The hydrophobicity characteristics and IR spectra of tropical peat soil : Case study of land use change in ex mega rice project Kalimantan” adalah judul makalah poster yang dibawakan oleh Dr. Dony Rachmanadi dalam 7th International Symposium on Soil Organik Matter (SOM2019) yang diadakan di Hilton Adeleide, South Australia. Acara yang diselenggarakan selama 6 hari sejak tanggal 6-11 Oktober 2019 ini dimotori oleh Soil Science Australia, CSIRO bekerjasama dengan Australian Government : Australian Centre for International Agricultural Research, Department of Primary Industries, Grains Research & Development Corporation, Global Research Alliance on Agricultural Greenhouse Gases dan masih banyak lagi.

Dr. Dony Rachmanadi merupakan salah satu peneliti senior di Balitbang LHK Banjarbaru yang sudah puluhan tahun mendedikasikan segenap ilmu, tenaga, dan perhatiannya terhadap pengendalian ekosistem rawa gambut di Kalimantan. Kiprah Dony Rachmanadi terkait berbagai isu mengenai permasalahan di hutan rawa gambut terlihat dari keikutsertaannya secara aktif dalam kegiatan riset dan berbagai kerjasama seperti Living Lab Peat Indonesia, Badan Restorasi Gambut (BRG), ACIAR dalam proyek penelitian “Gambut Kita”, melaksanakan “Workshop Soil Sampling” dan lain-lain. Selain itu, tak jarang Dony didaulat sebagai narasumber dalam pelatihan-pelatihan, FGD, dan berbagai workshop terkait ekosistem rawa gambut.

Dalam presentasinya, Dony mengulas tentang pengaruh perubahan penggunaan lahan pada spectrum FTIR (Fourier Transform Infrared) dan hubungannya dengan hidrofobisitas tanah gambut.

“Pembangunan kanal-kanal besar, deforestasi, dan konversi lahan gambut dalam bentuk Mega Rice Project sejauh ini telah menyebabkan drainase berlebih sehingga menurunkan kualitas lahan gambut hingga karhutla di Kalimantan. Indikatornya adalah peningkatan hidrofobisitas atau pengeringan yang irreversible”, terang  Dony menjelaskan latar belakang makalahnya.

Acara SOM 2019 ini dihadiri oleh ratusan peserta dari 38 negara, antara lain Indonesia, Australia, Amerika Serikat, Belanda, China, New Zealand, Lebanon, Inggris, Jerman, Jepang, dan lain-lain. Pengangkatan tema “Soil Organic Matter in a Stressed World” dalam acara ini dilatarbelakangi oleh arti penting tanah sebagai suatu sistem biologis yang paling komplek di planet ini sekaligus sebagai penopang langsung kehidupan di bumi, dimana bahan organik tanah (SOM) merupakan inti dari pembahasan acara ini. Tema tersebut memiliki 2 tujuan, yaitu 1) memberikan pemahaman yang lebih baik dan mengukur kelestarian fungsi bahan organik tanah dan 2) memberi pemahaman tentang pemicu stres yang berdampak pada stabilitas dan kemampuan bahan organik tanah tersebut dalam fungsinya terhadap ekosistem.

Pada waktu yang hampir bersamaan Dony juga diundang sebagai partisipan oleh Dr. Samantha Grover, Royal Melbourne Institute of Technology University/RMIT University (Melbourne – Australia) untuk ikut serta dalam acara Standard Operating Procedure (SOP) Development Workshop for Peat Soil Physics and Chemistry Analyses. Acara ini merupakan bagian dari ACIAR Project FST 2016 144 Improving Community Fire Management and Peatland Restoration di Indonesia. Workshop diadakan selama 3 hari dimulai tanggal 14-16 Oktober 2019 berlokasi di kampus CSIRO Waite, Adelaide. Penyelenggaraan workshop ini bertujuan untuk membangun metodologi dan mendetailkan SOP secara bersama-sama sehingga analisis kimia dan fisika tanah dapat diterapkan dalam cara yang sama oleh semua anggota tim objektif pada setiap situasi yang berbeda.

“Dalam Workshop ini kita dilatih untuk menerapkan prosedur analisis tanah di laboratorium mulai dari persiapan sampel, analisis hingga interpretasi data”, jelas Dony.

ACIAR Project FST 2016 144 Improving Community Fire Management and Peatland Restoration di Indonesia yang berlangsung dari 2017 hingga 2021 bertujuan meningkatkan pengelolaan kebakaran masyarakat dan restorasi lahan gambut. Diketahui bahwa proyek ACIAR FST 2016/144 memiliki lima objektif. Empat objektif dilakukan melalui penelitian di Kalimantan guna menghasilkan rekomendasi kebijakan sedangkan objektif kelima ditujukan untuk mengelola pengetahuan yang dihasilkan guna dimanfaatkan salah satunya sebagai “penyalur” pengetahuan bagi pihak yang bersinggungan dengan kebakaran lahan dan restorasi gambut.

Written by :