Oleh: Marinus K harun dan Fauziah

Paludikultur bukanlah konsep baru dalam hal pengelolaan gambut di Indonesia. Hal tersebut telah dilakukan masyarakat Indonesia dengan berbagai varian bentuknya. Di era milenial saat ini menjadi hal penting menjadikan hasil dari paludikultur tersebut dikembangkan dalam bentuk ekonomi kreatif. Hasilnya berupa produk- produk yang syarat dengan kreatifitas dan tentunya diperlukan oleh pasar.

Ekonomi kreatif adalah sebuah konsep di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang utama. Konsep ini biasanya akan didukung dengan keberadaan industri kreatif yang menjadi pengejawantahannya, Ungkap Marinus Kristiadi Harun, S.Hut, M.Si, Peneliti Balai Litbang LHK Banjarbaru dalam presentasinya pada Webinar yang bertajuk Riset, inovasi dan strategi Pengembangan Paludikultur, yang diselenggarakan oleh PaludiFor dan Yayasan Lahan Basah pada Kamis, 9 Juli 2020.

Untuk mendorong kegiatan ekonomi masyarakat berbasis paludikultur, peran  Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) menjadi sangat penting di mana Green Circular Economy Concept harus diterapkan, lanjut Marinus

“Langkah selanjutnya  yaitu membuat masyarakat memahami kondisi sekitarnya dan mendorong untuk berdaya dan mandiri secara lokal, semua itu menjadi kunci utama konsep ini”, tegas Marinus.

Apa saja berbagai ide kreatif pengembangan paludikultur oleh masyarakat,  Marinus mencontohkan seperti peternakan bebek/kambing/sapi secara terpadu, pemanfaatan limbah organik untuk menjadi pupuk organik dan compost block, budidaya lebah, burung walet, ikan hias, pembuatan silase (Pakan ternak yang difermentasi), pemanfaatan serat nanas, pembuatan pelet ikan dan albumin dari ikan rawa.

Konsep kreatif lainnya yaitu pemanfaatan purun sebagai bahan anyaman, sedotan, dan bahan makanan, pemanfaatan teratai untuk bahan tepung dan bahan piring ramah lingkungan, hingga ekowisata kunang-kunang, dan susur sungai.

Intinya saya pribadi sebagai peneliti akan terus memberikan contoh ide kreatif kepada masyarakat, harapannya kedepan masyarakat dapat memunculkan ide-ide kreatif lainnya yang dihasilkan dari lingkungan sekitar mereka, pungkas Marinus mengakhiri presentasinya.

Sebagai informasi acara webinar ini diawali dengan pidato Kunci dari Dr. Haris Gunawan, Deputi Bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut (BRG) dengan Tema “Riset, Inovasi dan Strategi Pengembangan Paludikultur di Era New Normal “. Turut hadir juga sebagai Narasumber .        Ir. Bastoni MSi (Balai Litbang LHK Palembang) dengan Tema  “Paludikultur Dengan Pendekatan Agrosilvofishery Untuk Pengelolaan Lahan Gambut Berbasis KHG”. Muhammad Varih Sovy M.Sc. (Winrock International, anggota PaludiFor) dengan tema ” Strategi pengembangan paludikultur untuk kedaulatan pangan dan restorasi gambut di Era New Normal”. Dan webinar tersebut dipandu oleh Iwan Tri Cahyo Wibisono (Sekretaris PaludiFor dan Manager Konservasi dan restorasi di Yayasan Lahan Basah/Wetlands International Indonesia).

Written by :