BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru, 26/04/2019). Shiina, siswa dari Jepang dan William dari Australia adalah peserta RePeat (Rehabilitation of Peatland) yang diselenggarakan dalam rangka merayakan Hari Bumi  dalam program Youth Act, 18 April 2019. Pada kegiatan  RePeat kali ini ditanam 300 bibit di KHDTK Tumbang Nusa.

Peserta RePeat dari Green School Bali tersebut mengungkapkan kesan-kesannya setelah melakukan penanaman di lahan gambut bekas terbakar.

“Nama saya Shiina, umur 18 tahun dan saya dari Jepang. Tadi kami ke hutan gambut yang pernah terbakar untuk menanam pohon Balangeran. Disana sangat berlumpur dan kami harus berjalan jauh. Tidak ada satu pun peneduh (dia bilang shade) jadi rasanya sangat panas. Tapi semua itu bernilai (worthy) karena saya bisa melihat hutan gambut yang sangat indah. Saya sangat menyukainnya. Saya senang karena bisa membantu merestorasi hutan gambut di KHDTK Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah.”ungkap Shiina penuh semangat.

“Hello nama saya William. Saya keturunan Australia-Indonesia. Ibu saya orang Kalimantan. Kami tadi menanam pohon di hutan yang bekas terbakar beberapa tahun yang lalu. Kami merestorasi area itu dengan menanam pohon disana. Saya baru pertama kali melihat kondisi hutan yang rusak akibat kebakaran dan  sebenarnya saya sangat sedih melihat hutan menjadi gundul tanpa pohon lagi”, ujar Wiliam bercerita.

Selain menaman pohon, beberapa kegiatan lain yang dilakukan yaitu trip ke lokasi persemaian BPDAS – HL Kahayan, Haze Shelter Tour dan sharing bersama.

Tujuan dilaksanakan kegiatan ini untuk menghijaukan kembali hutan akibat kebakaran . Selain itu juga untuk meningkatkan kepedulian anak-anak muda terhadap lingkungan dan membangun kerja sama antar sekolah lokal dan organisasi lokal dengan sekolah internasional yang sangat peduli dengan lingkungan. 

“Kami sangat berharap gerakan ini dapat membangkitkan kesadaran kita dalam menjaga lingkungan dimana kita tinggal.” demikian kata Sumarni, koordinator kegiatan tersebut.

Sementara itu, Marinus Kristiadi Harun peneliti BP2LHK Banjarbaru yang mewakili Pengelola KHDTK Tumbang Nusa menyampaikan sambutan dan informasi riset yang telah dilakukan.  “ Kami menyambut baik dan berterimakasih atas kehadiran adik-adik semua disini untuk berpartisipasi menanam lahan gambut bekas terbakar di KHDTK Tumbang Nusa”.   

Perlu diketahui,  KHDTK Tumbang Nusa adalah hutan rawa gambut yang 20 tahun tidak terbakar. Nanti adik adik  bisa merasakan bagaimana manfaat hutan rawa gambut yang mampu menciptakan iklim mikro yang nyaman, sejuk, rindang  dan adem dibandingkan dengan tutupan lahan berupa non hutan, tidak ada kanopi pohon, terik dan panas matahari langsung menerpa kita, tanpa adanya filter dari tajuk pohon, lanjut Marinus.

Dari hutan ini dijumpai juga keanekaragaman tumbuhan dan satwa diantaranya 45 lebih jenis burung, tupai, orang utan dan fauna tanah. Disini juga telah dilakukan penelitian dari persemaian sampai restorasi gambut, agroforestry berbasis tanaman lokal Jelutung (Dyera polyphylla) yang merupakan campuran tanaman kehutanan dan pertanian, bisa juga dikombinasikan dengan ternak, lebah madu, kolam ikan dalam beje dengan tujuan untuk meningkatkan pemanfaatan lahan dan pendapatan, jelas Marinus.

 Sebenarnya potensi tumbuhan bawah gambut seperti pakis dan kelakai dapat dimanfaatkan sebagai  bahan baku pupuk organik yang dibutuhkan oleh industri. Dengan pemanfaatan tumbuhan bawah, berarti kita ikut juga mengurangi resiko potensi terjadinya kebakaran di lahan gambut.  Mari kita bersama –sama menjaga gambut. Jaga gambut kita , gambut jaga kita ” Pungkas Marinus mengakhiri sambutannya.

Sebagai informasi kegiatan ini diikuti dari Mapala Silva UPR,  SMP Katolik St Petrus, SMAN 5 Palangka Raya, SMAN 3 Palangka Raya, dan MAN Model Palangka Raya serta sekolah internasional Green School dari Bali.(*PBS).

Sebagai informasi kegiatan ini diikuti dari Mapala Silva UPR,  SMP Katolik St Petrus, SMAN 5 Palangka Raya, SMAN 3 Palangka Raya, dan MAN Model Palangka Raya serta sekolah internasional Green School dari Bali.(*PBS).

Written by :