Oleh : Prof.Dr. Acep Akbar

Pendahuluan

Peristiwa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dari sejak tahun 1982/1983 di Kalimantan Timur hingga saat ini tahun 2020 belum juga berakhir. Bahkan ada kecenderungan menciptakan Aturan Api (fire regime) baru dengan periode setiap 1-2 tahun. Data menunjukkan bahwa secara alami, semua ekosistem di dunia biosphere ini terbentuk akibat berlangsungnya kebakaran alami sehingga asal api yang memberi ciri khas kepada suatu ekosistem disebut fire regime. Perlu kita ketahui bahwa fire regime yang paling lama dalam aturan api alami adalah lebih dari 300 tahun. Mengapa demikian?. Jika kita analisis nampak bahwa secara umum tidak ada yang kurang dari aspek teknologi dan kelembagaan pengelolaan Karhutla di Indonesia, tetapi pertanyaannya adalah mengapa kejadian kebakaran hutan dan lahan masih terus terjadi terutama di lima wilayah provinsi yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan, bahkan telah muncul pulau pendatang baru mulai tahun 2015 sebagai penghasil hotspot yang cukup besar yaitu Papua dan Sulawesi.

Ketika muncul pandemi virus corona berasal dari kota Wuhan Cina yang dikenal dengan Covid-19, sejak Januari 2020 semua permasalahan selalu ingin dihubungkan dengan ancaman wabah dan upaya penangulangan covid-19. Wabah pandemic tersebut memang masih berlangsung hingga Juli 2020 ini. Ketika permasalahan pandemi covid -19 telah sampai pada tahapan kembali kepada kehidupan normal baru (new normal) pada bulan Juli 2020 setelah melalui karantina wilayah (lock down) dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), kini permasalahan lain yang bersifat laten telah menjadi perhatian pemerintah Indonesia yaitu masalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Munculnya ancaman Karhutla bisa dimaklumi karena musim kebakaran di Indonesia hampir setiap tahun berbarengan dengan berlangsungnya musim kering/kemarau yang biasanya dimulai pada bulan Juli hingga Oktober, bahkan mulainya musim kering bisa lebih awal dan berakhirnya bisa lebih lambat hingga bulan Nopember. Periode tersebut telah dianggap musim kebakaran (fire season) hutan dan lahan.

Adakah hubungan penanggulangan karhutla dengan peristiwa wabah pandemii covid-19, mari kita lihat aspek-aspeknya.

Aspek Penyebab Karhutla Kaitannya dengan Mewabahnya Covid-19

Jika kita melihat penyebab rutin timbulnya Karhutla, kita dapat mengelompokan faktor penyebab tersebut menjadi dua yaitu : (1) Penyulut (trigger) yakni manusia pengguna api di lahan, (2) Faktor pendukung terjadinya Karhutla baik bersifat alami maupun akibat ulah manusia (anthropogenik). Walaupun hasil-hasil penelitian telah diketahui bahwa profil manusia pengguna api yang sering menimbulkan kebakaran akibat kelalaiannya dalam membakar lahan yaitu terdiri dari : (1) Peladang berpindah, (2) Pembukaan akses masuk hutan dan belukar oleh Pemancing Ikan dan Pencari madu, rotan, kayu dan hasil hutan bukan kayu lainnya, (3) Pemburu hewan liar di hutan, (4) Anggota Regu camping ground yang memasak sembarangan, (5) Peternak hewan sistem lepas, (6) Pembakaran sampah pertanian termasuk jerami padi pasca panen, (6) Pembakar sampah domestik di sekitar hutan, dan (7) Pelaku land clearing dari korporasi yang tidak mentaati aturan. Semua pembakaran umumnya dilakukan bukan bertujuan untuk menjadikan kebakaran yang luas melainkan bertujuan untuk membuka lahan pertanian miliknya sendiri, meremajakan rumput pakan ternak pada areal peternakannya, hingga bertujuan mengusir nyamuk dan memasak ikan hasil pancingan.  Para pengguna api di setiap daerah ini berbeda-beda dalam hal cara dan waktu pembakaran. Pembakaran bisa dilakukan pada siang hari dan malam hari. Selama kita tidak mengetahui persis manusia pengguna api yang lalai setelah melakukan pembakaran untuk tujuan tertentu dan manusia yang sengaja melakukan pembakaran yang bersifat criminal (arsonik), maka selama itu pula kita tidak akan mampu menghentikan peristiwa kebakaran tersebut.

Hal yang terpenting bahwa para pengguna api lahan ini umumnya berada di areal sekitar hutan dan bukan masyarakat kota. Masyarakat kota yang juga ikut andil sebagai trigger pembakaran, umumnya adalah pelaku usaha yang menggunakan penduduk lokal di sekitar hutan untuk melakukan pembakaran land clearing pada perusahaan hutan tanaman atau perkebunan dan pembakaran lahan tidur. Akibat keberadaan pengguna api yang jauh dari keramaian dan hiruk- pikuk kehidupan kota, maka timbulnya wabah pandemi covid-19 tidak begitu berpengaruh terhadap aktivitas para pengguna api di desa. Semua kegiatan matapencaharian di desa sekitar hutan berlangsung seperti biasa, bahkan mencuatnya permasalahan covid-19 yang umumnya di kota-kota dapat disalahgunakan oleh pelaku usaha korporasi yang ingin mengejar target pembangunan tanamannya.

Adopsi-adopsi terhadap teknologi pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) oleh masyarakat menengah ke bawah masih sangat rendah walaupun pemerintah belakangan ini telah mulai menyediakan program pemberian bantuan herbisida dan bibit-bibit tanaman tahunan dan musiman melalui sektor-sektor atau lembaga-lembaga pemerintah yang berhubungan dengan penggunaan lahan. Kawasan yang setiap tahun menjadi korban kebakaran terbesar api liar (wild fire) adalah hutan produksi dan areal penggunaan lain dalam tata guna lahan kehutanan. Hal yang lebih parah lagi bahwa sejak tahun 1997/1998, sebagian kebakaran hutan dan lahan pada areal hutan produksi dan areal penggunaan lain tersebut telah memasuki kawasan lahan gambut. Karakteristik kebakaran lahan gambut dicirikan oleh produksi kabut asap yang tebal mencemari udara dan memendekan jarak pandang. Asap tebal yang diproduksi di lahan gambut merupakan hasil proses pembakaran (oksidasi) yang tidak sempurna dari bahan organik yang masih basah. Akibat penyulutan oleh trigger yang mampu mencapai suhu titik bakar pada bahan organik berupa bahan bakar halus seperti rumput-rumput lahan mineral dan rumput pakis di lahan gambut maka lidah api pun terjadi. Proses pembakaran yang telah sampai pada terjadinya lidah api inilah yang dapat menyebar kemana-mana. Akibat proses konveksi, konduksi dan radiasi, api awal akan terus menyebar ke semua arah dimana bahan bakar tersedia. Bahan bakar besar seperti pohon hutan tingkat tiang ke atas sulit terbakar jika tidak terdapat bahan bakar halus (fine fuel). 

Sulit untuk membuktikan bahwa kebakaran dapat terjadi secara alami. Selama ini memang ada trigger alami yang dapat menyebabkan kebakaran seperti : (1) halilintar yang menghasilkan kilatan api yang dapat menghanguskan pohon kelapa yang tinggi. (2) lahar gunung berapi yang masih menyala dan menyebar ke areal berbahan bakar halus ketika gunung meletus, dan (3) proses pembakaran spontan (spontaneous combustion) dari batubara berkelas rendah kalori jika tidak disekat dengan sekat bakar kuning berupa jalur sekat pada lahan yang bebas bahan bakar rumput. Munculnya wabah covid-19 lebih berpengaruh terhadap tindakan pengendalian dari pihak satuan-satuan tugas pengendalian kebakaran baik dari pemerintah maupun swasta akibat kekurangan dana operasional pengendalian yang sebagian dialihkan ke penanganan Covid-19.

Faktor-faktor pendukung terjadinya kebakaran meliputi : (1) gejala alam El Nino penyebab kemarau Panjang, (2) terjadinya degradasi hutan dan lahan yang mengakibatkan terbukanya sinar matahari dan pemanasan bahan bakar mudah terjadi, (3) alokasi penggunaan lahan yang tidak tepat sehingga tanggung jawab kepemilikan lahan menjadi rendah dan jika ada api sering terjadi saling melempar tanggungjawab, (4) penguasaan lahan perorangan di masyarakat sekitar hutan terlalu luas sehingga tidak mampu dikontrol di musim kering, (5) pertimbangan ekonomi untuk mengonversi lahan hutan sering menyebabkan adanya tindakan land clearing dengan pembakaran, dan (6) terjadinya perubahan karakteristik kependudukan yang meninggalkan kearifan lokal dalam disiplin melakukan pembakaran terkendali (prescribe burning).

Aspek Pencegahan dan Penanggulangan Karhutla dengan Teknologi

Saat ini teknologi-teknologi tinggi (high tecknology) yang berhubungan dengan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan sudah berkembang cukup pesat. Perkembangan teknologi tersebut sangat terdukung oleh teknologi informasi yang semakin canggih. Walaupun dana pengendalian kebakaran yang ada di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) telah berkurang akibat pengalihan dana untuk penanggulangan wabah Covid-19, tetapi Kemen LHK tetap dapat mendanai berlangsungnya pelaksanaan modifikasi cuaca oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Provinsi Riau dan Sumatera Selatan, dan akan berlanjut ke Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada tahun 2020.

Peramalan cuaca oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah banyak berhasil memprediksi cuaca dan iklim sehingga secara nasional, cuaca Indonesia telah dapat ditentukan setiap hari, setiap bulan dan setiap tahun. Perlu diketahui juga bahwa semua kearifan lokal masyarakat pedesaan di Indonesia telah mengetahui kapan terjadi musim kering/kemarau dan kapan musim hujan dengan menggunakan tanda-tanda alami.

Teknologi modifikasi cuaca (TMC) telah berhasil diaplikasikan oleh BPPT bekerjasama dengan BNPB dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam memicu turunnya hujan pada musim kemarau. Teknologi Watter Bombing (pengeboman air dari udara) telah berhasil melemparkan air dari sungai dan cadangan-cadangan air lainnya ke pusat-pusat api di areal kebakaran setelah TMC tidak lagi berhasil menurunkan hujan di musim kering.

Teknologi deteksi dini kebakaran dengan menggunakan teknologi Hotspot (titik panas) oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah berhasil memetakan secara real time kondisi titik-titik panas sebagai indikator terjadinya kebakaran. Deteksi melalui satelit ini telah menjangkau semua pulau di Indonesia. Kini teknologi hotspot telah berkembang dari citera satelit beresolusi tinggi oleh satellite NOAA-AVHR menjadi citera satelit beresolusi sedang dengan menggunakan satellite Terra dan Aqua dengan sensor Modis sehingga deteksi titik panas semakin detail.

Semua teknologi tersebut telah didukung oleh kebijakan negara berupa Intruksi Presiden RI nomor 3 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan saat ini.

Strategi yang Tepat Untuk Mencegah Terjadinya Kebakaran

Jika dinilai, pencegahan kebakaran telah menggunakan teknologi canggih, tetapi hanya mendukung penerapan strategi strategi pasang ember ketika rumah bocor bukan menerapkan strategi memperbaiki atau menambal genting sebagai penyebab bocornya rumah akibat air hujan. Sebagai contoh bahwa teknologi modifikasi cuaca, walaupuun teknologi ini cukup canggih dan biaya yang mahal dapat dianggarkan oleh negara dan swasta, tetapi memiliki banyak kelemahan. Awan positif (cumulus) yang mengandung air tidak selalu tersedia untuk disemai dengan CCN (cloud condensation nuclei). Ketersediaan awan hanya ditentukan oleh kalender alami musim basah di Benua Asia dan musim kering di benua Australia. Pada bulan juli hingga Oktober umumnya awan positif tidak tersedia. Disaat inilah teknologi modifikasi cuaca tidak bisa dijalankan sehingga musim kering tetap berlangsung. Terlebih lagi adanya gejala alam El-Nino sering menyebabkan musim kering yang lebih panjang dari biasanya. Beruntung saat ini, menurut ramalan cuaca dari BMKG bahwa hingga bulan Juli 2020 ini masih tersedia awan cumulus untuk distimulir menjadi hujan sehingga upaya melembabkan bahan bakar organik hutan dan lahan dapat berhasil. Istilah ini sering disebut kemarau basah. Bagaimana dengan nasib ketersediaan awan di bulan Agustus, September, dan Oktober?. Kita hanya bisa berdo’a mudahan kemarau basah yang sering disebut gejala alam La-Nina bisa terjadi di tahun 2020 ini sehingga musim Karhutla tidak terjadi.

Strategi yang sesungguhnya tepat untuk diterapkan adalah strategi menambal genting yang bocor, artinya memperbaiki karakter manusia pengguna api di lahan. Manusia pengguna api telah memiliki pengetahuan lokal bahwa ketika musim kering berakhir (antara bulan Agustus-Oktober, mereka segera melakukan persiapan lahan dengan membakar untuk menjelang musim tanam di bulan Desember hingga Februari. Implementasinya adalah semua pengguna api baik peladang tradisional, peternak system lepas, pemancing dan khusus di lahan gambut, Pemancing ikan dan Pecari ikan di Beje, dan lain-lain didata di setiap desa di Indonesia utamanya di 6 provinsi unggulan dalam menghasilkan titik panas. Pembinaan perlu dilakukan kepada mereka. Bantuan dalam melakukan pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) berupa kepeluan intensifikasi pertanian seperti herbisida, pupuk dan bibit unggul secara terus menerus difasilitasi baik oleh pemerintah maupun pihak korporasi kepada para petani tradisional. Kepada Pemburu, Peternak dan Pemancing/Pencari ikan, proyek-proyek pemeritah yang bersifat memberi alternatif matapencaharian tidak menggunakan api sangat diperlukan dan dilakukan secara berkesinambungan. Bentuk-bentuk fasilitasi yang dapat dilakukan adalah berupa pelatihan-pelatihan berbagai macam matapencaharian yang ramah lingkungan seperti beternak lebah madu, pertanian intensif, budidaya jamur merang, beternak burung wallet, domestikasi beje menjadi di sekitar rumah dan lain-lain. Yang terpenting adalah bagaimana merekayasa sosial manusia pengguna api di desa-desa dari Pengguna Api menjadi pencegah dan pemadam api liar (wild fire) secara dini. Kendatipun berbagai teknologi canggih dapat diterapkan untuk mengantisipasi Karhula, jika penyulut api di lahan-lahan dan hutan tetap berlangsung, maka titik-titik api akan tetap bermunculan yang menghasilkan api-api liar baru menjadi kebakaran yang luas. Adanya peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor 32 tahun 2016 yang mengarah ke pengendalian kebakaran berbasis masyarakat dengan membentuk Masyarakat Perduli Api di desa-desa, masih perlu ditindaklanjuti dengan implementasi pendataan penduduk pengguna api di lahan di setiap desa di Indonesia diikuti implementasi rekayasa sosial menuju matapencaharian ramah lingkungan.

Perusahaan-perusahaan yang masih melakukan pelanggaran dengan melakukan land clearing menggunakan api perlu terus diberikan sangsi penegakan hukum (low enforcement) yang berefek jera agar penyulut api dari pihak korporasi dapat segera dihilangkan. Uji kepatuhan bagi korporasi dengan mengecek organisasi Satgasdalkarhut, sarana prasarana kebakaran, sistem peringatan dini (early warning system) dan kalender musim kegiatan yang dimiliki di setiap unit kelolanya perlu terus dilakukan.

Written by :