berpengaruh signifikan terhadap pertambahan tinggi tanaman gerunggang di lapangan pada umur 1, 3 dan 8 bulan. Sedangkan pertambahan  diameter dan  jumlah daun hanya menunjukkan pengaruh yang signifikan pada umur 3 bulan saja.

Akan tetapi karena permudaan gerunggang di alam bervariasi, maka perlu diketahui ukuran bibit gerunggang yang adaptif terhadap kondisi lahan gambut terbuka.

Penelitian ini dilakukan dengan menguji beberapa kelas ukuran tinggi bibit dengan kisaran tinggi 10-90 cm terhadap daya hidup dan pertumbuhan awal tanaman di lapangan. Pada ujicoba ini bibit gerunggang ditanam pada kondisi lahan yang tidak tergenang.

Ketika ditanya terkait latar belakang penelitian ini, Reny menjelaskan bahwa  Gerunggang (Cratoxylum arborescens (Vahl) Blume.) merupakan salah satu jenis pioner yang cocok untuk rehabilitasi lahan gambut rusak. Hasil penelitian Saito et al. (2005) menunjukkan bahwa permudaan gerunggang sangat toleran terhadap kondisi terbuka,  penyinaran matahari intensif, suhu tanah tinggi dan kelembaban tanah rendah sehingga cocok untuk jenis rehabilitasi.

Written by :