BP2LHK_Banjarbaru (Banjarbaru_20062020). “Kerjasama dan sinergi dari para pihak terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta restorasi lahan gambut merupakan salah satu kunci keberhasilan pengelolaan lahan gambut. Demikian disampaikan Prof. Acep Akbar dalam acara “Dialog Publik Karhutla dan Restorasi Gambut Kalimantan Selatan”. Acara berlangsung secara daring pada hari Sabtu, 27 Juni 2020 pukul 13.00-16.30 WITA yang difasilitasi oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

Dalam acara dialog tersebut, terdapat 4 narasumber yaitu Direktur WALHI  Sdr. Kisworo Dwi Cahyono, Wakil Sekretaris TRGD Kalsel Sdr. Adenansi, SP. MS, perwakilan POLDA Kalimantan Selatan dan Prof. Acep Akbar dari Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru. Pada kesempatan tersebut, Prof. Acep menyampaikan materi dengan tema “Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut, Faktor Pendukung dan Alternatif Pencegahan”.

Dalam salah satu paparannya, Prof. Acep menjelaskan “Luas lahan gambut di Kalimantan Selatan mencapai 106.271 ha (2,22 % luas gambut Kalimantan) dengan ketebalan gambut kurang dari 300 cm. Faktor pendukung kebakaran antara lain : gejala alam elnino, lahan gambut yang luas yang memiliki sifat kering tak balik, penguasaan lahan yang luas, bahan bakar halus berlimpah, alokasi penggunaan lahan yang tidak tepat, pertimbangan ekonomi cepat, degradasi hutan dan lahan dan  perubahan karakteristik penduduk.”

Prof. Acep merupakan salah satu peneliti BP2LHK Banjarbaru yang telah lama melakukan penelitian terkait karhutla. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Prof. Acep dan rekan-rekan BP2LHK Banjarbaru, pemicu api di lahan gambut di Kalimantan selama 8 (delapan) tahun terakhir adalah (1) pembakaran vegetasi  untuk pembangunan tanaman (baik perorangan maupun perusahaan), (2) Pembakaran dalam pemanfaatan sumber daya alam, dan (3) Pembakaran lahan tidur untuk tujuan kepemilikan. Strategi yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan dan lahan adalah upaya kemitraan dengan masyarakat sekitar hutan dengan membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) dan pendekatan Manajemen Bahan Bakar Halus. Pengendalian kebakaran berbasis masyarakat perlu untuk dikembangkan ke seluruh desa, difasilitasi pelatihan, pengetahuan lingkungan, pembuatan aturan desa dan peralatan pemadaman sederhana (***JND).

Written by :