Galam (Melaleuca cajuputi subsp. Cumingiana) merupakan salah satu tumbuhan kayu asli rawa yang tumbuh pada hutan gambut dangkal. Di Kalimantan Selatan, salah satu sentra penghasil galam adalah Kabupaten Barito Kuala. Pemanfaatan galam oleh masyarakat masih mengandalkan ketersediaan di hutan alam tanpa disertai dengan kegiatan budidaya. Walaupun ketersediaanya semakin menurun di alam, kayu galam ternyata masih menjadi salah satu komoditi yang memberi banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat baik untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan ekonomi.

“Hal ini memotivasi kami untuk mengkaji lebih dalam mengenai aspek sosial ekonomi guna mengetahui status galam di masyarakat sehingga nantinya dapat digunakan sebagai dasar pengembangan galam di masyarakat, khususnya di Kalimantan Selatan”, ujar Adnan Ardana, S. Sos, Ketua tim peneliti BP2LHK Banjarbaru.

“Desa Jejangkit Timur dan Margasari merupakan daerah di Kec. Marabahan yang aktif dengan aktivitas pemanfaatan galam saat penelitian dilakukan” lanjut Adnan. “Sebagian besar warga di kecamatan ini tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari tanpa memanfaatkan galam. Besar permintaan kayu galam menyebabkan sebagian masyarakat memilih untuk berprofesi sebagai “peramu galam”, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang berprofesi sebagai pencari kayu galam di alam”, lanjutnya.

Masyarakat di desa Jejangkit Timur dan Margasari cenderung sangat bergantung pada keberadaan hutan galam. Mereka bekerja sebagai pencari kayu galam karena lebih menjamin terpenuhinya kebutuhan hidup sehari-hari daripada bertani. Lahan pertanian yang mereka kelola umumnya sangat masam sehingga hasilnya kurang memuaskan. Beberapa daerah lainnya di Kalimantan Selatan menjadikan aktivitas mencari kayu galam hanya sebagai pekerjaan sampingan.

“Ketergantungan masyarakat Kalimantan Selatan akan keberadaan kayu galam berbeda dengan masyarakat yang ada di Sumatera Selatan”, ujar Dewi Alimah, S. Hut, anggota tim peneliti BP2LHK Banjarbaru. Dewi menjelaskan bahwa di Sumatera Selatan, sebagian besar pemilik lahan lebih memilih mengkonversi hutan galam yang tumbuh alami di atas lahannya menjadi peruntukan lainnya untuk memberikan kepastian hak kepemilikan (property right) atas sumberdaya lahannya. Meskipun galam mempunyai segmen yang luas di Sumatera Selatan, namun tidak diperhitungkan keberadaannya. Selain harganya yang hanya mencerminkan ongkos distribusi, keberadaan galam masih kalah nilainya dengan jenis-jenis kayu komersil yang sebelumnya pernah tumbuh di areal lahan tersebut. Sementara itu di Kalimantan Selatan, keberadaan galam sebagai objek mata pencaharian masyarakat setempat sangat diperhitungkan. Meskipun saat ini ketersediaanya di alam mulai berkurang, permintaan kayu galam akan tetap ada bahkan terus meningkat dari waktu-waktu.

“Dari hasil pengamatan dan wawancara kepada para pelaku pemasaran yang kami lakukan, ada 6 kelompok pola pemanfaatan galam di masyarakat berdasarkan pada kelas diameter ujung”, Syaifuddin, S. Hut anggota tim peneliti BP2LHK Banjarbaru menambahkan. Syaifuddin menjelaskan bahwa kayu galam berdiameter ujung kecil (2-3; 4-5 cm) pada sebagian besar daerah di Kalimantan Selatan dimanfaatkan sebagai kayu tiang pancang/konstruksi bangunan, ajir, dan pagar. Sedangkan kayu galam berdiameter ujung (6-7; 7-8) biasanya digunakan sebagai kasau, lantai, reng, siring, jalan, belandar, dan penopang lantai pada rumah panggung. Penggunaan kayu sebagai tiang pancang/pondasi secara komersial banyak menggunakan kayu berdiameter sedang (8-12 ke atas).

“Kayu galam ini  telah dibuktikan oleh masyarakat lokal sebagai kayu yang kuat dengan umur pakai yang panjang. Karena menurut masyarakat lokal, bahwa sifat kayu galam semakin kuat dan awet jika digunakan di dalam air atau tanah (sebagai penopang pondasi bangunan di atas rawa)”, imbuhnya.

Dalam pemasarannya, galam dipegang oleh 4 pelaku pemasaran, yaitu peramu galam, pengumpul, pedagang menengah/kecil/pengecer, pedagang besar, dan konsumen yang tersusun dalam 5 pola pemasaran. Pertama Peramu langsung ke konsumen, Kedua Peramu-Pengumpul I-pedagang kecil – konsumen. Ketiga, Peramu-pengumpul I-pedagang besar –konsumen. Keempat, Peramu-pengumpul I-pedagang besar – Pedagang Kecil – konsumen. Kelima Peramu-pengumpul I- Pedagang Kecil – pedagang besar – Pedagang Kecil – konsumen

Aliran nilai pemanfaatan galam alam dari lokasi sampai ke konsumen berbeda tergantung pada panjang pendek aliran/pola dan margin yang diambil oleh setiap pelaku (rantai nilai). Misalnya untuk galam cerucuk (diameter ujung 6-8 cm), ada 4-5 pelaku yang terlibat dalam pemanfaatan galam alam sampai dengan konsumen, yaitu pemilik lahan, peramu, pengumpul, pedagang kecil, dan pedagang besar. Dari analisis margin pemasaran yang diperoleh tiap saluran pemasaran diketahui bahwa peramu dan pengepul mendapatkan margin yang relatif sama dari semua saluran pemasaran yang ada, pedagang besar mendapat margin keuntungan terbesar pada saluran III dan IV sedangkan pedagang kecil mendapat margin keuntungan terbesar pada saluran pemasaran II dan V.

“Secara ekonomi galam alam mampu berkontribusi cukup besar dalam memberikan keuntungan kepada tiap pelaku. Selain itu, pemanfaatan dan tata niaga galam jelas mampu memberikan konstribusi ekonomi, yaitu berupa penyerapan tenaga kerja”, pungkas Adnan mengakhiri.

Sebagai informasi galam ditemukan melimpah di hutan rawa gambut di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan pesisir Sumatera Selatan. Di Kalimantan, sebagian besar asosiasi galam dijumpai pada hutan-hutan rawa gambut rusak di areal bekas Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG). Di Kalimantan Selatan, galam banyak dijumpai di Kab. Barito Kuala, Banjarbaru, Kab. Tapin, Kab. Hulu Sungai Utara, Kab. Hulu Sungai Tengah, dan Kab. Hulu Sungai Selatan. Data Dinas Kehutanan Prop. Kalimantan Selatan mencatat bahwa potensi produksi kayu galam pada tahun 2006 sebesar 55.745,78 m3 dengan jumlah permintaan kayu galam sekitar ±800 juta batang per tahun. Sementara itu, produksi kayu galam di Kabupaten Barito Kuala per tahun mencapai 20.000 m3 sehingga menjadikan kabupaten itu sebagai penghasil galam terbesar di Kalimantan Selatan.**DA

Written by :