BP2LHK Banjarbaru (Banjarbaru 11/10/19). Sepasang rusa sambar (Rusa Unicolor) telah hadir di Edupark Balai Litbang LHK Banjarbaru. Specialnya nama “Enji” untuk si rusa jantan adalah pemberian khusus dari Walikota Banjarbaru, H. Nadjmi Adhani yang sekaligus meresmikan secara langsung Rusa Sambar Edupark pada hari Kamis , 10 Oktober 2019.

Untuk si betina, “Tesha”, nama diberikan langsung oleh Kepala Balai Litbang LHK Banjarbaru, Ir. Tjuk Sasmito Hadi, MSc. Dengan sepasang rusa tersebut diharapkan dapat berkembangbiak  dengan baik dan menjadi tempat edukasi & penangkaran bagi rusa sambar di Banjarbaru.

Sepasang rusa tersebut  berasal dari BKSDA Kalimantan Timur, tepatnya si Enji dari penangkaran rusa Pertamina Balikpapan  dan  si Tesha dari Balai Litbang Teknologi  KSDA Samboja.

Edupark rusa sambar ini adalah bentuk program lingkungan keanekaragaman hayati (Kehati) antara PT. Pertamina DPPU Syamsudin Noor dan Balai Litbang LHK Banjarbaru.

Sebagai Informasi rusa sambar ini merupakan rusa paling besar diantara 4 rusa asli Indonesia lainnya seperti Rusa timor (Rusa timorensis), Rusa bawean (Axis kuhlil), Kijang muncak  (Muntiacus muntjak) dan Kijang kuning (Muntiacus atherodes).

Ciri khas Rusa sambar adalah tubuh yang besar dengan warna bulu kecoklatan dan cenderung berwarna coklat keabu-abuan atau kemerah-merahan, warna gelap sepanjang bagian atas. Rusa yang hidup di Sumatera dan Kalimantan ini dapat tumbuh setiggi 102 – 160 cm dengan panjang tubuh sekitar 150 cm. Berat betina sekitar 135 kg, dan jantan 225 kg. Tanduk rusa sambar juga tergolong panjang dan bisa mencapai tinggi 1 meter.

Untuk status konservasi dari rusa sambar di IUCN Realist dikategorikan dalam “Vulnerable” (VU) : Resiko rendah. Di Indonesia rusa sambar termasuk satwa dilindungi berdasarkan P. 106. MENLHK/SET/KUM.1/12/2018.

Harapannya dengan adanya edupark rusa sambar akan menambah khasanah pengetahuan  bagi siswa, mahasiswa dan juga masyarakat umum di Banjarbaru serta sebagai  bahan riset bagi Balai Litbang LHK Banjarbaru yang selama ini masih jarang melakukan riset terkait fauna.

Written by :