[BP2LHK Banjarbaru] _Hutan rawa gambut tampak rimbun, dan begitu banyak jenis tumbuhan di dalamnya. Lalu terjadilah kebakaran yang hebat. Hamparan hijau berubah menjadi lahan gersang yang kosong. Pertanyaannya, akankah semuanya bisa kembali seperti dulu lagi?

Menurut peneliti Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru, Qirom (nama lengkap?), pemulihan hutan rawa gambut setelah terbakar sangat mungkin terjadi. Campur tangan manusia dalam memulihkan ekosistem diperlukan untuk mempercepat penutupan vegetasi di kawasan tersebut.
“Penelitian saya yang dilakukan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa dan Taman Nasional Sebangau menunjukkan adanya pemulihan hutan rawa gambut pasca terbakar, saya melihatnya terutama dari simpanan karbonnya,” ungkap Qirom saat dihubungi ketika Work From Home (WFH), Rabu (22/4/2020).
Lalu, berapa lama waktu yang dibutuhkan agar ekosistem rawa gambut di sana pulih? Menurut Qirom, kemampuan pemulihan tersebut membutuhkan waktu yang lama dan berbeda-beda, tergantung tempat tumbuh dan tingkat kerusakannya.

“Rata-rata waktu yang dibutuhkan mencapai lebih dari 20 tahun. Kecepatan pemulihan ini sangat tergantung pada selang waktu tidak terbakar, tingkat kerusakan akibat kebakaran, tingkat keparahan kebakaran, kondisi edafik, dan kondisi iklim,” tambahnya.

Untuk itu, Qorim mengajak kita melihat dan belajar dari proses suksesi yang terjadi di KHDTK Tumbang Nusa. KHDTK ekosistem rawa gambut seluas 5.000 hektar ini mengalami kebakaran tahun 2015 lalu dan menghabiskan 50% areanya. Sejak itu, Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru selaku pengelolanya bersama pihak-pihak terkait berupaya mempercepat proses suksesi tersebut dengan melakukan penanaman.

Untuk mempercepat suksesi di sana, salah satu program yang diluncurkan adalah RePeat (Rehabilitation of Peatland). Melalui program RePeat yaitu penanaman kembali lahan gambut bekas terbakar secara sukarela ini, KHDTK Tumbang Nusa ditanami kembali dengan jenis-jenis asli rawa gambut.

Jenis yang paling banyak ditanam adalah belangeran (Shorea balangeran) selain galam (Melaluca cajuputi), pulai (Alstonia pneumatophora, merapat (Combretocarpus cotundatus) dan lain-lain. Hasilnya, tanaman tersebut sudah tumbuh bagus saat ini. Terutama belangeran, tingginya mencapai 2-3 meter, tajuknya mulai menutup rapat dan bersentuhan antara pohon satu dengan lainnya. Bahkan belangeran yang ditanam tahun 2015 sudah menghasilkan anakan dan meregenerasi diri dan melanjutkan suksesi selanjutnya.

Terkait RePeat, Purwanto selaku pengelola KHDTK Tumbang Nusa mengatakan, sejak dimulai tiga tahun lalu, sekitar 23 hektar areal sudah ditanami dalam kegiatan RePeat ini. BP2LHK Banjarbaru membuka diri dan mengajak semua elemen masyarakat untuk berpartisipasi secara sukarela untuk memperbaiki kerusakan hutan rawa gambut pasca terbakar.

“Dengan menanami hutan bekas terbakar ini, masyarakat dapat mengetahui kondisi kerusakan dan kesulitan yang dialami di lapangan. Dengan demikian harapannya akan tumbuh empati masyarakat untuk turut menjaga hutan rawa gambut dari kerusakan yang diakibatkan oleh kebakaran,” kata Purwanto.
Sebagaimana diketahui, suksesi adalah proses perubahan ekosistem dalam kurun waktu tertentu menuju ke arah lingkungan yang lebih teratur dan stabil. Proses suksesi yang terjadi di KHDTK Tumbang Nusa merupakan suksesi sekunder karena terjadi setelah adanya kebakaran, dan pada hutan rawa gambut yang terganggu masih memiliki kehidupan habitat seperti di awal, sebelum terjadi kebakaran.

Jadi, meski bisa pulih kembali, mengembalikan kondisi hutan alam seperti semula tidaklah mudah, dan butuh waktu yang cukup lama. Oleh karenanya, sudah selayaknya kita menjaga dan mencegah kerusakan alam.***

© Katelyn Murphy – Own work, CC BY-SA 3.0 https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=1964618 Gambar Ilustrasi proses dari hutan alam, adanya gangguan hingga terjadi suksesi

Written by :