BP2LHK_Banjarbaru (Banjarbaru_30092019).  Balai Litbang LHK Banjarbaru, melalui Penelitinya, Marinus Kristiadi Harun, S.Hut., M.Si. bekerjasama dengan Masyarakat Peduli Gambut (MPG) Sukamaju mengajukan Proposal ke Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) Wilayah Kalimantan untuk kemandirian energi, berbasis Biogas. Bahan organik yang akan digunakan sebagai sumber gas methan adalah kotoran sapi dan enceng gondok.

Konsep ini diawali dari melimpahnya ketersediaan kotoran sapi dan enceng gondok yang melimpah di kelurahan Sukamaju, Kec. Landasan Ulin, Banjarbaru, Bahan-bahan tersebut   belum dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat. Hal ini memunculkan ide kreatif dari Marinus, peneliti BP2LHK Banjarbaru  untuk mengolah bahan-bahan tersebut.

Proses pengolahan menggunakan digester biogas berupa tandon bervolume 4 kubik yang terbuat dari fiberglass. Digester tersebut mempunyai lubang masukan (input) dan keluaran (output). Digester ditanam di dalam tanah dengan menyisakan bagian atas dan pipa input dan output.

Prosedur kerja pembuatan biogas adalah kotoran sapi dicampur dengan air dengan perbandingan 1:1 dan dimasukkan ke dalam digester.  Jika bahan berupa enceng gondok, enceng gondok diblender sampai seperti juice kemudian dimasukkan ke disgester. Setelah 7 hari, gas methan akan mengisi kantong udara berupa balon plastik. Lokasi digester merupakan stasiun pengisian biogas. Selanjutnya biogas akan didistribusikan ke warga dengan menggunakan bantal balon volume 1 kubik.

Untuk skala rumah tangga, digester dapat menggunakan tandon air volume 500 liter, atau drum plastik volume 200 liter. Bahan baku sumber biogas berupa kompos dari enceng gondok dan kotoran ternak yang sudah difermentasi dan dicetak berbentuk balok. Saat digunakan, kompos berbentuk balok tersebut dipotong potong dan dimasukkan ke dalam digester. Utuk mempercepat proses fermentasi, ditambahkan larutan biourine. Gas methan yang terbentuk dialirkan ke penampung yang berupa balon plastik, atau ban dalam truk bekas.

Kompos berbentuk kubus sebagai sumber gas methane setelah dicampur dengan biourine di dalam digester. Pembuatan biourin menggunakan urine sapi yang ditambah dengan sereh wangi untuk mengurangi bau menyengat dari urine. Limbah biogas juga dapat digunakan sebagai pupuk hayati (bioslury).

Penggunaan digaster biogas memiliki beberapa keuntungan, antara lain : mudah diaplikasikan, perawatan praktis, memiliki umur yang cukup lama dan menghasilkan nilai tambah dari aspek ekonomi.

Harapan ke depan, dengan adanya pengolahan biogas ini mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar minyak, mampu memenuhi dan menyeimbangkan kebutuhan energi jangka panjang dan yang sangat penting mampu memelihara ekosistem lingkungannya. Salam lestari  ***(JND).

Written by :