BP2LHKBJB 13/05/19 — Marinus Kristiadi Harun, MT. MSc Peneliti Muda Balai Litbang LHK Banjarbaru mengungkapkan bahwa , banyak kegiatan penguatan ekonomi yang belum dikembangkan. Alasannya, karena masyarakat belum mengetahuinya. Hal itu terungkap dalam lokakarya bertema ”Mitigasi Menghadapi El Nino 2019 dengan Penguatan Ekonomi” di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis-Sabtu, 2-4 Mei 2019. Kegiatan itu diselenggarakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia Kalteng.

“Di Kalteng banyak sekali tanaman liar seperti Rasau (Pandanus helicopus), sejenis pandan di lahan gambut yang tidak terpakai bahkan dimusnahkan karena dianggap hama. Padahal, rasau memiliki nilai jual tinggi “, ujar Marinus.

Marinus menyebutkan, pihaknya saat ini membuat kelompok-kelompok untuk membudidayakan rasau menjadi kerajinan tangan seperti tali dan bentuk kerajinan lain. Di Wates, Kulon Progo, Yogyakarta, rasau digunakan untuk dibuat tali dan diekspor ke luar negeri. ”Kami beli itu sekarang Rp 5.000 per kilogram. Kami membutuhkan 10 ton rasau yang sudah digiling per minggu,” ucap Marinus.

Nah di lahan gambut, rasau sangat melimpah. Bahkan, semua tumbuhan organik di lahan gambut bisa dimanfaatkan untuk membuat pupuk organik yang nilai jualnya tinggi, sehingga dapat menambah pendaptan masyarakat. Jadi, kalau ekonomi masyarakat sudah bagus, mereka tak akan membakar lagi, itu adalah mitigasi paling baik,” pungkas Marinus.

Terungkap juga dalam diskusi ,salah satu upaya pemerintah mencegah kebakaran hutan adalah dengan mengubah cara bertani masyarakat, dari membakar menjadi pengolahan lahan tanpa bakar.

Upaya penguatan ekonomi dilakukan banyak pihak, baik dari pemerintah maupun lembaga nonprofit seperti WWF. Selain itu pemerintah melalui Badan Restorasi Gambut melakukan upaya revitalisasi melalui paket-paket mata pencarian, seperti budidaya madu hutan, rotan, dan pembuatan pupuk organik. Total selama 2017-2018 terdapat 92 paket revitalisasi di Kalteng. Inovasi paket revitalisasi juga dibutuhkan untuk mengganti kebiasaan masyarakat membakar lahan.

Turut juga hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Meteorologi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Palangkaraya Anton Budiono yang  mengungkapkan, saat ini, El Nino masih berada pada indeks setengah hingga satu atau kategori lemah. Pada bencana asap 2015 lalu, indeks El Nino mencapai tiga (kategori kuat).

Anton menambahkan, pihaknya memprediksi, tahun 2019 fenomena alam itu akan kembali menguat hingga kategori moderat dengan indeks satu hingga dua pada pertengahan April sampai Oktober mendatang. Hal itu membuat musim kemarau akan lebih kering dan terasa lebih panas. ”Dengan indeks demikian, risiko kebakaran hutan dan lahan akan menjadi lebih tinggi,” ucap Anton.

Karenanya penting bahwa fenomena El Nino atau memanasnya suhu muka laut di Samudra Pasifik harus diantisipasi lewat penguatan ekonomi. Pemanfaatan usaha pertanian berbasis masyarakat bisa menjadi kunci. 

Written by :