BP2LHK_Banjarbaru (Banjarbaru_12042019).  Minat masyarakat terhadap makanan dari tepung sagu cukup besar. Tepung sagu memiliki kandungan kalori dan lemak yang lebih rendah jika dibandingkan beras dan terigu. Dengan menambahkan protein dan vitamin untuk memperbaiki kandungan gizinya, maka makanan berbasis tepung sagu sangat baik untuk penderita obesitas. Pati sagu juga tidak cepat meningkatkan kadar glukosa dalam darah (indeks glikemik rendah) sehingga dapat dikonsumsi oleh penderita diabetes  mellitus.

Hal tersebut, menarik perhatian kami untuk mengetahui seperti apa proses pengolahan sagu di Kalimantan Selatan, khususnya di Kabupaten Barito Kuala, Marabahan, ujar Junaidah. S.Hut, MSc, peneliti BP2LHK Banjarbaru.

Jika anda melakukan perjalanan ke kota Marabahan atau lewat lingkar utara, anda akan banyak menemukan jenis tanaman rumbia yang tumbuh di sepanjang pinggir jalan yang dekat dengan aliran sungai. Jenis rumbia atau sagu (Metroxylon sagu Rottb.) memang merupakan jenis tanaman lahan basah yang memiliki banyak kegunaan dan mudah tumbuh tanpa pemeliharaan yang rumit, lanjut Junaidah.

Kami berkunjung ke salah satu lokasi pengolahan sagu yaitu di Desa Pemakuan, Kec. Sungai Tabuk, Kab. Banjar. Disini, sagu masih dikelola dengan sangat sederhana. Teknik pengolahan sagu di Desa Pemakuan ini masih dilakukan dengan skala micro-scale technology yaitu pengolahan sagu dilakukan di sekitar tempat sagu ditebang dengan menggunakan sumber air dari sungai atau danau. Hal ini terlihat dari tempat bahan baku sagu diperoleh terbatas pada daerah-daerah yang mudah dijangkau oleh kelotok atau di tepi sungai sehingga batang sagu mudah diangkut dengan biaya murah. Proses ekstraksi pati sagu juga memerlukan air yang berlimpah dan sungai Martapura merupakan sumber air yang murah dan tidak terbatas, papar Reny Setyo Wahyuningtyas, S.Hut, MSc, Tim Peneliti BP2LHK Banjarbaru menjelaskan.

Umur  panen  sagu  bervariasi  tergantung variasi  jenis  dan  tempat  tumbuhnya. Menurut petani, sagu bisa dipanen pada umur 5 tahun namun ada juga yang dipanen setelah umur 15 tahun. Satu batang sagu rata-rata dapat menghasilkan sekitar 150-250 kg tepung sagu basah. Tepung  sagu  basah  dari  pabrik  pengolahan  sagu  dijual  dengan  harga  Rp

2.850,00/kg  kepada  pabrik  pengeringan  sagu.  Sagu  basah  ini  berbentuk  gumpalan tepung basah yang padat dan keras, sehingga perlu ditapis agar menjadi butiran-butiran halus, kemudian dijemur. Dari sekitar 50 kg tepung sagu basah, dihasilkan sekitar 35 kg tepung sagu kering ayak atau terjadi penyusutan sebesar ± 30%.

Produk yang dihasilkan dari pabrik pengolahan berupa sagu kemasan 50 kg yang akan dikirim ke gudang sagu untuk kembali dikemas menjadi kemasan lebih kecil dan diberikan merk. Pedagang makanan berbasis tepung sagu seringkali membeli sagu basah dari pabrik untuk diolah menjadi makanan setengah jadi dan makanan jadi seperti bubur gunting, bubur ayak, bubur randang, sagu mutiara, cendol dan makanan basah lainnya. Industri kecil ini merupakan konsumen reguler yang rutin membeli tepung produksi pabrik pengolah sagu.

Walaupun industri pengolahan tepung sagu di daerah ini tergolong industri kecil, tetapi mampu menggerakkan roda ekonomi mulai dari petani sagu, pabrik pengolahan tepung sagu, sampai industri makanan kecil. Industri makanan berbasis tepung sagu saat ini masih bertahan, pungkas Reny mengakhiri

Sebagai informasi  areal sagu di Provinsi Kalimantan Selatan cukup luas mencapai 7.857 hektar dengan produksi sebesar 4.511 ton (tahun 2017) atau menduduki peringkat ke-4 di Indonesia setelah Riau, Maluku dan Papua (Anonim, 2016). Di Kalimantan Selatan, sagu banyak terdapat di Kabupaten Tapin, Barito Kuala dan Banjar (Anonim, 2016). Sagu menjadi komoditas yang penting karena wilayah ini banyak terdapat  areal  lahan  basah  yang  memungkinkan  sagu  tumbuh  dengan  baik. (***JND).

Sebagai informasi  areal sagu di Provinsi Kalimantan Selatan cukup luas mencapai 7.857 hektar dengan produksi sebesar 4.511 ton (tahun 2017) atau menduduki peringkat ke-4 di Indonesia setelah Riau, Maluku dan Papua (Anonim, 2016). Di Kalimantan Selatan, sagu banyak terdapat di Kabupaten Tapin, Barito Kuala dan Banjar (Anonim, 2016). Sagu menjadi komoditas yang penting karena wilayah ini banyak terdapat  areal  lahan  basah  yang  memungkinkan  sagu  tumbuh  dengan  baik. (***JND).

Sumber :  Reni Setyo Wahyuningtyas, Junaidah dan Susi Andriani . 2018. Pengolahan Sagu di Desa Pemakuan, Kabupaten BAnjar, Propinsi Kalimantan Selatan. Prosiding Seminar Nasional Teknologi dan Inovasi Industri, Banjarbaru 19 Juli 2019. Baristand.

Written by :