Menyambut era new normal di tengah pandemi COVID-19 seperti sekarang ini, seminar online atau yang sering disebut webinar (web dan seminar) merupakan istilah yang familiar di telinga, khususnya bagi para pegiat seminar seperti akademisi, peneliti, dan profesi lainnya.  Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Banjarbaru (Balitbang LHK Banjarbaru) juga turut ambil bagian dalam beberapa webinar yang diselenggarakan tersebut. Tri Wira Yuwati, S. Hut, M.Sc , peneliti ahli madya di Balitbang LHK Banjarbaru dipercaya menjadi salah satu narasumber dalam webinar bertajuk “Upaya Perbaikan Tata Kelola Rotan di Kalimantan Selatan”.

Dalam webinar yang diadakan oleh Kagamahut Kalsel (Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Fakultas Kehutanan Pengda Kalimantan Selatan) pada hari Kamis, 11 Juni 2020 ini, Tri Wira Yuwati menyajikan topik tentang jenis-jenis rotan di Kalimantan Selatan. Pada acara tersebut, alumni sarjana Kehutanan UGM angkatan 1995 ini, memaparkan hasil penelitian potensi rotan di Pegunungan Meratus, Kalsel yang dilakukan bersama tim pada tahun 2013 dengan sumber dana konsorsium PUI PHTB ULM. Dalam paparannya, Tri Wira Yuwati menyebutkah bahwa Kalsel memiliki banyak jenis rotan alam, akan tetapi potensinya sangat rendah.

“Adanya degradasi hutan alam sebagai lokasi habitat rotan merupakan salah satu penyebab rendahnya potensi rotan di Kalsel”, terangnya. “Dari sekian banyak jenis rotan yang ada, di Kalsel ini ada satu jenis rotan yang berpotensi untuk dikembangkan, yaitu rotan jernang (Daemonorops draco). Tanpa harus dipanen batangnya, jenis rotan ini sudah mampu menghasilkan pendapatan hanya dari penjualan bijinya. Karena resin jernang yang menempel dan menutupi bagian luar buah rotan jernang ini memiliki nilai ekonomis tinggi di pasaran, yaitu sebagai bahan dasar pewarna vernis, porselin, pewarna marmer, bahan baku llipstick dan pembeku darah”, jelasnya.

Lebih lanjut peneliti yang telah menempuh studi pascasarjananya di Forest and Nature Conservation Master Program, Wagenigen University, Belanda ini menjelaskan bahwa budidaya rotan jernang ini telah dilakukan oleh seorang petani (Pak Kosim) di Desa Hinas Kiri, Kec. Batang Alai, Kab. Hulu Sungai Tengah pada lahan seluas 2 ha.

“Penanaman rotan jernang oleh Pak Kosim ini dilakukan di bawah tegakan/host/panjatan  meranti,  karet, dan gmelina dengan sistem jalur. Penyulaman dilakukan setelah 1-2 bulan dan pemeliharaannya dilakukan tiap 6 bulan sekali”, paparnya.

Dari segi ekonominya, Tri Wira Yuwati menerangkan bahwa rotan Jernang akan berbuah pada kisaran umur 5 tahun keatas dan masa berbuah satu tahun sekali. Setiap pohon akan menghasilkan 2-3 tandan buah yang mana setiap tandannya memiliki berat 0,5 – 1 Kg. Bila dalam satu hektar lahan terdapat 1.200 pohon jernang  dan setiap pohonnya mampu menghasilkan 1.5 kg buah, maka dapat diperoleh 1.800 kg buah. Bila harga per kg buah jernang ini dihargai Rp 50.000,-, maka dapat diperkirakan pendapatan yang diperoleh mencapai Rp 90.000.000,-.

“Jadi, kalau diambil 50% saja dari keuntungan diatas maka didapat keuntungan pertahun  Rp 45.000.0000,-. Pada tahun 2013, Pak Kosim mampu menjual biji jernang ke Riau dengan harga Rp 125.000,- per kg”, imbuhnya. “Jelas bahwa potensi rotan jernang di Kalimantan Selatan ini sangat layak untuk dikembangkan”, tuturnya.

Tingginya antusiasme peserta terhadap webinar ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang ditujukan kepada Tri Wira Yuwati selaku pemakalah. Sebagian besar diantaranya tertarik untuk mengembangkan rotan jernang di wilayah kerjanya dengan menanyakan apakah rotan jernang dapat diusahakan di wilayah kerja yang bersangkutan.

Menanggapi hal ini Djeng Ira, panggilan akrab Tri Wira Yuwati, dengan gamblang menjelaskan bahwa kesesuaian tanaman rotan jernang dengan karakteristik tempat tumbuh perlu diperhatikan. Kondisi iklim mikro di suatu wilayah (intensitas cahaya ± 50%, altitude, kelembaban 60-70%, suhu 28-32oC) menjadi syarat utama habitat tanaman rotan. Keberadaan panjatan/pohon inang juga harus ada dan pada umumnya jenis tanaman rotan ini akan tumbuh subur dan banyak dijumpai pada lokasi yang berdekatan dengan aliran sungai.

Sebagai informasi webinar ini juga menghadirkan narasumber lainnya, yaitu Dr. M. Zainal Arifin, M.Si selaku Kepala BPDAS HL Barito, Ir. Hary Budi Wicaksana, M.Si selaku Kakanwil Bea dan Cukai Kalsel-Teng, dan Ir. Suwarni selaku pelaku usaha industri rotan (Direktur PT. Sarikaya Sega Utama) di Banjarbaru, Kalsel. Webinar ini dihadiri sekitar 300 peserta dari berbagai kalangan seperti lembaga pemerintah baik pusat maupun daerah, peneliti, akademisi, mitra kerjasama, dan masyarakat umum.

Written by :