Prof. Riset Acep Akbar menunjukkan kiprahnya sebagai ahli dalam bidang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan.  Selama sebulan terakhir ini ada beberapa kegiatan dimana Acep diminta sebagai pemateri.  10 Oktober 2019 Kantor Sekda Provinsi Kalsel , Acep memaparkan  Resultante hasil analisis SWOT dalam  Rakor untuk pengelolaan kebakaran di Hutan Lindung (HL) Liang Anggang Kalsel, yang digagas oleh Dinas Lingkungan Hidup Propinsi Kalimantan Selatan.

Dalam rakor tersebut Acep menyampaikan hal-hal penting yang harus dilakukan yatu “ pertama Inventarisasi kembali dan petakan adanya pemukiman di sekita HL. Kedua Meningkatkan pemberdayaan relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) yg berbasis penduduk lokal sekitar HL dengan fasilitasi alat, pendampingan biaya operasional dan pelatihan pencegahan dan taktik pemadaman dini kebakaran. Ketiga, Recovery ekosistem gambut tipis dengan jenis setempat seperti Shorea belangiran dan Malaleuca leucodendron/kajuputi. Keempat, bangun sekat bakar sekaligus batas luar mengelilingi HL disertai tata batas. Kelima,.Sosialisasi aturan &status hutan dengan cara persuasif kepada pemukiman sekitar.

“Deteksi dini kebakaran perlu ditingkatkan , terutama pada bulan Juli s/d Oktober setiap tahun disertai tindakan hukum yg tegas. Sistem hidrologi biarkan berjalan alami kecuali pembangunan embung dan saluran parit sebagai stok air dimusim kering”. Demikian pula dengan pembuatan tabat sebaiknya tidak menimbulkan kebanjiran di musim hujan dan tidak berefek kekeringan di musim kemarau pada areal sekitar. lanjut Acep .

Dalam sesi diskusi dibahas terkait kebakaran hutan dan lahan yang terus berulang, Acep menjelaskan, “ pada kejadian kebakaran yg terlanjur besar, diperlukan Standar Operasional Prosedur(SOP) tentang lembaga apa berbuat apa dan siapa Komando Utama operasional pemadaman. Kemudian peralatan pemadam tambahan saat tanggap darurat kebakaran yang terlanjur besar dan luas perlu disediakan.  Untuk pencegahan maka kurangilah muatan bahan bakar halus berupa rumput dan semak saat musim kering di sekeliling batas luar HL”.

Selain sebagai pemateri Prof. Ris. Acep Akbar juga didaulat menjadi moderator dalam Forum Discussion Group (FGD)For Preparation of JICA Verification Survey for Forest and Peatland Fire Project. Forum tersebut merupakan cara untuk menyaring masukan dari para stakeholder terkait rencana kerjasama antara Shabondama Soap & JICA dengan Balai Litbang LHK Banjarbaru terkait penerapan teknologi ramah lingkungan berupa busa sabun untuk memadamkan api di lahan gambut.

Keberadaan seorang ahli dalam bidang pengendalian kebakaran hutan dan lahan sangat diperlukan, karenanya Prof. Ris Acep Akbar kembali diminta menjadi pemateri dalam Rapat Koordinasi tentang  Upaya Mengurangi dampak kebakaran hutan dan lahan tgl 24 Oktober 2019 di hotel Dafam Syariah, Banjarbaru,  yang diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kab. Banjar .

Pada rakor tersebut Acep diminta untuk menjelaskan strategi yg tepat dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan di lahan gambut .  “Khusus di lahan gambut, penyebabnya dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu 1.pembakaran vegetasi baik oleh masyarakat tingkat bawah maupun tingkat pelaku usaha untuk berbisnis dalam suatu lahan. 2. Aktivitas pembakaran akses dalam memanfaatkan sumber daya alam seperti untuk mencari ikan, madu, mencari kayu galam dan hasil hutan lainnya. 3. Pembakaran lahan tidur agar tidak menjadi hutan dan menunjukkan penguasaan lahan”, ungkap Acep.

Selain 3 kelompok penyebab diatas, terdapat faktor pendukung/pengendali kebakaran , yaitu faktor-faktor yang sangat mempercepat proses pembakaran ketika api terlanjur menyala. Ada beberapa unsur pendukung terjadinya kebakaran hutan dan lahan yaitu : 1. Gejala alam Elnino (musim kemarau lebih panjang). 2. Penguasaan Lahan gambut yg luas dan melanggar kearifan lokal 3. Terjadinya dergradasi hutan. 4. Bahan bakar halus d < 2.5 cm yang berlimpah, 5.pertimbangan ekonomi jangka pendek, 6.perubahan karakteristik kependudukan akibat migrasi. 7. Alokasi penggunaan lahan yg tidak tepat. 8. Sifat tanah gambut yang dapat mengalami kering tak balik/ irreversible drying. Faktor-faktor inilah yang harus menjadi perhatian sebelum terjadi kebakaran, jelas Acep lebih lanjut.

“Ketika kebakaran terlanjur muncul, maka Standart Operational Prosedur (SOP) harus dimantapkan. Siapa ketua koordinator saat di lapangan. dan apa yang harus dilakukan baik oleh koordinator maupun oleh satuan regu. Sharing biaya dan peralatan saat di lapangan antara stakeholder utama yang berkewenangan dalam mengendalikan kebakaran dengan lembaga lain yg tugas pokoknya bukan melakukan pemadaman, perlu ditingkatkan”, pungkas Acep.”

Diakhir acara Acep menyimpulkan bahwa dari segi teknis pembasahan gambut saat musim kering bukan menjadi satu2 andalan karena sistem hidrologi lahan gambut lebih dikendalikan oleh kondisi ekosistem utamanya komponen pohon, sehingga revegetasi menjadi sangat penting. Keseimbangan neraca air antara pembasahan alami dengan laju evaporasi dan evapotranspirasi perlu banyak dipelajari. Aspek sosial yang sangat menentukan keberhasilan pemadaman dini dan deteksi dini adalah masyarakat sekitar hutan yang perlu diberdayakan menjadi Masyarakat Peduli Api (MPA). Sinergisitas antar lembaga dalam hal pengadaan dana dan peralatan perlu terus ditingkatkan.

Written by :