B2LHK Banjarbaru (Banjarbaru, 5/4/2019), Untuk merestorasi lahan gambut bekas terbakar dan terdegradasi tidaklah sederhana. Kualitas lahan dan kerusakan gambut yang terjadi pada tapak di lapangan mengakibatkan upaya restorasi dengan penanaman banyak mengalami kendala, akhirnya keberhasilan penanaman rendah.  Untuk itu tim peneliti BP2LHK Banjarbaru melakukan penelitian bioremediasi pada media gambut untuk mempersiapkan bibit yang berkualitas.

“ Kendala restorasi di lahan gambut antara lain karena tanah masam, kandungan fospor  (P) yang merupakan unsur hara makro yang diperlukan tanaman rendah. Untuk memanipulasi kondisi tapak tersebut, salah satu cara yang dilakukan adalah remediasi  untuk mempersiapkan tapak tanam yang lebih baik, “ jelas Tri Wira Yuwati, peneliti silvikultur  BP2LHK Banjarbaru.

Untuk menemukan agen hayati lokal rawa gambut, dilakukan eksplorasi di beberapa tempat.  Telah  dilakukan pengambilan sampel di berbagai kondisi tapak, antara lain hutan sekunder, lahan gambut bekas terbakar dan kondisi tapak yang  terbuka dengan vegetasi kelakai.

“Agen hayati yang kami gunakan sebagai bahan biofertilizer ini adalah isolate mikroba unggul dari hasil eksplorasi di hutan rawa gambut . Tahap selanjutnya kami melakukan uji  penyimpanan isolat  untuk mengetahui lama simpan dan efektivitas miroorganisme yang terkandung dalam biofertilizer tersebut. Biofertilizer yang kami kerjakan ada 2 sumber bahan isolat yaitu mikoriza indigenus dan fungi endofit dari lokal rawa gambut juga  ”  ujar  Safinah Hakim, peneliti mikrobiologi  BP2LHK Banjarbaru

“Berdasarkan penelitian kami, telah diketahui bahwa bioremidiasi menggunakan mikoriza arbuskula, bahan pembawa yang paling efektif sebagai pupuk hayati adalah tanah podsolik. Hal ini dikarenakan bahan pembawa mampu menjaga viabilitas spora dan daya infeksi pada tanaman inang. Dari hasil penelitian ini, kami kemas dan siap untuk digunakan dengan nama produk “MYCOPEAT”.

Sedangkan produk bioremidiasi dengan menggunakan fungi endofit, bahan pembawa yang paling efektif sebagai pupuk hayati adalah  tanah gambut. Produk tersebut dinamai dengan   “ENDOPEAT”,  pungkas Tri Wira menambah keterangannya saat berbincang di ruang laboratorium mikrobiologi.

Dari hasil penelitian ini kita tidak berhenti di produk saja, melainkan akan kita uji efektifitas produk “MYCOPEAT”  dan “ENDOPEAT di lapangan. Yang menantang dalam penelitian ini selanjutnya adalah bahwa produk kami ini akan kami uji di lapangan dengan cara paludikultur, yaitu     budidaya tanaman tanpa adanya  drainase pada lahan gambut yang basah atau telah dilakukan pembasahan dengan menggunakan jenis  spesies rawa asli gambut. Akhirnya dapat memberikan manfaat ekonomi serta menghasilkan biomassa yang akan berkontribusi pada pembentukan gambut dalam jangka panjang, ujar Tri  Wira di akhir wawancara. ***(PBS)

Written by :